PSYCHOTECHNOLOGY WEBINAR SERIES: “Application of Vygotsky & The Sociocultural Approach in Daily Life “

 

Pada Jumat 26 Maret 2021, penulis mengikuti psychotechnology webinar series  yang diselenggarakan oleh Jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara. Topik untuk psychotechnology webinar series pertama pada semester ini ialah Application of Vygotsky and The Sociocultural Approach in daily life yang dibawakan oleh pembicara tamu: Bapak Edward Andriyanto Sutardhio, M.Psi., Psikolog. Saat ini beliau tengah menjabat sebagai salah satu staf bidang studi Psikologi Perkembangan di Universitas Indonesia. Selain itu, beliau juga merupakan co-founder dari LENTING, sebuah biro yang memiliki tujuan untuk mensosialisasikan konsep-konsep psikologi ke masyarakat khususnya terkait dengan trauma.Acara ini dihadiri oleh Dosen dan 214 mahasiswa mata kuliah Theories of Developmental in Pstchology juga mahasiswa psikologi di luar mata kuliah tersebut.

Pembukaan acara dilakukan oleh Mrs. Angela Dyah Ari Pramastyaningtyas, B.A., M.A., Ph.D. dengan memberikan sambutan hangat kepada Bapak Edward. Bapak Edward membuka topik bahasan dengan menunjukkan urutan bagian topik yang dibahas dari tokoh psikologi Vygotsky yaitu, pertama membahas tentang biografi dari tokoh, kedua tokoh yang mempengaruhi terbentuknya teori Vygotsky, ketiga membahas tentang teori dari Vygotsk, dan terakhir membahas tentang contoh aplikatif dari teori Vygotsky.

Setelah itu, sebelum beranjak kepada bahasan biografi dari Vygotsky, Bapak Edward memaparkan salah satu kutipan yang menggambarkan Vygotsky yang menyatakan bahwa melalui orang lain, kita menjadi diri sendiri. Makna dari kutipan tersebut kemudian dijelaskan oleh Bapak Edward bahwa menurut pandangan Vygotsky manusia tidak bisa kita menjadi diri sendiri atau menjadi lebih baik lagi dari diri kita saat ini tanpa belajar dari orang lain. Proses tersebut bisa ditemukan saat kita sedang berbincang-bincang dengan teman lain dan saling bercerita, yang mana dari proses tersebut dapat dibilang kita belajar tentang teman lain juga diri sendiri.

Bapak Edward kemudian melanjutkan bahasan materi terkait dengan biografi dari Vygotsky. Vygotsky dengan nama lengkap Lev Semyonovich Vygotsky lahir pada tahun 1896 dan kebetulan dia lahir ditahun yang sama dengan Jean Piaget yang juga merupakan salah satu tokoh psikologi terkenal. Vygotsky dapat dibilang tokoh yang sangat cerdas, karena dia gemar sekali membaca dan pada usia 15 tahun dia memimpin diskusi dan debat dengan para sarjana di tingkat universitas. Seringkali saat diskusi dan debat tersebut para sarjana kalah dengan Vygotsky sehingga Vygotsky dikenal sebagai profesor cilik saat itu. Pada tahun 1913, Vygotsky kuliah di Moscow University mengambil kedokteran saat itu, namun di tengah masa perkuliahan tahun pertamanya  dia putus dan kemudian melanjutkan studinya di fakultas hukum dalam universitas yang sama hanya tiga tahun. Kemudian, di tahun yang sama dia berkuliah di fakultas hukum, dia juga berkuliah dengan program studi sejarah dan filsafat di Shanyavsky University dan dia lulus tepat waktu dari ketiga program studi yang diambilnya saat itu.

Bapak Edward menjelaskan bahwa Vygotsky pada tahun 1924 berkenalan dengan Alexander Luria yang kemudian menjadi teman dekatnya yang merupakan seorang neuropsikolog. Saat itu Vygotsky diajak Alexander Luria untuk mengajar psikologi, karena ajakan tersebut ketertarikan Vygotsky terhadap psikologi pun mulai muncul. Vygotsky akhirnya mulai mengajar psikologi pada tahun 1926. Vygotsky pada tahun 1930 diasingkan karena dianggap sebagai psikolog borjuis (pro Eropa barat) oleh Uni Soviet karena hasil karya Vygotsky dianggap mirip dengan Jean Piaget. Hal ini pun menyebabkan karya-karya Vygotsky disita oleh Uni Soviet dan tidak boleh dipublikasikan. Vygotsky terus diasingkan sampai dengan tahun 1934, yang merupakan tahun dia meninggal dunia diakibatkan penyakit tuberkulosis karena dia tidak mendapat perawatan dari pihak pemerintahan Uni Soviet. Orang-orang yang berada dalam fakultas psikologi di Uni Soviet saat itu mengangkat Vygotsky sebagai tokoh psikologi Uni Soviet dan hendak mempublikasikan karyanya, namun tidak diperbolehkan oleh pemerintahan saat itu. Pada tahun 1960-1980, setelah rezim Stalin jatuh mulai kemudian dipublikasikan hasil karya Vygotsky.

