Catcalling Bukan Pujian : Kenapa Kita Sering Diam Saat Batasan Dilanggar, Why ?
- Andrea Prita
- articles
- baydhowi
- binus bekasi
- Book Review
- Catatan dosen
- Lab Psikologi
- psikologi bekasi
Catcalling istilah ini mungkin tidak asing kita dengar. Namun kita perlu mendalami prilaku ini agar terhindar dari perbuatan yang tidak baik ini. sebab kadang kita tidak menyadari bahwa kita membuat lelucon berkaitan dengan orang lain, namun sebenarnya kita sudah melakukan catcalling itu sendiri. Tentu kita tidak ingin ini terjadi. Disini kita akan bahas lebih lanjut mengenai apa itu catcalling dan dampaknya, serta memberikan solusi penanganan saat kita menjadi bahan catcalling dari orang-orang. Pasti kita sudah sering mendengar kalimat “Kiw hai cewe, lihat sini dong cantik”, “ Ih, gitu doang masa ngambek”, “ Biasa aja dong nanggepinnya, gausah dibawa ke hati kali neng”, “ Ampun dah baperan banget, nanti cantiknya ilang lohh”. Kalau kamu kuliah di jurusan Psikologi, pastinya kan sudah tidak asing lagi mendengar kalimat-kalimat tersebut. Kita dari situ belajar tentang empati pada oranglain, boundaries, kesehatan mental. Tapi kebanyakan orang masih menganggap hal enteng, bahkan ada yang sama sekali tidak perduli, dan bahkan ini sering terjadi ditempat umum seperti sekolah, kampus, kantor, bisa juga melalui media sosial. Setelah itu respon kita sering kali delay, kebingungan, atau bahkan baru muncul pertanyaan “ wait, apa gue tadi kelewatan yahh?”
Pernahkah kamu berada di posisi tersebut? Tenang saja, kamu tidak berlebihan dan tidak sendirian. Melalui sudut pandang psikologi, kita akan membahas cara terbaik untuk menghadapi situasi ini.
Pelecehan Itu Bukan Perkara Soal Nafsu Tapi Ini Soal Kuasa
Mitos terbesar yang masih dipercaya Adalah pelecehan tersebut terjadi karena mungkin baju korban yang terbuka atau malah karena tersangka tidak bisa menahan hasratnya. Tapi di psikologi menjelaskannya beda ya.
Menurut Fitzgerld & Cortina (2018) menjelaskan, bahwa akar dari pelecahan seksual adalah Power and Control, bukan karena ada ketertarikan seksual. Pelecehan merupakan alat untuk menunjukkan dominasi dan serta merendahkan orang lain. Nah inilah pelecehan yang sering terjadi pada relasi yang menimpang sama kuasanya. Contoh saja senior kepada junior, dosen kepada mahasiswa, atau bahkan relasi terdekat yang melakukannya. Ya mungkin, pelaku menyandang status yang lebih tinggi, sehingga berhak mwlanggar privasi orang, dan bahkan lebih parahnya lagi menyalahkan korban.
Kenapa Korban Sering Diam? Otak Kita Masuk kedalam Fase Bertahan Hidup
Banyak sekali orang yang bertanya“ Sis, kenapa waktu itu ga dilawan aja?”. Ya mungkin ada beberapa orang yang bisa melawan, akan tetapi lebih banyak orang diam saja, karena otak kita stag saat trauma, merasa terancam, sehingga kinerja otak tidak bisa berfikir jernih. Amigdala mengambil alih dan merespon otomatis Fight, Flight, atau Freeze (Walter Cannon, 1932) yaitu reaksi otomatis tubuh ketika menghadapi sesuatu yang dianggep bahaya. Setelah itu, munculah Self-Blaming yang merupakan distorsi kognitif korban yang menyalahkan dirinya sendiri. Menurut Janoff-Bulmann (1979) self-blame merupakan usaha otak untuk menciptakan rasa control semu : “ Jika ini salahku, apa aku bisa mencegahnya jika terjadi lagi?” Justru ini bisa memperparah kondisi psikologis korban.
Kenapa Semua Orang disekitar Ikut Terdiam? Ya, kita menyebutnya sebagai Bystandar Effect
Pastinya, kita sering meliht dong banyaknya kasus pelecehan yang terjadi didepan umumkan ya, tetapi kenapa semua orang memilih untuk diam saja? Kita kan harusnya nih sebagai mahasiswa pasti tahu lah Bystandar Effect dari Darley & Latane. Menurut Darley & Latane (1970) menyebutkan bahwa makin banyka orang ada ditempat kejadian, jumlahnyya makin kecil ada kemungkinan seseorang memberikan pertolongan. Terdapat dua psikologis yaitu diffusion of responsibility (rasa tanggung jawab yang menyabar), dan plurance ignorance (situasi seruis karena orang lain cukup diam).
Nah, Lalu Kita Sebagai Mahasiswa Psikologi Harus Berbuat Apa Dongg ?
Kita tidak harus memposisikan diri sebagai pahlawan bagi orang lain. Cukup hadir sebagai pendengar yang baik. Jika kerabat atau teman berada dalam situasi tersebut, hindari langsung menginterogasinya. Langkah pertama yang paling utama adalah memberikan validasi. Menurut Psychological Fust Aid (Ruzek et al., 2007) yang dibutuhkan sama temen mu adalah rasa aman yang paling penting didengarkan. Kita sebgaia pendengar jangan salah dalam bertanya atau mungkin kita bisa jawabnya gini ya “ Thanks ya lu udah bisa cerita sama gue. Itu sama sekali bukan salah lu. Tenang gw disini ada buat lu, lu butuh gw bantu apa sekarang?”
Jika kamu berada di posisi sebagai saksi, kamu bisa menerapkan metode intervensi 5D dari Hollaback!:
- Direct (Tegur): Tegur langsung pelaku jika situasinya aman. Contoh: “Mas, komentarnya tidak sopan ya.”
- Distract (Alihkan): Alihkan perhatian untuk memutus situasi. Ajak korban berbicara: “Eh, kamu angkatan berapa? Aku sedang mencari ruangan X nih.”
- Delegate (Minta Bantuan): Minta bantuan pihak yang berwenang—seperti satpam kampus, dosen, atau pengurus HIMA.
- Delay (Tunda): Jika saat kejadian kamu tidak bisa berbuat apa-apa, dekati korban setelahnya. “Tadi kamu tidak apa-apa? Mau ditemani ke mana?”
- Document (Dokumentasikan): Catat waktu, tempat, dan kejadian yang berlangsung. Dokumentasi ini sangat penting jika korban ingin melapor nanti.
Kampus seharusnya menjadi ruang aman (safe space) untuk kita bertumbuh. Memahami batasan orang lain adalah bentuk empati paling dasar, khususnya bagi kita yang belajar di psikologi. Jika kamu atau temanmu mengalami dampak lanjutan seperti cemas berlebihan, sulit tidur, atau terus teringat kejadian tersebut, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Itu adalah respons yang normal terhadap pengalaman yang tidak normal.”
REFERENSI
- Fitzgerald, L. F., & Cortina, L. M. (2018). Sexual harassment in work organizations: A view from the 21st century. In C. B. Travis & J. W. White (Eds.), APA handbook of the psychology of women (pp. 215–234). American Psychological Association.
- Hollaback! (2021). The 5 D’s of bystander intervention. righttobe.or
Penulis : Widati Padmarini Sastiawan dan Baydhowi
Editor : Privianda Azahra Puanrani

Comments :