Source: Esquire (2026)

Film psychological horror sering menggunakan hubungan romantis untuk mengeksplorasi ketakutan, ketergantungan, dan kehilangan kontrol. Salah satunya adalah Obsession, film karya Curry Barker yang mengikuti kisah Bear dan Nikki. Dalam film tersebut, Bear menggunakan benda supernatural bernama One Wish Willow dengan harapan agar Nikki mencintainya lebih dari siapapun. Keinginannya terkabul, tetapi perasaan tersebut kemudian berkembang menjadi obsesi yang semakin ekstrem.

Meskipun unsur supernatural menjadi bagian penting dari cerita, Obsession juga membuka ruang untuk membahas kebutuhan manusia akan cinta, kedekatan, dan rasa aman melalui perspektif attachment theory.

Apa Itu Attachment Theory?

Attachment theory dikembangkan oleh John Bowlby untuk menjelaskan ikatan emosional antara anak dan figur pengasuhnya. Teori ini kemudian dikembangkan melalui penelitian Mary Ainsworth mengenai pola keterikatan pada anak (Ainsworth et al., 1978).

Pengalaman dalam hubungan awal dapat berkontribusi pada terbentuknya internal working models, yaitu cara individu memandang dirinya, orang lain, serta sejauh mana orang lain dapat diandalkan untuk memberikan rasa aman.

Konsep attachment kemudian dikembangkan ke dalam konteks hubungan romantis. Hazan dan Shaver (1987) mengusulkan bahwa cinta romantis juga dapat dipahami sebagai proses attachment. Pasangan dapat menjadi sumber kedekatan, dukungan emosional, dan rasa aman.

Ketika Kebutuhan akan Kedekatan Menjadi Sangat Intens

Salah satu pola attachment pada hubungan dewasa adalah preoccupied attachment. Dalam model Bartholomew dan Horowitz (1991), pola ini ditandai dengan pandangan yang relatif negatif terhadap diri sendiri dan positif terhadap orang lain. Akibatnya, penerimaan dan kedekatan dari pasangan dapat menjadi sangat penting bagi rasa aman seseorang.

Individu dengan kecenderungan attachment anxiety yang tinggi juga dapat menjadi lebih sensitif terhadap tanda penolakan, jarak emosional, atau kemungkinan kehilangan pasangan.

Dalam Obsession, konsep tersebut dapat digunakan sebagai lensa untuk memahami tema film, bukan sebagai diagnosis terhadap Nikki atau karakter lainnya. Film menggambarkan kebutuhan akan kedekatan dalam bentuk yang sangat ekstrem hingga hubungan mulai mendominasi keputusan, relasi sosial, dan batas pribadi.

Namun, perilaku ekstrem Nikki tidak dapat dijelaskan hanya melalui attachment. Dalam cerita, perubahan perilakunya secara langsung berkaitan dengan unsur supernatural. Karena itu, attachment theory lebih tepat digunakan untuk membahas tema kedekatan, ketergantungan emosional, rasa aman, dan ketakutan kehilangan yang muncul dalam film.

Attachment Bukan Berarti Obsesi

Penting untuk dipahami bahwa insecure attachment tidak sama dengan perilaku obsesif atau berbahaya.

Attachment yang tidak aman dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang merespons kedekatan, penolakan, atau kebutuhan akan kepastian dalam hubungan. Namun, seseorang dengan insecure attachment tidak otomatis menjadi posesif, manipulatif, atau berbahaya terhadap pasangannya.

Karena itu, Obsession sebaiknya tidak dipahami sebagai gambaran bahwa anxious atau preoccupied attachment menyebabkan obsesi. Film ini lebih tepat digunakan sebagai titik awal untuk membicarakan bagaimana kebutuhan akan kedekatan dapat menjadi tidak sehat ketika hubungan kehilangan batas, otonomi, dan kebebasan masing-masing individu.

Cinta Tidak Berarti Kehilangan Otonomi

Salah satu tema menarik dalam Obsession adalah batas antara cinta dan kepemilikan. Dalam hubungan yang sehat, kedekatan tidak berarti kehilangan kebebasan. Kedua pihak tetap memiliki ruang untuk menjalani kehidupan, mempertahankan hubungan dengan orang lain, dan membuat keputusan secara mandiri. Ketika hubungan mulai ditandai oleh ketakutan kehilangan yang sangat intens, kebutuhan akan validasi terus-menerus, atau tuntutan agar pasangan menjadi satu-satunya sumber rasa aman, hubungan dapat menjadi semakin tidak seimbang.

Dari perspektif attachment, ancaman terhadap kedekatan memang dapat mengaktifkan attachment system dan mendorong seseorang untuk mencari kembali rasa aman. Namun, respons setiap individu dapat berbeda dan dipengaruhi pula oleh pengalaman, regulasi emosi, serta konteks hubungan. Karena itu, Obsession dapat dibaca bukan sebagai cerita bahwa “insecure attachment menyebabkan obsesi,” tetapi sebagai gambaran ekstrem tentang hubungan ketika cinta kehilangan batas dan otonomi.

Pada akhirnya, kedekatan yang sehat bukan hanya tentang seberapa kuat seseorang membutuhkan pasangannya, tetapi juga tentang adanya rasa aman, batas yang sehat, kebebasan, dan penghargaan terhadap kebutuhan kedua belah pihak.

References

Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attachment: A psychological study of the strange situation. Lawrence Erlbaum Associates.

Bartholomew, K., & Horowitz, L. M. (1991). Attachment styles among young adults: A test of a four-category model. Journal of Personality and Social Psychology, 61(2), 226–244. https://doi.org/10.1037/0022-3514.61.2.226

Bowlby, J. (1982). Attachment and loss: Retrospect and prospect. American Journal of Orthopsychiatry, 52(4), 664–678. https://doi.org/10.1111/j.1939-0025.1982.tb01456.x

Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524. https://doi.org/10.1037/0022-3514.52.3.511

Osman, J. (2026, July 7). ‘Obsession’, 2026’s buzziest horror film, is finally available to watch at home in the UK. Esquire. https://www.esquire.com/uk/culture/film/a71850891/how-to-watch-obsession-2026-uk/

Written by Athaullah Nuran Hilmi S. (2702364313)

Edited by : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra