People Innovation Excellence

Membina Nusantara ‘a la’ Psikologi BINUS (5)

Seri perjalanan Membina Nusantara dilanjutkan ke Depok, Jawa Barat, 8-10 Agustus 2019 dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia dan Forum Pengelola Jurnal Psikologi Indonesia (FPJPI).

Juneman Abraham

Dr. Juneman Abraham (D3728)

Kementerian Ristekdikti memiliki program pendampingan dan percepatan akreditasi jurnal ilmiah, khususnya dalam menegakkan implementasi Standar Nasional Pendidikan Tinggi, serta regulasi lain yang terkait, yang mensyaratkan:

  1. Bahwa mahasiswa program Magister dan Doktor Terapan wajib menerbitkan 1 makalah di jurnal ilmiah terakreditasi, atau yang setara, sebagai syarat kelulusannya;
  2. Bahwa Lektor Kepala wajib publikasi paling sedikit 3 karya ilmiah dalam jurnal ilmiah terakreditasi, atau yang setara, guna mempertahankan tunjangan profesi dosen.

Data terbaru yang saya peroleh dari SINTA (Science and Technology Index), terdapat 37 (tiga puluh tujuh) jurnal ilmiah dengan objek kajian psikologi yang sudah terakreditasi nasional, berdasarkan daftar 1, daftar 2, daftar 3, daftar 4, daftar 5, daftar 6, daftar 7, daftar 8, daftar 9, dan daftar 10, dengan rincian sebagai berikut (saya gali datanya pada 11 Agustus 2019):

Terakreditasi SINTA-2 (S2):

  1. Anima Indonesian Psychological Journal (Ubaya)
  2. Jurnal Psikologi Sosial (UI & IPS HIMPSI)
  3. Makara Hubs-Asia (Human Behavior Studies in Asia) (UI)
  4. Journal of Educational, Health, Community Psychology (UAD)
  5. Humanitas: Indonesian Psychological Journal (UAD)
  6. Psikopedagogia (UAD)
  7. Jurnal Psikologi (Undip)
  8. Jurnal Psikologi (UGM)
  9. Buletin Psikologi (UGM)
  10. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi (UIN Walisongo)

Terakreditasi SINTA-3 (S3):

  1. Psikologika : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi (UII)
  2. Jurnal Psikologi (UIN Sultan Syarif Kasim Riau)
  3. Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi (UIN SGD)
  4. Jurnal Kajian Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling (UNM)
  5. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan (UMM)
  6. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA (UMA)
  7. Psikis: Jurnal Psikologi Islami (UIN Raden Fatah)
  8. Jurnal Psikologi Ulayat: Indonesian Journal of Indigenous Psychology (UPH & KPIN)
  9. Jurnal Ecopsy (Unlam)
  10. Konselor (UNP)

Terakreditasi SINTA-4 (S4):

  1. Persona: Jurnal Psikologi Indonesia (UNTAG Surabaya)
  2. Jurnal Intervensi Psikologi (UII)
  3. Indigenous: Jurnal Ilmiah Psikologi (UMS)
  4. Guidena: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling (UM Metro)
  5. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan (Unesa)
  6. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi (IAIT Kediri)
  7. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Insight (Unmuh Jember)
  8. Psikoislamedia Jurnal Psikologi (UIN Ar-Raniry)
  9. Intuisi: Jurnal Psikologi Ilmiah (Unnes)
  10. Mediapsi (Unibraw)
  11. Jurnal Studia Insania (UIN Antasari)

Terakreditasi SINTA-5 (S5):

  1. Psikoislamika : Jurnal Psikologi dan Psikologi Islam (UIN Maliki)
  2. Jurnal Ilmiah Psikologi : Psycho Idea (UMP)
  3. Psikologia (Jurnal Psikologi) (Unmuh Sidoarjo)
  4. Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi (Universitas Paramadina)
  5. Developmental and Clinical Psychology (Unnes)

Terakreditasi SINTA-6 (S6):

  1. Psikologi dan Konseling (Unimed)

Dengan perkataan lain, secara rerata, sudah lebih dari 40% jurnal ilmiah psikologi terakreditasi nasional, dari total lebih dari 80 jurnal ilmiah di bidang psikologi,

Berdasarkan pangkalan data Forlap Ristekdikti, saat ini terdapat 47 (empat puluh tujuh) Program Studi Psikologi jenjang Magister, dengan jumlah mahasiswa aktif  sebanyak 5.959 (lima ribu sembilan ratus lima puluh sembilan) orang, berdasarkan Data Pelaporan Tahun 2018/2019 (lihat Lampiran di akhir tulisan ini).

Dengan asumsi bahwa 1 (satu) nomor jurnal memuat secara rerata 5 (lima) buah artikel, maka dibutuhkan 1.191,80 (seribu seratus sembilan puluh satu koma delapan nol) nomor jurnal selama masa studi mahasiswa Magister Psikologi.

Dengan asumsi bahwa rerata masa studi tersebut adalah 2,5 (dua setengah) tahun, maka setiap tahunnya dibutuhkan 476,72 (empat ratus tujuh puluh enam koma tujuh dua) nomor jurnal.

Apabila satu volume jurnal per tahun mampu menerbitkan 2 nomor, maka secara “kasar” dibutuhkan 238,36 (dua ratus tiga puluh delapan koma tiga enam) jurnal ilmiah berbidang ilmu psikologi yang berakreditasi nasional sebagai kanal karya ilmiah mahasiswa Magister Psikologi. Hal ini mengasumsikan bahwa mereka akan menerbitkan karya ilmiahnya bersama dengan dosen pembimbing tesis mereka, termasuk yang memiliki jabatan akademik Lektor Kepala.

Dengan perkataan lain, Program Studi Psikologi secara nasional saat ini masih kekurangan  202 (dua ratus dua) jurnal ilmiah berakreditasi. Apabila rerata masa studi Magister diandaikan 3 (tiga) tahun, maka setiap tahun dibutuhkan 397,27 nomor jurnal, atau 198,64 jurnal ilmiah, atau kita kekurangan 162 (seratus enam puluh dua) jurnal ilmiah berakreditasi.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, penyelenggaraan kegiatan percepatan akreditasi bagi jurnal-jurnal ilmiah psikologi nasional yang belum berakreditasi sangat strategis.

Kegiatan kali ini, yang diketuai penyelenggaraannya oleh Jurnal Psikologi Sosial – Universitas Indonesia, dalam koordinasi Joevarian Hudiyana & Muhammad Abdan Shadiqi ini, terasa sangat istimewa, karena:

  1. Dihantar dan dibuka secara langsung oleh Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc.,  Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemristekdikti, dan Prof. Sri Hartati D. Reksodiputro Suradijono, Ph.D., Plh. Dekan Fakultas Psikologi UI, sekaligus Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan.
  2. Dihadiri oleh para pengelola dari 33 (tiga puluh tiga) jurnal ilmiah psikologi yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia.
  3. Pemaparan materi “Kebijakan Kemenristekdikti dalam pengelolaan jurnal ilmiah Indonesia & Teknis pengajuan akreditasi nasional jurnal ilmiah” dibawakan langsung oleh Dr. Lukman, S.T., M.Hum. selaku Kasubdit Fasilitasi Jurnal Ilmiah Kemristekdikti.
  4. Pada hari ke-3 dilakukan pertemuan FPJPI dengan agenda utama pembentukan Asosiasi Pengelola Jurnal Psikologi, dengan Tim Formatur, Dr.phil. Edo Sebastian Jaya,  Triantoro Safaria, Ph.D.,  Arini Widyowati, M.Psi.,  Sartana, S.Psi., M.Si.,  Rosleny Marliani, S.Psi., M.Si., yang selanjutnya disepakati sebagai pengurus pertama organisasi ini.
  5. Adapun saya sebagai Asesor Substansi hadir  pada hari ke-1 dan hari ke-2 bersama Triantoro Safaria, Ph.D. Bersama kami, sebagai Asesor Manajemen adalah Budi Setiawan dan Moh. Fauziddin.

