Kenapa Kita Susah Bilang “Nggak”? Ketika Ingin Menyenangkan Semua Orang
“Boleh minta tolong nggak?”
Sebenarnya sedang sibuk. Sebenarnya capek. Bahkan sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi entah kenapa mulut justru menjawab, “Iya, boleh.”
Kalau situasi seperti ini sering terjadi, kamu mungkin pernah mengalami kecenderungan people-pleasing, yaitu pola perilaku ketika seseorang terlalu berusaha memenuhi keinginan atau kebutuhan orang lain, bahkan ketika hal tersebut membuat dirinya sendiri tidak nyaman.
People-pleasing bukan sekadar bersikap baik kepada orang lain. Membantu teman, mendengarkan orang lain, atau berusaha menjaga hubungan tentu merupakan hal yang positif. Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang merasa harus selalu menyenangkan orang lain karena takut mengecewakan, ditolak, dianggap tidak baik, atau menimbulkan konflik.
Misalnya, seorang mahasiswa sudah memiliki banyak tugas, tetapi temannya meminta bantuan mengerjakan sesuatu. Ia sebenarnya ingin menolak, tetapi takut temannya kecewa. Akhirnya ia menerima permintaan tersebut. Setelah itu, tugasnya sendiri semakin menumpuk dan ia justru merasa kesal atau kelelahan.
Hal yang menarik adalah people-pleasing tidak selalu terlihat dari luar sebagai sesuatu yang negatif. Seseorang mungkin terlihat sangat baik, mudah membantu, dan selalu tersedia untuk orang lain. Namun, di baliknya bisa saja terdapat kesulitan dalam mengenali dan menyampaikan kebutuhan diri sendiri.
Penelitian yang diterbitkan pada 2025 terhadap lebih dari 2.000 mahasiswa di Tiongkok menemukan bahwa people-pleasing dapat dilihat melalui aspek pikiran, perilaku, dan perasaan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tingkat people-pleasing yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat mental well-being yang lebih rendah pada partisipan.
Namun, bukan berarti setiap orang yang sulit berkata “tidak” pasti memiliki masalah psikologis. Ada banyak alasan seseorang memilih untuk mengiyakan permintaan orang lain. Budaya, pola hubungan, pengalaman masa lalu, dan konteks sosial dapat memengaruhi cara seseorang berkomunikasi.
Salah satu hal yang dapat dicoba adalah mulai membedakan antara “aku mau membantu” dan “aku takut kalau aku tidak membantu.” Keduanya mungkin terlihat sama dari luar, tetapi alasan di baliknya berbeda.
Kita juga tidak harus langsung menjadi orang yang selalu mengatakan “tidak”. Memasang batasan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti mengatakan, “Aku belum bisa sekarang,” “Aku perlu menyelesaikan tugas dulu,” atau “Aku bisa bantu, tapi tidak hari ini.”
Menolak sebuah permintaan tidak selalu berarti kita egois. Sama seperti orang lain memiliki hak untuk meminta bantuan, kita juga memiliki hak untuk mempertimbangkan waktu, energi, dan kebutuhan diri sendiri.
Menjadi orang baik tidak berarti harus selalu tersedia untuk semua orang. Kadang-kadang, mengatakan “nggak bisa” adalah cara kita menjaga hubungan dengan diri sendiri.
Referensi:
- Wang, et al. (2025). The mental health implications of people-pleasing: Psychometric properties and latent profiles of the Chinese People-Pleasing Questionnaire. PsyCh Journal.
- Li, et al. (2018). Managing face while managing privacy: Factors that predict young adults’ communication about sexually transmitted infections with romantic partners. Health Communication.
Penulis :
Fadliana Camilla dan Baydhowi
Editor :
Privianda Azahra & Andrea Prita Purnama Ratri

Comments :