Takut Mengecewakan Orang Lain? Memahami Kebiasaan Selalu Ingin Menyenangkan Semua Orang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah menyetujui permintaan orang lain meskipun sebenarnya sedang lelah atau memiliki kesibukan lain. Ada juga situasi ketika kita merasa bersalah setelah menolak ajakan teman atau terus memikirkan apakah perkataan kita telah menyakiti perasaan seseorang. Jika terjadi berulang kali, kebiasaan ini dapat berkaitan dengan people pleasing, yaitu kecenderungan untuk mengutamakan kebutuhan dan harapan orang lain demi mendapatkan penerimaan atau menghindari konflik.
Keinginan untuk menyenangkan orang lain sebenarnya merupakan hal yang wajar. Kita tentu ingin menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja. Namun, ketika kita terlalu takut mengecewakan orang lain, keinginan tersebut dapat membuat kita mengabaikan perasaan, kebutuhan, bahkan batasan diri sendiri.
Mengapa Kita Takut Mengecewakan Orang Lain?
Kecenderungan people pleasing dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosial. Seseorang mungkin merasa bahwa dirinya harus selalu membantu, mengalah, atau memenuhi harapan orang lain agar tetap disukai. Selain itu, pengalaman dalam hubungan keluarga maupun pertemanan juga dapat memengaruhi cara seseorang merespons konflik dan menyampaikan kebutuhannya.
Beberapa faktor yang dapat melatarbelakangi kebiasaan ini antara lain:
- Takut ditolak: Khawatir orang lain akan menjauh atau tidak lagi menyukai kita ketika kita menolak permintaan mereka.
- Membutuhkan validasi: Merasa lebih berharga ketika mendapatkan pujian, persetujuan, atau pengakuan dari orang lain.
- Menghindari konflik: Memilih mengalah atau menyetujui sesuatu agar tidak terjadi perdebatan, meskipun sebenarnya merasa keberatan.
- Terbiasa mengutamakan orang lain: Merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain hingga kesulitan memprioritaskan kebutuhan pribadi.
Apa Dampaknya bagi Kesejahteraan Psikologis?
Terus-menerus berusaha menyenangkan semua orang dapat membuat seseorang mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri. Ketika terlalu sering mengatakan “iya” meskipun ingin menolak, seseorang berisiko mengalami kelelahan emosional, stres, dan kesulitan menetapkan batasan dalam hubungan. Ia juga dapat memendam perasaan tidak nyaman karena khawatir kejujuran justru akan menimbulkan konflik.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat hubungan terasa tidak seimbang. Seseorang mungkin terus memberikan waktu dan tenaga untuk orang lain, tetapi merasa kesulitan meminta bantuan atau menyampaikan kebutuhannya sendiri. Penelitian mengenai self-silencing, yaitu kecenderungan menahan pendapat dan perasaan demi menjaga hubungan, juga menemukan adanya hubungan antara pola tersebut dan gejala depresi (Pintea & Gatea, 2021).
Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang sulit menolak permintaan pasti mengalami masalah kesehatan mental. Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering kebiasaan tersebut terjadi dan apakah hal itu mulai mengganggu kesejahteraan diri maupun hubungan dengan orang lain.
Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan People Pleasing?
Mengurangi kebiasaan people pleasing membutuhkan proses untuk belajar menghargai diri sendiri tanpa mengabaikan perasaan orang lain. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengenali kebutuhan dan perasaan pribadi sebelum menyetujui permintaan orang lain. Cobalah untuk tidak langsung mengatakan “iya” dan berikan waktu untuk mempertimbangkan apakah kita benar-benar mampu dan bersedia membantu. Selain itu, belajarlah mengatakan “tidak” secara sopan dan tegas tanpa merasa harus memberikan penjelasan yang berlebihan.
Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua harapan orang lain harus dipenuhi dan bahwa membuat seseorang kecewa tidak selalu berarti kita telah melakukan kesalahan. Jika muncul rasa bersalah ketika menetapkan batasan, cobalah untuk memahami bahwa perasaan tersebut merupakan bagian dari proses perubahan kebiasaan. Kita dapat mulai dari situasi sederhana, seperti menolak ajakan ketika sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat atau menyampaikan pendapat yang berbeda dengan tetap menghormati orang lain.
Selain itu, penting untuk membangun penghargaan terhadap diri sendiri. Hargai diri bukan hanya ketika berhasil membantu orang lain, tetapi juga ketika mampu menjaga kesehatan, menyelesaikan tanggung jawab, dan memenuhi kebutuhan pribadi. Dengan menetapkan batasan yang sehat, kita dapat membangun hubungan yang lebih seimbang tanpa harus terus-menerus mengorbankan diri sendiri.
REFERENSI :
Pintea, S., & Gatea, A. (2021). The relationship between self-silencing and depression: A meta-analysis. Journal of Social and Clinical Psychology, 40(4), 333–356.
Blötner, C. (2026). Valuing others over oneself: Development and validation of a people pleasing scale in two German samples. Current Psychology, 45, Article 952.
PENULIS : PRIVIANDA AZAHRA PUANRANI
EDITOR : ANDREA PRITA PURNAMARATRI

Comments :