Fenomena catcalling kerap dianggap remeh oleh sebagian orang sebagai bentuk lelucon atau godaan biasa,padahal tindakan tersebut merupakan bentuk pelecehan verbal yang tidak etis dan melanggar batasan pribadi (boundaries). Di lingkungan sosial seperti kampus, sekolah, maupun ruang publik, kalimat-kalimat yang merendahkan sering kali diabaikan atau dianggap angin lalu. Namun, dari sudut pandang psikologi, korban yang mengalami situasi tersebut kerap menunjukkan respons tertunda, kebingungan, hingga mempertanyakan diri sendiri, yang menegaskan bahwa catcalling bukan sekadar masalah ucapan sepele, melainkan bentuk pelanggaran psikologis yang berdampak nyata.
Berdasarkan tinjauan psikologis, Fitzgerald dan Cortina (2018) menjelaskan bahwa akar permasalahan dari pelecehan bukanlah dorongan atau ketertarikan seksual semata, melainkan persoalan kekuasaan (power) dan kontrol (control). Pelecehan kerap digunakan sebagai alat untuk mendominasi dan merendahkan pihak lain,yang sering kali ditemukan dalam relasi kuasa yang timpang, seperti antara senior dan junior atau figur yang memiliki otoritas lebih tinggi. Oleh karena itu, mitos yang kerap menyalahkan korban—misalnya akibat cara berpakaian—merupakan kekeliruan besar, karena tindakan tersebut murni merupakan upaya pelaku untuk menegasikan otonomi dan privasi korban.
Ketika menghadapi situasi yang mengancam tersebut, banyak korban memilih untuk diam atau tidak melawan,yang secara neurobiologis dapat dijelaskan melalui teori Fight, Flight, or Freeze oleh Cannon (1932). Dalam situasi traumatik atau terancam, bagian otak amigdala mengambil alih kendali secara otomatis, sehingga individu mengalami kondisi kaku (freeze) dan kehilangan kemampuan berpikir jernih. Reaksi bertahan hidup ini sering kali memicu distorsi kognitif berupa menyalahkan diri sendiri (self-blame). Menurut Janoff-Bulman (1979), self-blame merupakan mekanisme pertahanan bawah sadar otak untuk menciptakan ilusi kontrol semu, kendati respons tersebut justru memperparah beban psikologis korban.
Selain respons korban, kebisuan orang-orang di sekitar tempat kejadian juga dapat dijelaskan melalui konsep Bystandar Effect oleh Latané dan Darley (1970). Semakin banyak orang yang berada di lokasi kejadian,semakin kecil probabilitas individu untuk memberikan pertolongan akibat adanya difusi tanggung jawab (diffusion of responsibility) serta ketidaktahuan pluralistik (pluralistic ignorance). Sebagai akademisi maupun masyarakat yang memahami konsep empati, peran lingkungan sangat krusial dalam memutus rantai ketidakpedulian tersebut. Penerapan metode intervensi seperti metode 5D (Direct, Distract, Delegate, Delay, Document) dari Hollaback! dapat menjadi panduan konkret bagi masyarakat untuk merespons situasi pelecehan secara tepat dan aman.
Sebagai langkah penanganan awal, korban maupun penyintas memerlukan pendekatan berbasis Psychological First Aid (PFA) yang dicetuskan oleh Ruzek dkk. (2007), di mana validasi emosional dan penciptaan rasa aman menjadi prioritas utama alih-alih memberikan interogasi yang menyudutkan. Kampus dan ruang publik seharusnya berfungsi sebagai safe space yang menjunjung tinggi kesehatan mental serta keselamatan psikologis individu. Apabila dampak lanjutan seperti kecemasan berlebihan atau gangguan tidur mulai mengganggu fungsi sehari-hari, individu dianjurkan untuk segera mencari bantuan profesional guna mendapatkan pemulihan yang komprehensif.

REFERENSI

  • Fitzgerald, L. F., & Cortina, L. M. (2018). Sexual harassment in work organizations: A view from the 21st century. In C. B. Travis & J. W.  White (Eds.), APA handbook of the psychology of women (pp. 215–234). American Psychological Association.
  • Hollaback! (2021). The 5 D’s of bystander intervention. righttobe.or  
  • Janoff-Bulman, R. (1979). Characterological versus behavioral self-blame: Inquiries into depression and rape. Journal of Personality and Social Psychology, 37(10), 1798–1809.
Penulis : Widati Padmarini Sastiawan dan Baydhowi
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra Puanrani