Scroll, Reward, Repeat: Siklus Dopamin di Era Digital
Pernahkan kamu berniat membuka media sosial hanya sebentar, tetapi tanpa sadar menghabiskan waktu berjam–jam untuk terus meng-scroll layar? Fenomena ini dapat dijelaskan melalui cara kerja otak dalam merespons reward atau penghargaan. Berdasarkan penelitian Wolfram Schultz yang dipublikasikan dalam Nature Reviews Neuroscience (2016), dopamine bukan sekedar zat kimia yang membuat seseorang merasa senang, melainkan neurotransmitter yang berperan penting dalam motivasi, antisipasi, dan dorongan untuk mengejar reward. Ketika seseorang menerima notifikasi, menemukan konten menarik, atau memperoleh respons positif di media sosial, otak memproses pengalaman tersebut sebagai reward yang memicu pelepasan dopamine, sehingga muncul keinginan untuk mengulangi perilaku yang sama.
Selain itu, berdasarkan studi dalam Journal of Neural Transmission (2018), otak memiliki mekanisme belajar melalui pola cue–expectation-reward, yaitu ketika suatu isyarat (misalnya bunyi notifikasi) memunculkan ekspektasi akan reward, lalu diikuti pengalaman yang memuaskan, otak akan merekam pola tersebut sebagai kebiasaan yang layak diulang. Dalam konteks digital, pola ini terjadi ketika seseorang membuka ponsel dengan harapan menemukan sesuatu yang menarik, seperti pesan, hiburan, atau validasi sosial, dan pengalaman itu mendorong perilaku scrolling secara berulang. Tidak heran jika banyak orang merasa “hanya sebentar membuka aplikasi”, tetapi akhirnya menghabiskan waktu jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Lebih lanjut, penelitian dalam Brain Sciences (2025) menunjukkan bahwa dopamine cenderung meningkat ketika seseorang menghadapi reward yang bersifat baru, tidak pasti, dan muncul secara tidak menentu. Hal inilah yang membuat media soosial sangat menarik bag otak, karena setiap scroll selalu menghadirkan kemungkinan menemukan sesuatu yang mengejutkan atau memuaskan. Namun, paparan stimulasi cepat yang terus-menerus dapat membuat otak terbiasa dengan instant gratification, sehingga aktivitas yang membutuhkan fokus dan proses lebih panjang, seperti membaca, belajar, atau bekerja, sering terasa lebih berat dan kurang menarik.
Dengan memahami dopamine loop, kita dapat melihat bahwa kebiasaan terus-menerus mengecek ponsel bukan semata-mata karena kurang disiplin, melainkan juga karena adanya mekanisme biologis yang memperkuat perilaku tersebut. Kesadaran ini penting agar kita dapat mulai membangun pola penggunaan teknologi yang lebih sehat, seperti membatasi notifikasi, memberi jea dari layar, dan kembali melibatkan diri dalam aktivitas yang memberikan kepuasan secara alami. Di era digital, menjaga perhatian bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga soal menjaga kesehatan psikologis kita.
Referensi
Schultz, W. (2016). Dopamine reward prediction-error signalling: A two-component response. Nature Reviews Neuroscience, 17(3), 183–195. https://doi.org/10.1038/nrn.2015.26
Lak, A., Stauffer, W. R., & Schultz, W. (2018). Reward and value coding by dopamine neurons in non-human primates. Journal of Neural Transmission, 125(3), 457–469. https://doi.org/10.1007/s00702-017-1793-9
Wikenheiser, A. M., & Schoenbaum, G. (2025). Balancing risk and reward: Dopamine’s central role in economic decision-making. Brain Sciences, 15(8), 857. https://doi.org/10.3390/brainsci15080857
Penulis: Balqis Amira Firdausjie
Editor : Andrea Prita Purnamasari

Comments :