Pernahkah kamu menunda mengerjakan tugas meskipun mengetahui bahwa deadline semakin dekat? Alih-alih mulai bekerja, kamu justru memilih bermain media sosial, menonton video, atau melakukan aktivitas lain yang terasa lebih menyenangkan. Ketika waktu pengumpulan semakin dekat, rasa panik mulai muncul dan kamu akhirnya mengerjakan semuanya secara terburu-buru.

Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai prokrastinasi (procrastination), yaitu kecenderungan menunda pekerjaan meskipun menyadari bahwa penundaan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi negatif. Prokrastinasi tidak selalu berkaitan dengan kemalasan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor emosional, motivasi, dan cara seseorang menghadapi tugas.

Mengapa Kita Suka Menunda Pekerjaan?

Salah satu penyebab prokrastinasi adalah kecenderungan memilih aktivitas yang memberikan kesenangan secara langsung. Bermain ponsel atau menonton video terasa lebih menyenangkan dibandingkan mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi. Akibatnya, seseorang lebih mengutamakan kepuasan sesaat daripada manfaat menyelesaikan pekerjaan lebih awal.

Selain itu, prokrastinasi dapat menjadi cara untuk menghindari emosi yang tidak menyenangkan. Tugas yang sulit, rasa takut gagal, atau kekhawatiran terhadap hasil pekerjaan dapat membuat seseorang enggan memulai. Dengan menunda, seseorang mungkin merasa lebih lega untuk sementara waktu, meskipun tugas tersebut tetap harus diselesaikan.

Faktor lain yang dapat memengaruhi prokrastinasi adalah perasaan kewalahan ketika menghadapi pekerjaan yang kompleks. Ketika tugas terasa terlalu besar atau sulit, seseorang mungkin kesulitan menentukan langkah pertama. Akibatnya, pekerjaan terus tertunda hingga waktu yang tersedia semakin terbatas.

Bagaimana Cara Mengatasi Prokrastinasi?

Mengatasi kebiasaan menunda pekerjaan dapat dimulai dengan memahami penyebabnya. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membagi tugas besar menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dikerjakan. Menetapkan target yang realistis juga dapat membantu seseorang memulai pekerjaan tanpa merasa terbebani oleh keseluruhan tugas.

Selain itu, mengurangi distraksi, seperti notifikasi ponsel, dapat membantu menjaga fokus. Penting juga untuk tidak selalu menunggu munculnya motivasi sebelum mulai bekerja. Terkadang, mengambil langkah kecil justru membantu membangun dorongan untuk melanjutkan pekerjaan.

Tidak kalah penting, seseorang perlu belajar mengenali emosi yang muncul ketika menghadapi tugas. Jika penundaan disebabkan oleh rasa takut gagal atau khawatir terhadap hasil pekerjaan, memahami perasaan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menghadapinya secara lebih sehat.

Kesimpulan

Prokrastinasi bukan sekadar persoalan manajemen waktu, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola emosi, menghadapi tantangan, dan menentukan prioritas. Dengan memahami penyebabnya, seseorang dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan.

Perubahan tidak harus dimulai dengan menyelesaikan seluruh tugas sekaligus. Memulai dari langkah kecil, menetapkan target yang realistis, dan membangun kebiasaan secara konsisten dapat membantu kita menjadi lebih produktif.

Jadi, ketika deadline semakin dekat, apakah kamu benar-benar kekurangan waktu, atau justru kesulitan untuk memulai?

 

REFERENSI :

Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94. https://doi.org/10.1037/0033-2909.133.1.65

Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the priority of short-term mood regulation: Consequences for future self. Social and Personality Psychology Compass, 7(2), 115–127. https://doi.org/10.1111/spc3.12011