Setelah biografi terkait tokoh Vygotsky berakhir, Bapak Edward melanjutkan pembahasan berikutnya mengenai tokoh-tokoh yang mempengaruhi Vygotsky. Salah satu tokoh yang mempengaruhi Vygotsky merupakan teman dekatnya yaitu, Alexander Luria, seorang neuropsikolog. Salah satu tokoh lainnya yang mempengaruhi Vygotsky adalah tokoh edukasi dengan nama Leontiev. Ketiganya pun mengembangkan psikologi di Uni Soviet yang cenderung berfokus pada kognitif dengan berdasarkan Marxism. Ketiganya kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Troika”. Marxism dianggap cocok terutama digunakan di Uni Soviet karena teori-teori Marxism memiliki socialistic mentality, yang mana orang-orang dapat mengarahkan dirinya sendiri dan memiliki komitmen untuk masyarakat yang lebih luas berdasarkan kerjasama dan dukungan berbagi  dibandingkan dengan teori-teori dari barat yang menggunakan feudal mentality, yang mana orang-orang akan jatuh miskin dan tidak berdaya serta sebagian dari ilmu dan harta hanya dimiliki segelintir orang (helplessness & alienation).  Vygotsky dalam karya-karyanya juga dipengaruhi oleh Pavlov, Binet, Piaget, juga Freud karena dia pun sering membaca karya dari tokoh-tokoh tersebut.

Bapak Edward menjelaskan pada akhirnya Vygotsky memutuskan  mengambil dua konsep dasar dalam mengembangkan psikologi berdasarkan karya Marx dan Hegel. Konsep pertama yaitu, manusia tidak mungkin mengubah dirinya sendiri, kecuali dia berinteraksi secara sosial dengan manusia lain kemudian dari kondisi manusia tersebut dan interaksi sosial yang dilakukan manusia dapat membentuk kognisinya. Konsep kedua yaitu, prinsip akan shared goods yang dapat dimaknai sebagai apapun yang kita miliki bukan milik kita sendiri tetapi milik masyarakat atau komunitas seperti dalam perusahaan suatu pengetahuan yang dimiliki satu orang menjadi pengetahuan penting bagi perusahaan tersebut. Selain itu, melalui konsep shared goods Vygotsky percaya bahwa masyarakat memiliki socially shared cognition, yang mana setiap orang dewasa di dunia bertanggung jawab untuk mencerdaskan atau mengajarkan anak-anak yang ada di lingkungan sekitarnya.

 

 

Ilustrasi proses anak belajar dalam teori Vygotsky. Sumber: PPT “Vygotsky” (Sutardhio, 2021)

Selanjutnya, pembahasan masuk ke bagian teori dari Vygotsky. Bapak Edward menyampaikan bahwa Teori Vygotsky memiliki teori yang saling berhubungan satu dengan lainnya. Sebelum membahas teori Vygotsky lebih lanjut, Bapak Edward memaparkan terdapat beberapa perbedaan antara teori Vygotsky dengan teori lain diantaranya yaitu, menurut Vygotsky memisahkan manusia dengan lingkungannya bukan hal yang baik bahwa akan lebih baik jika manusia berkumpul dan berdiskusi bersama, kemudian menurut Vygotsky pengetahuan itu bagaimana manusia beraktivitas, berdiskusi, dan berbagi akan pengetahuan yang didapatnya. Bapak Edward mengemukakan bahwa dalam teori Vygotsky anak-anak dapat belajar mengenal suatu objek (mis, bola),  dia perlu melihat bagaimana orang dewasa (dikenal sebagai MKO atau more knowledgeable others) berinteraksi dengan bola, sehingga pengetahuan tidak hanya didapat satu arah melainkan dua arah yaitu melalui anak-anak dengan bola tetapi melalui orang dewasa (MKO) yang menceritakan tentang bola. Proses aktivitas tersebut dapat disebut sebagai enkulturasi. Enkulturasi dalam teori Vygotsky dapat dipahami sebagai bukan yang diberikan oleh orang dewasa terhadap anak, tetapi sesuatu yang anak lakukan. Anak perlu berinteraksi langsung dengan objek setelah diceritakan oleh orang dewasa (MKO) akan interaksinya dengan objek terkait.

