Menyelaraskan Hasrat dan Realitas Kerja: Rangkuman Seminar “Pahami Passionmu Pahami Kariermu”
- Alumni
- Andrea Prita
- articles
- baydhowi
- binus bekasi
- Book Review
- Catatan dosen
- Lab Psikologi
- psikologi bekasi
Jakarta Barat — Memilih jalur karier sering kali menjadi dilema tersendiri bagi generasi muda, terutama di tengah tuntutan ekonomi dan dinamika dunia kerja modern. Menjawab kegelisahan tersebut, sebuah seminar inspiratif bagi mahasiswa sukses digelar di Gedung KFC (Kijang Function Chamber), Kampus BINUS Kijang, Jakarta Barat, pada Jumat, 11 September 2026. Mengusung tajuk “Pahami Passionmu Pahami Kariermu”, acara ini berhasil menarik antusiasme tinggi dengan dihadiri oleh 300 mahasiswa secara hibrida, baik daring maupun luring.
Suasana seminar di area Kijang Function Chamber berlangsung sangat seru, menarik, dan interaktif berkat terbangunnya dialog aktif antara pemateri dan para peserta. Hadir sebagai narasumber utama, Andra Maulana, M.Psi., Psikolog, membedah secara mendalam bagaimana mengelola passion (minat/hasrat) secara realistis di dunia profesional.
Realitas Gen Z: Antara Idealisme dan Kebutuhan Ekonomi
Dalam pemaparannya, Andra menyoroti bahwa menjalani jalur karier tidak selalu harus bersesuaian penuh dengan passion yang dimiliki. Aspek-aspek realitas kehidupan, khususnya pertimbangan finansial dan kesejahteraan mental, memegang peranan krusial.
Hal ini diperkuat oleh berbagai data riset terbaru yang dipaparkan dalam seminar:
- 41,8% Gen Z merasa khawatir karena menyadari bahwa pekerjaan yang murni hanya mengikuti passion cenderung menghasilkan pendapatan yang lebih sedikit (Survei IDN Times, 2024).
- 71% Gen Z tetap memprioritaskan gaji dan kompensasi saat memilih pekerjaan (Studi Jakpat).
- Hampir 30% Gen Z sudah mempunyai pekerjaan sampingan, dan 44% dari mereka melakukannya murni karena alasan ekonomi, bukan sekadar eksplorasi minat (Deloitte, 2026).
Berdasarkan studi-studi tersebut, terungkap bahwa Generasi Z kini lebih memprioritaskan fleksibilitas, stabilitas keuangan, kesehatan mental, serta ruang untuk menyalurkan passion melalui ekosistem digital baru.
Memahami Makna Passion dan Dua Jalur Pilihan Karier
Mengutip pandangan Vallerand (2015), passion didefinisikan sebagai “Kecenderungan kuat terhadap suatu aktivitas yang mendefinisikan diri (self-defining), yang disukai (atau bahkan dicintai), dianggap penting, dan tempat seseorang menginvestasikan waktu dan energi.”
Namun, pertanyaannya: apakah passion harus selalu dijadikan karier? Untuk menjawab hal ini, Andra memaparkan dua perspektif utama yang dapat dipilih:
- Perspektif Integrasi Karier: Mengarahkan passion ke dunia kerja dapat memberikan sumber motivasi intrinsik yang sangat kuat.
- Perspektif Terpisah: Merujuk pada pemikiran Cal Newport, pentingnya membangun Career Capital (modal karier/keahlian) terlebih dahulu, karena passion sering kali menyusul muncul seiring bertambahnya rasa kompeten.
Karier yang baik pada akhirnya juga dipengaruhi oleh nilai hidup, fleksibilitas, relasi kerja, keamanan, hingga peluang berkembang — bukan sekadar soal passion semata.
3 Langkah Pengembangan Karier
Bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan potensinya secara terarah, Andra membagikan tiga langkah praktis:
- Menemukan: Catat aktivitas yang membuatmu bersemangat, lalu lakukan uji coba atau eksperimen kecil selama 7 hari.
- Mengasah (Deliberate Practice): Lakukan latihan terstruktur dengan umpan balik spesifik dari mentor atau orang yang lebih ahli.
- Mendalami (Flow State): Capai kondisi larut penuh saat tantangan dan kemampuan berada dalam titik yang seimbang.
Menjelang akhir acara, Mas Andra menutup sesi materinya dengan sejumlah poin penting yang merangkum keseluruhan diskusi:
- Passion dibangun lewat proses (melalui waktu, usaha, dan exposure) — bukan ditemukan secara instan lewat satu momen pencerahan.
- Passion terbagi menjadi beberapa jenis, dan jenis yang sehat adalah yang bersifat harmonis (harmonious).
- Kita perlu membongkar mitos bahwa passion ditemukan secara instan; nyatanya, passion itu dibangun.
- Passion tidak harus 100% menjadi sumber pencaharian utama (karier), yang dicari adalah kecocokan (fit), bukan sekadar romantisasi.
- Minat mengikuti kompetensi: pengalaman praktis dalam skala kecil akan membangun self-efficacy yang pada gilirannya memicu lahirnya minat-minat baru.
Seminar di Gedung KFC Kampus BINUS Kijang ini ditutup dengan sesi foto bersama dan harapan agar para mahasiswa dapat lebih bijak, adaptif, serta strategis dalam merajut masa depan dan perjalanan karier mereka.


Comments :