 

Berkaitan dengan Pembentukan Asosiasi Pengelola Jurnal Psikologi (APJP), saya selaku pribadi memiliki pemikiran bahwa APJP akan menjadi garda sains (atau science guardian, science sentinel) psikologi Indonesia.

Merujuk sejarah organisasi profesi psikologi di dunia, sejumlah anggota American Psychological Association (APA) sempat tidak puas dengan organisasi ini. Periode ini dikenal sebagai masa-masa Ketegangan ketiga, dalam hal mana APA menekankan “pendidikan yang berorientasi praktik”, serta Ketegangan keempat, dalam hal mana terjadi ketegangan antara kaum akademisi dan kaum praktisi, yang berujung pada pengunduran diri kelompok akademisi (scientists dan scientist-practitioners) dan pembentukan asosiasi baru, yakni Association for Psychological Science (APS). Ketegangan-ketegangan itu telah dipandang secara positif sebagai dinamika historis keorganisasian yang membawa pada pertumbuhan dan kematangan organisasi profesi psikologi; tanpanya, organisasi menjadi statis.

Dalam pandangan saya, APJP dapat didambakan menjadi harapan baru bagi ilmuwan psikologi untuk menggiatkan sains psikologi di Indonesia. APJP tidak mesti–dan juga tidak perlu–memisahkan diri dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Bahkan, APJP dapat mengusulkan diri untuk bernaung dalam HIMPSI. Dalam hal ini, APJP dapat menjadi penyeimbang, mengingat–tidak dapat dipungkiri–telah lama beredar anekdot dalam komunitas psikologi bahwa kalangan anggota HIMPSI yang merasakan benefit keanggotaan lebih banyak adalah psikolog praktik–notabene karena pengurusan Izin Praktik & pemertahanannya melalui satuan kredit profesi–dibandingkan ilmuwannya.

Saya sendiri merupakan Anggota Pengurus HIMPSI sejak lebih dari satu dekade yang lalu, tahun 2008, dan saat ini menjadi Anggota Pengurus Pusat HIMPSI, tepatnya sebagai Ketua Kompartemen Riset dan Publikasi, sehingga kesadaran akan anekdot yang saya lukiskan tersebut lebih saya terima sebagai otokritik bagi pengurus HIMPSI, termasuk saya di dalamnya.

Dalam rangka itu, pada Hari ke-2 sebelum saya meninggalkan Hotel Bumi Wiyata, Depok, tempat berlangsungnya acara pendampingan dan percepatan akreditasi (karena saya berhalangan untuk hadir di Hari ke-3), saya telah mengusulkan dalam sebuah diskusi informal dengan sejumlah rekan, agar nama asosiasi ini menjadi:

Asosiasi Jurnalis & Ilmuwan Psikologi Indonesia

(atau disingkat: AJIPI).

Adapun 3 (tiga) buah dasar pikiran yang saya ajukan adalah sebagai berikut:

Pertama, kata Jurnalis ada untuk menekankan bahwa Asosiasi ini secara historis berawal dari rintisan para pengelola jurnal ilmiah. Kata ‘Jurnalis’, arti dasarnya memang adalah pewarta, atau wartawan. Kendati demikian, dari ilmu bahasa, kita mengetahui bahwa sebuah kata selalu dapat dikembangkan dan dimuati secara semantik. Yang dimaksud dengan Jurnalis dalam konteks usulan ini adalah Pengelola Jurnal Ilmiah. Menurut Merriam-Webster Dictionary: Journalist didefinisikan sebagai ‘a person who keeps a journal’; makna ini relatif bebas dari konotasi jurnalisme atau jurnalistik yang melekat pada pewarta atau wartawan. Sedangkan journal bisa bermakna jurnal ilmiah, didefinisikan sebagai ‘a periodical dealing especially with matters of current interest, an academic journal’.

 

Kedua, kata Ilmuwan disebutkan untuk menekankan bahwa Sarjana Psikologi (S.Psi.), Magister Sains Psikologi (baik M.Si. maupun M.Psi.), serta Doktor Ilmu Psikologi (Dr.) sangat disambut dalam Asosiasi ini. Psikolog praktik juga sangat diharapkan bergabung, apabila memiliki perhatian yang besar terhadap pengembangan sains psikologi Indonesia. Mengapa Asosiasi … Ilmuwan, bukan Asosiasi … Peneliti Psikologi? Karena Peneliti adalah profesi tersendiri yang diregulasi oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Dengan kata Ilmuwan, dimaksudkan menjangkau S.Psi. yang belum tentu Peneliti, akan tetapi sudah diatur dalam AD/ART HIMPSI dapat menjadi anggotanya.

Ketiga, untuk pengelolaan jurnal, sesungguhnya ada dua dimensi yang perlu diperhatikan, yakni dimensi Manajemen dan dimensi Substansi. Pada dimensi Manajemen atau Pengelolaan Jurnal,  komunitas pengelola jurnal Indonesia (dalam berbagai bidang ilmu, tak terkecuali psikologi) sudah memiliki Relawan Jurnal Indonesia (Indonesian Journal Volunteers), yang sangat membantu kita dalam hal OJS (Open Journal System), custom jurnal, DOI, hosting, cek similaritas, kerjasama penyelenggaraan konferensi, bahkan indeksasi DOAJ, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, apabila forum pengelola jurnal psikologi hendak dilegal-formalkan, maka saya berpandangan, fokus nama asosiasi ini perlu lebih merepresentasikan atau mencerminkan dimensi keilmuan psikologi, bukan (hanya) pengelolaan jurnal.

Alasan Kedua di atas muncul berdasarkan amatan bahwa selama ini yang S.Psi. menyimpan sebuah tanda-tanya yang besar, apakah kewargaan (citizenship)-nya dan benefit-nya bergabung dalam HIMPSI; bahkan banyak juga yang bertanya, “Apakah S.Psi. dapat menjadi anggota HIMPSI?”.

Saya berharap, jika AJIPI (Asosiasi Jurnalis dan Ilmuwan Psikologi Indonesia) bernanung dalam HIMPSI, maka S.Psi., yang jumlahnya sangat masif dan baru menyelesaikan karya ilmiah berupa skripsi itu (sehingga recency effect-nya sebagai kaum ilmuwan psikologi masih terasa), tidak memiliki keraguan lagi untuk bergabung dalam HIMPSI. Hal ini karena dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HIMPSI yang terbaru, frasa Ilmuwan Psikologi masih termaktub. Oleh karenanya, sudah selayaknya diadakan wadah yang lebih dikuatkan bagi para Ilmuwan (khususnya S.Psi.) di dalam HIMPSI, sehingga ketika bergabung, mereka langsung memiliki hak dan kewajiban sebagai anggota HIMPSI, termasuk membantu mengembangkan jurnal ilmiah psikologi dengan cara-cara baru dan segar, terkhusus dari dimensi keilmuan (kita sungguh memerlukan banyak SDM untuk hal ini).

Segelintir wilayah (chapter) dan asosiasi dalam HIMPSI memang memiliki kompartemen khusus yang menangani pengembangan keilmuan. Dalam hal ini, AJIPI dapat berperan sebagai mitra atau juga koordinator tingkat pusat–bila dibutuhkan. Saya menyebut ‘bila dibutuhkan’ karena kegiatan keilmuan selalu memiliki kebebasan akademik dan otonomi keilmuan. Yang jelas, AJIPI dapat melamar hibah konferensi ilmiah Kemristekdikti sebagai himpunan profesi jika sudah menjadi badan formal.