Bapak Edward  kemudian menjelaskan bahwa Vygotsky dalam teorinya juga membahas bahwa dalam belajar anak tidak lepas dari lingkungannya yang dalam hal ini disebut sebagai culture. Budaya atau culture terdiri atas value, pengetahuan, pandangan akan dunia, keyakinan bersama, hubungan terstruktur, dan sebagainya dibagikan dengan melalui simbol bersama. Budaya, subkultur etnis dan berbagai struktur keluarga mempengaruhi apa yang anak pikirkan, apa keterampilan yang perlu dikuasai, bagaimana dapat belajar tentang keterampilan tersebut, kapan anak dapat belajar, serta siapa yang boleh berpartisipasi dalam aktivitas belajar tersebut. Sebuah contoh yang dipaparkan Bapak Edward mengenai apa yang perlu dipelajari dan keterampilan yang perlu dikuasai  anak-anak suku Bajau dengan anak suku Anak Dalam di Riau tentu berbeda diakibatkan adanya perbedaan budaya dari kedua suku tersebut. Selain itu, budaya juga dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan serta kondisi historis dari lingkungan yang dapat menjadi penyebab adanya perbedaan budaya di setiap tempat tertentu.

Ilustrasi Teori ZPD (Zone Proximal Distance) Vygotsky. Sumber: PPT “Vygotsky” (Sutardhio, 2021)

Bapak Edward kemudian menjelaskan tentang bagian penting dari teori Vygotsky berikutnya berkaitan dengan ZPD atau Zone Proximal Distance. Secara garis besar konsep dari ZPD dapat digambarkan sebagai  jarak antara tingkat perkembangan aktual seorang anak (actual developmental level) yang ditentukan melalui pemecahan masalah yang dapat dilakukan anak secara mandiri dan tingkatan yang lebih tinggi dari pengembangan potensi yang ditentukan melalui pemecahan masalah (potential developmental level) dengan bimbingan orang dewasa (MKO) atau melalui kerja sama dengan rekan yang lebih mampu. Konsep ZPD perlu diperhatikan karena menurut Vygotsky penting untuk dapat mengetahui bagaimana anak belajar untuk meningkatkan kemampuannya dengan menggunakan bantuan orang-orang yang lebih tahu disekitarnya dan bagaimana orang-orang tersebut dapat membantu anak tidak hanya sampai di actual development level anak melainkan dapat mendorong anak sampai pada potential developmental level anak.

Orang dewasa atau MKO perlu membantu anak agar dapat sampai pada potential developmental level. Hal tersebut dilakukan dengan memberikan anak scaffolding untuk dapat mencapai potential developmental level dengan cara yang disebut dengan guided participation. Sebuah gambaran yang dijelaskan oleh Bapak Edward mengenai scaffolding dengan cara guided participation seperti saat ibu memberikan contoh cara mengerjakan soal kemudian mendorong anak untuk mencoba soal yang telah dicontohkan. Saat scaffolding berjalan yang terjadi adalah interaksi antar anak dengan MKO dan juga objek. Dalam interaksi tersebut, setiap kali anak belajar dan belum dapat memahami suatu konsep dia akan bertanya kepada MKO atau orang dewasa dan kemudian diberikan jawaban, proses tersebut dimaknai sebagai intermental. Kemudian, anak belajar dan dapat melakukan hal yang dipahami melalui jawaban dari orang dewasa atau MKO yang masuk ke dalam kepala anak-anak dan melakukan internalization atau internalisasi. Setelah itu, anak-anak pun melakukan percakapan sendiri di dalam pikirannya, hal tersebut disebut sebagai intra mental. Saat proses aktivitas belajar anak perlu berbicara dengan orang dewasa atau MKO tentang objek yang hendak dipelajarinya dengan menggunakan bahasa yang merupakan sebuah alat psikologis atau psychological tools. Semua keahlian yang ada di dalam diri anak adalah psychological tools. Sedangkan, semua keahlian yang ada di luar diri anak adalah technical tools. Kedua alat tersebut merupakan bagian dari cultural tools. Bahasa menjadi psychological tools yang penting dalam proses aktivitas belajar karena bahasa menjadi alat dalam proses interaksi anak untuk dapat memahami hal yang dipelajari.

Aplikasi teori ZPD Vygotsky baik diterapkan dalam contoh-contoh latar di atas. Sumber: PPT “Vygotsky” (Sutardhio, 2021)

Pada bagian terakhir, Bapak Edward menjelaskan bagaimana aplikasi dari teori Vygotsky dalam dunia pendidikan dan pekerjaan. Bagian terakhir ini merupakan bagian yang khas dari Psychotechnology Webinar Series. Seperti yang dipaparkan oleh Dr. Rudolf Matindas dalam 1st International Conference on Psychotechnology, psychotechnology dapat didefinisikan sebagai aplikasi dari metode dan hasil penelitian psikologi untuk memberikan solusi pada masalah yang diamati dalam dunia industri. Oleh karena itu, pada bagian terakhir acara ini,  Bapak Edward menjelakan bagaimana ia menerapkan hasil penelitian dengan teori Vygotsky untuk pendidikan. Penelitian beliau memperlilhatkan bahwa teori ZPD dari Vygotsky berjalan sangat baik ketika diaplikasikan pada proses belajar di taman kanak-kanak dan sekolah luar biasa. Teori ini juga dapat diaplikasikan pada pegawai magang dan juga asisten psikolog. Bapak Edward menjelaskan tentang aplikasi teori Vygotsky dalam pegawai magang, dimulai saat pegawai magang diminta untuk mengamati apa yang perlu dilakukan manajernya. Setelah mengamati dan mempelajari hal yang perlu dilakukan kemudian pegawai magang dapat berdiskusi dengan manajer terkait tentang hal yang masih kurang dipahami kemudian dia akan mendapat tugas yang ringan berkaitan dengan hal yang dikerjakan manajer tersebut dan dapat mendiskusikan hal yang masih kurang dipahami dalam tugas tersebut. Contoh yang diberikan Bapak Edward tersebut relevan dengan penulis yang tengah melakukan magang pertama kalinya. Penulis merasa bahwa melalui magang yang penulis jalani di Jurusan Psikologi BINUS, penulis dapat melihat langsung dan menjalani aplikasi dari teori ZPD tersebut. Salah satu contohnya, ketika penulis diberikan pekerjaan yang ringan dan melakukan apa yang dijelaskan supervisor saya seperti, saat supervisor mendemonstrasikan cara menggunakan aplikasi untuk membuat kuis dan setelahnya penulis diinstruksikan untuk mencoba langsung menggunakan aplikasi tersebut. Aplikasi teori ZPD lainnya dalam magang adalah ketika penulis melakukan sit in dan mengobservasi cara supervisor saya mengajar dan setelah itu penulis dapat menanyakan hal yang berkaitan dari observasi tersebut kepada supervisor penulis.

Webinar diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh mahasiswa terhadap Bapak Edward terkait hal yang ingin mereka ketahui lebih lanjut mengenai aplikasi teori Vygotsky yang telah dijelaskan. Kemudian, mahasiswa mata kuliah Theories of Developmental Psychology juga diberikan penugasan dalam diskusi forum binusmaya di kelas masing-masing terkait dengan materi kuliah umum Aplikasi teori Vygotsky. Kuliah umum ini tentunya mengingatkan penulis kembali akan materi teori Vygotsky yang sudah dipelajari serta kegunaannya agar dapat menghasilkan proses belajar mengajar yang efektif.

 

Bagaimana mahasiswa psikologi BINUS? Kira-kira topik apa yang menurut kalian menarik dan ingin ketahui lebih lanjut penerapannya di dunia industri/pendidikan atau di masyarakat? Silahkan kalian tulis di kolom komentar di bawah ini. Siapa tahu topik yang kalian inginkan dapat diangkat sebagai topik psychotechnology webinar series berikutnya.

Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Capture time bersama dosen mata kuliah Theories of developmental in psychology, mahasiswa, dan pembicara tamu: Bapak Edward Andriyanto Sutardhio, M.Psi., Psikolog di akhir acara psychotechnology webinar series: “ Application of Vygotsky and The Sociocultural Approach in daily life”

Penulis             :

Ayu Wandira Gustriandini Meivitazahra Hariyanto. Mahasiswa Universitas Bina Nusantara Jurusan Psikologi. Mahasiswa magang Learning Support Jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara.

 

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog, dosen psikologi klinis di Universitas Bina Nusantara, mahasiswa S3 Fakultas Psikologi Indonesia. Subject Content Coordinator – Fundamental on Psychology, Psychology Department, Faculty of Humanities, Universitas Bina Nusantara.

 

 

 

 

Pingkan C. B. Rumondor, M.Psi., Psikolog