Setiap orang mungkin pernah merasa dirinya berbeda tergantung situasi yang dihadapi. Seseorang bisa terlihat pendiam di lingkungan kampus, tetapi sangat aktif saat bersama teman dekat. Ada juga yang terlihat tegas di organisasi, namun sebenarnya sensitif dan mudah overthinking ketika sendirian. Fenomena ini sering disebut sebagai “second persona”, yaitu sisi diri yang muncul dalam kondisi atau lingkungan tertentu. 

Pada dasarnya, memiliki perilaku yang berbeda di setiap situasi adalah hal yang normal. Manusia cenderung menyesuaikan cara berbicara, bersikap, dan mengekspresikan diri sesuai lingkungan sosialnya. Hal ini dilakukan agar seseorang dapat diterima, merasa aman, atau lebih nyaman dalam berinteraksi. Misalnya, seseorang mungkin bersikap profesional saat bekerja, tetapi menjadi lebih santai ketika berada di rumah bersama keluarga. 

Second persona bukan berarti seseorang memiliki kepribadian palsu atau tidak menjadi dirinya sendiri. Dalam psikologi, hal ini lebih berkaitan dengan kemampuan individu beradaptasi terhadap peran sosial yang berbeda. Setiap orang memiliki banyak sisi dalam dirinya, dan sisi tertentu bisa muncul tergantung keadaan yang dihadapi. Karena itu, wajar jika seseorang merasa dirinya “berbeda” ketika berada di lingkungan yang berbeda. 

Namun, masalah bisa muncul ketika seseorang terlalu sering menekan diri aslinya demi memenuhi ekspektasi orang lain. Ada orang yang terus berpura-pura kuat, ceria, atau tenang meskipun sebenarnya merasa lelah secara emosional. Jika dilakukan terus-menerus, hal ini dapat membuat seseorang merasa kehilangan jati dirinya sendiri karena terlalu terbiasa memainkan “peran” tertentu di depan orang lain. 

Media sosial juga menjadi salah satu faktor yang memperkuat munculnya second persona. Banyak orang membangun citra tertentu di internet agar terlihat menarik, sukses, atau bahagia. Padahal, apa yang ditampilkan belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi asli mereka. Akibatnya, tidak sedikit orang merasa harus terus mempertahankan persona tersebut demi mendapatkan penerimaan sosial. 

Pada akhirnya, memiliki sisi diri yang berbeda dalam situasi tertentu adalah hal yang manusiawi. Yang terpenting adalah tetap mengenali diri sendiri dan tidak kehilangan identitas hanya karena ingin memenuhi ekspektasi lingkungan. Menyesuaikan diri memang penting, tetapi seseorang juga perlu memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa merasa harus selalu memakai “topeng” di hadapan orang lain. “Jangan takut menjadi dirimu sendiri; dunia tidak membutuhkan salinan, tetapi keaslian.” 

 Referensi 

  • The Presentation of Self in Everyday Life — Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books. 
  • Personality: Theory and Research — Cervone, D., & Pervin, L. A. (2019). Personality: Theory and Research (14th ed.). Wiley. 
  • The Archetypes and the Collective Unconscious — Jung, C. G. (1968). The Archetypes and the Collective Unconscious. Princeton University Press. 
  • Social Psychology — Myers, D. G., & Twenge, J. M. (2019). Social Psychology (13th ed.). McGraw-Hill Education. 

Penulis : Khairini Nathania dan Baydhowi 

Editor : Privianda Azahra Puanrani