Konsep ‘Pernikahan’ bagi Mahasiswa

Farah Mutiasari Djalal, PhD – Lecturer Specialist S3 Psychology

Kamu kapan menikah?’ pertanyaan yang cukup sering ditanyakan oleh lingkungan sosial kita terutama pada kita yang belum menikah. Kalaupun sudah menikah, pertanyaan yang kemudian sering muncul adalah ‘Kapan punya anaknya?’. Tidak kunjung selesai, bagi pasangan yang sudah memiliki anak pun akan mendapatkan pertanyaan babak berikutnya: ‘kapan si X (nama anak pertama) punya adik?’, ‘kapan punya anak perempuan (jika anak-anak yang dimiliki hanya laki-laki)’, ‘kapan nih anak ketiga?’, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Entah masyarakat kita yang minim kemampuan untuk melakukan pembicaran basa-basi (small talk), atau memang tuntutan masyarakat kita yang mengharapkan setiap anak bangsa untuk menikah dan memiliki (banyak) anak. Tentu saja harapan sosial seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, memiliki pasangan dan keturunan sangat lazim menjadi mimpi bagi banyak orang terlepas dari kultur dan budaya manapun. Mungkin yang menjadi pembeda adalah apakah kedua hal ini, menikah dan memiliki anak, menjadi urusan pribadi atau urusan sosial. But wait, dalam tulisan ini saya tidak akan berlarut-larut membahas curhatan pribadi saya tentang small talks-nya orang Indonesia, tapi karena tuntutan sosial inilah yang menarik untuk melihat apa sih sebenarnya arti pernikahan itu sendiri bagi orang Indonesia? Jangan-jangan orang Indonesia punya pemahaman tentang apa itu pernikahan yang berbeda dengan kultur lain karena perbedaan tuntutan sosial masyarakatnya.

Kalau dilihat dari segi Psikolinguistik, ‘Pernikahan’ sebagai suatu konsep, bisa diartikan secara beragam. Kita coba lihat dulu konsep yang lain deh, misalnya ‘Buah’. Apa itu buah bagimu? Beberapa orang bisa saja menjawab buah itu adalah segala sesuatu yang bisa dimakan, mengandung vitamin, rasanya manis. Sementara itu, bagi orang lain, konsep buah adalah sesuatu yang bisa dimakan mentah, bisa dijadikan jus, rasanya asam. Setiap orang bisa punya pemahaman tentang suatu konsep secara berbeda (Verheyen & Storms, 2013; Djalal, Hampton, Storms, & Heyman, 2017 atau bisa lihat tulisan saya di: https://psychology.binus.ac.id/2018/08/01/aku-termasuk-dalam-kategori-apa-ya-serupa-tapi-tak-sama/). Nah, sekarang saya tanya, apa sih pernikahan bagimu?

Pingkan Rumondor    (salah satu dosen kece Psikologi Binus yang risetnya seputar tentang hubungan interpersonal; profil Beliau bisa di cek disini: https://psychology.binus.ac.id/d3727 ) dan saya melakukan penelitian tentang apa itu konsep ‘Pernikahan’ bagi orang Indonesia. Kami ingin melihat apakah sebenarnya orang Indonesia memaknai pernikahan secara berbeda dengan kultur lain, jika berbeda apakah kemudian segala teori-teori tentang hubungan interpersonal, cinta, pernikahan, kepuasaan antar pasangan, yang kebanyakan dilakukan di luar Indonesia, tetap relevan untuk dipakai dalam kultur kita. Itu topik besarnya. Selain itu, kita juga ingin melihat apakah tingkat kebahagian dan kepuasan hidup seseorang mempengaruhi bagaimana seseorang  memaknai ‘Pernikahan’ itu sendiri. Dalam kata lain, apakah orang-orang yang bahagia dan puas dengan hidupnya punya pemahaman yang berbeda tentang ‘Pernikahan’ dibandingkan dengan orang-orang yang kurang bahagia dan kurang puas dengan hidupnya.

Karena kebetulan kami berdua adalah dosen, data yang terkumpul sebagian besar didominasi oleh mahasiswa yang belum menikah. Jadi, tulisan ini berfokus pada hasil dari penelitian yang partisipan adalah mahasiswa ya.

Saya ceritakan dulu ya, apa yang kami lakukan dalam penelitian ini. Kami menyebarkan kuesioner yang terdiri dari pertanyaan simple seperti ‘apa arti pernikahan bagimu?’ Kemudian partisipan menuliskan jawaban sebebas-bebasnya, diantaranya ada yang menjawab ‘melibatkan komitmen’, ‘hubungan natara dua pihak yang menyatu’, ‘melibatkan cinta’, dan lainnya. Kemudian, kami mengukur tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup seseorang dengan kuesioner, secara berurutan, dari Lybomirsky dan Lepper (1999) dan Diener, Emmons, Larsen, dan Griffin (1985). Setelah mendapatkan data, kami mengukur skor kebahagian dan kepuasaan hidup masing-masing partisipan, supaya kami tahu partisipan mana saja yang bahagia dan puas dengan hidupnya (tentu saja survey ini anonym ya, kami menggunakan kode partisipan untuk mengetahui jawaban mereka). Kami juga mengelompokan siapa-siapa yang termasuk tidak bahagia dan tidak puas. Setelah itu kami cek jawaban mereka tentang arti pernikahan. Penasaran dengan hasilnya? Tunggu jawabannya di…

paragraph selanjutnya!

Kami menemukan bahwa mahasiswa (karena data didominasi oleh mahasiswa, makanya yang kami olah saat ini hanyalah data dari mahasiswa) yang memiliki skor tinggi dalam kuesioner kebahagiaan (baca: orang yang bahagia) kebanyakan dari mereka menjawab bahwa pernikahan adalah ‘suatu ikatan yang sah secara hukum dan agama’, ‘melibatkan cinta’, ‘hubungan dua pihak yang menyatu’, ‘ada hubungan timbal balik’, dan ‘melibatkan komitmen’.

Mirip-mirip dengan orang-orang yang puas dengan hidupnya, mengartikan pernikahan antara lain sebagai ‘hubungan timbal balik’, ‘melibatkan cinta’, ‘suatu ikatan yang sah secara hukum dan agama’, ‘hubungan dua pihak yang menyatu’.

Nah, bagaimana dengan mahasiswa yang tidak bahagia dan tidak puas? Kebetulan dalam penelitian ini, kami tidak menemukan orang-orang yang tidak bahagia, artinya tidak ada partisipan yang memiliki skor rendah dalam pengukuran kebahagiaan. Kalau yang tidak puas? Ada tapi jumlahnya sangat sedikit, dan ini jawaban mereka antara lain: ‘untuk membentuk keluarga’, ‘melibatkan cinta’, dan ‘suatu ikatan yang sah secara hukum dan agama’.

Jika dilihat perbedaannya, salah satu jawaban yang berbeda antara mahasiswa yang bahagia dan puas dengan yang tidak puas adalah ‘untuk membentuk keluarga’. Jawaban ini popular untuk mahasiswa yang tidak puas dengan hidupnya. Mereka melihat bahwa dalam pernikahan memiliki tujuan yang harus dicapai. Hal ini tampaknya menjadi acuan bagi orang-orang yang tidak puas yang hanya terfokus pada tujuan, sehingga jika tujuan tidak tercapai, mereka lebih mudah merasa tidak puas dengan hidupnya. Sedangkan mahasiswa yang puas dan bahagia dengan hidupnya lebih terfokus pada hal-hal lain, seperti hal-hal yang melibatkan hubungan positif antara dua manusia (e.g., melibatakan komitmen, hubungan timbal  balik, cinta, dll.), dibandingkan hanya fokus dalam melihat tujuan dari sesuatu.

Pesan moral yang mungkin dapat kami sampaikan, buat kalian para mahasiswa, jika kamu ingin bahagia dan puas dengan hidupmu, lebih baik jika kamu tidak hanya terfokus dengan tujuan yang harus dicapai, tapi juga menghargai hubungan apa adanya. But remember, ini baru hasil dari partisipan yang mahasiswa lho ya. Untuk hasil yang non-mahasiswa masih dalam proses pengambilan data!

Jika kamu tertarik untuk tahu lebih lanjut tentang penelitian ini, silahkan lihat video ini yang kami presentasikan di konferensi ICOBAR Agustus 2020 kemarin: https://youtu.be/KTclLVCRlJs

Jika kamu tertarik untuk berpartisipasi dalam penelitian ini atau jika berkenan untuk menyebarkan ini ke kakakmu, mama, papa, calon mertua, maupun calon gebetan, ini ya linknya: https://forms.gle/utStAVJFRcWoKmK98

Seperti yang Pak Rektor selalu bilang, ayo yuk “Jangan lupa bahagia!”

Cheers!

Referensi:

Djalal, F. M., Hampton, J. A., Storms, G. and Heyman, T. (2018). Relationship between extensions and intensions in categorization: A match made in heaven?. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition, 44(4), pp. 655-666. doi: 10.1037/xlm0000469

Lyubomirsky, S. and Lepper, H.S. (1999) A Measure of Subjective Happiness: Preliminary Reliability and Construct Validation. Social Indicators Research 46(2): 137–55.

Diener, E., Emmons, R., Larsen, R. and Griffin, S. (1985) The Satisfaction With Life Scale. Journal of Personality Assessment 49(1): 71–5

Verheyen, S., and Storms, G. (2013). A mixture approach to vagueness and ambiguity. PLoS ONE, 8(5), e63507. doi: 10.1371/journal.pone.0063507