Akhirulkalam, saya mengucapkan selamat mengemban amanah kepada teman-teman pengurus dan anggota asosiasi pengelola jurnal psikologi yang baru terbentuk pada 10 Agustus 2019.

Selamat dan sukses!

 

Penulis: Dr. Juneman Abraham, S.Psi.

Lampiran: Data Prodi Magister Psikologi

No. Kode Prodi Nama Program Studi Jenjang Status Perguruan Tinggi Data Pelaporan Tahun 2018/2019
Jml Dosen Tetap Jml Mhs Rasio Dosen Tetap/Jumlah Mahasiswa
1 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Persada Indonesia Yai 6 81 1 : 13.5
2 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Persada Indonesia Yai 8 517 1 : 64.6
3 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Mercu Buana Yogyakarta 3 112 1 : 37.3
4 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Mercu Buana Yogyakarta 3 300 0,111111111
5 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Padjadjaran 7 22 1 : 3.1
6 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Padjadjaran 6 170 1 : 28.3
7 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Semarang 0 0 01:00
8 86111 Psikologi Pendidikan S2 Aktif Universitas Pendidikan Indonesia 6 73 1 : 12.2
9 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Surabaya 4 64 01:16
10 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Surabaya 4 132 01:33
11 73101 Magister Psikologi S2 Aktif Universitas Gadjah Mada 10 25 1 : 2.5
12 73103 Magister Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Gadjah Mada 11 351 1 : 31.9
13 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah 7 120 1 : 17.1
14 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Kristen Satya Wacana 7 48 1 : 6.9
15 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Katolik Soegijapranata 8 59 1 : 7.4
16 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Katolik Soegijapranata 3 254 1 : 84.7
17 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Sumatera Utara 10 94 1 : 9.4
18 73101 Psikologi Sains S2 Aktif Universitas Sumatera Utara 4 40 01:10
19 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Airlangga 8 66 1 : 8.3
20 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Airlangga 3 191 1 : 63.7
21 73102 Psikologi Terapan S2 Aktif Universitas Airlangga 7 6 1 : 0.9
22 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Muhammadiyah Malang 5 95 01:19
23 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Muhammadiyah Malang 6 91 1 : 15.2
24 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Negeri Yogyakarta 6 30 01:05
25 73101 Psikologi S2 Tutup Universitas Islam Indonesia 0 0 01:00
26 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Islam Indonesia 7 222 1 : 31.7
27 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Indonesia 12 102 1 : 8.5
28 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Indonesia 11 235 1 : 21.4
29 73104 Psikologi Terapan S2 Aktif Universitas Indonesia 5 113 1 : 22.6
30 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Medan Area 9 310 1 : 34.4
31 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Kristen Maranatha 6 13 1 : 2.2
32 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Kristen Maranatha 5 55 01:11
33 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya 6 42 01:07
34 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya 6 84 01:14
35 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Gunadarma 6 91 1 : 15.2
36 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Gunadarma 8 173 1 : 21.6
37 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Tarumanagara 6 16 1 : 2.7
38 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Tarumanagara 5 140 01:28
39 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Muhammadiyah Surakarta 6 168 01:28
40 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Muhammadiyah Surakarta 6 153 1 : 25.5
41 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Islam Bandung 0 0 01:00
42 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Islam Bandung 4 195 1 : 48.8
43 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau 7 13 1 : 1.9
44 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 6 276 01:46
45 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya 6 267 1 : 44.5
46 73101 Psikologi S2 Aktif Universitas Ahmad Dahlan 5 219 1 : 43.8
47 73103 Psikologi Profesi S2 Aktif Universitas Ahmad Dahlan 3 131 1 : 43.7

 

 

 

 

 


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close