Kevin Jonathan Japar [2602105071] Psychology BINUS @Kemanggisan

“I may cry through the night / But my joy comes in the morning.”

— RAYE, “Joy”

Semalam sebelum babak semifinal dan final dalam Kompetisi Mindmasters Contest 2026 dimulai, saya merasakan kesesakan yang begitu kuat dalam hati. Hati saya dipenuhi dengan kesedihan dan kekecewaan bercampur kelelahan sembari berpikir negatif bahwa usaha saya sia-sia dan tak berarti setelah mendengarkan beberapa kata yang menusuk hati dari orang yang saya kasihi. Saya meneteskan air mata di atas laptop yang digunakan untuk belajar dan berpikir untuk apa saya berjuang sampai sejauh ini jika ternyata orang paling terdekat saya seakan tidak menghargainya. 

Saya segera mematikan laptop dan berkata dalam hati dengan penuh rasa ingin menyerah, “Tidak apa-apa jika saya kalah. Tidak usah lagi belajar”. Tapi, ketika saya mau tidur, ada suara yang muncul di pikiran saya, “Pemenang adalah orang yang mampu bertahan sampai akhir”. Perkataan ini memberikan saya kekuatan, semangat, dan sukacita saya. Saya percaya kekuatan ini datang dari Tuhan Yesus Kristus. 

– Inilah cerita pengalaman dari pemenang juara 1 Mindmasters Contest 2026, yaitu seorang anak yang dulu hampir meninggal atau seharusnya berada di Panti Asuhan, tetapi dipilih Tuhan Yesus untuk memenangkan pertandingan demi pertandingan [I hope you get something from this story! 😊]. – 

My Experience at the Mindmasters Contest 2026

 Mindmasters 2026 merupakan kompetisi Psikologi nasional yang diselenggarakan Universitas Tarumanegara (UNTAR) dengan tema “Decoding the Mind, Defying the Expected”. Salah satu cabang kompetisi Mindmasters 2026 adalah Mindmasters Contest atau umumnya disebut cerdas cermat yang bersifat individual. Kompetisi ini merupakan cerdas cermat terakhir bersama dengan Yvonne dan Valerie, rekan tim saya sebelumnya ketika berkompetisi cerdas cermat sebagai satu kelompok yang sangat saya kasihi. 

Dengan sukacita, saya bisa bertanding sekali lagi dengan mereka, tapi memang harus sebagai lawan kali ini. Inilah yang menjadi alasan saya ketika mendaftar kompetisi ini, yaitu menikmati waktu bersama dengan mereka dan rekan-rekan lainnya dalam komunitas Psyfeeds (komunitas lomba yang difasilitasi oleh jurusan Psikologi BINUS). Tentu, saya juga masih ingin belajar banyak hal baru dalam Psikologi sembari mendapatkan hadiah uangnya yang menggiurkan [I mean siapa sih yang gak mau? Hehehe 🥰]. 

Setelah beberapa waktu lama sejak pendaftaran dibuka, akhirnya tiba hari pertama dari kompetisinya. Kompetisi ini dibuka dengan sambutan meriah dari panitia, berbagai pertunjukkan, dan parade dari masing-masing peserta dari berbagai universitas. Peserta dipanggil satu per satu menuju panggung auditorium dan ketika nama saya dipanggil, saya maju dengan penuh bangga dan senang sekali memikirkan hal seru apa saja yang akan terjadi nantinya. Saya ingin menikmati dengan penuh sukacita momen ini!

Seumur-umur hidup dan setelah berlomba 6x kompetisi cerdas cermat, belum pernah saya temukan soal yang jauh dari kata konvensional di Babak 1: Psikologi Umum. Soal-soalnya sangat unik, misalnya diminta untuk menghafal 7-10 angka dalam 2 detik dan ditanya angka ke-6 itu angka berapa, dan bahkan sempat merasa akan kalah di babak ini karena mental saya tidak siap atau lebih tepatnya kaget. Tapi, sekali lagi saya tidak ingin memikirkan kalah/menang karena saya hanya ingin enjoy dan ternyata, saya lolos bersama dengan kedua rekan saya. 

Masuk ke Babak 2: Psikologi Pendidikan, saya semakin percaya diri karena soal-soalnya cukup mudah ditambah dengan keseruan menempel-nempel jawaban seperti scrapbook pada lembar soal berhubung soal ini mencocokkan antara definisi dan istilah. Kali ini, saya tidak merasa akan kalah karena saya yakin dengan jawabannya saya untuk lolos dan memang nyatanya lolos bersama dengan kedua rekan saya [OF COURSE I’M HAPPY!!! 🤩].

Di hari kedua, agak seram [bukan agak, tapi memang seram banget] karena Babak 3 dan Babak 4 merupakan babak yang saya sangat segan dan bikin pusing sekali, yaitu Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dan Statistika Dasar/Psikometri [DUARRR!]. Semalaman, Yvonne membantu saya untuk memahami PIO karena dia pro-player PIO dan kami belajar bareng buat menyiapkan diri untuk hitung-hitungan yang tidak diketahui keberadaan x dan y. Babak 3 mengharuskan saya untuk melakukan studi kasus terhadap suatu permasalahan dalam industri dan organisasi. 

Saya merasa babak ini benar-benar penyertaan dari Tuhan karena saya harus memilih salah satu amplop yang berisikan masalah yang perlu diselesaikan dan masing-masing amplop memiliki masalah yang berbeda. Saya tidak bisa membayangkan jika saya dapat permasalahan organisasi yang super duper rumit dan ribet, apalagi saya hanya diberikan 3 menit untuk menganalisisnya. Entah kenapa, saya tertarik sekali untuk mengambil amplop nomor 1 [ya karena nomor 1 yaitu juara 1, hehehe] dan betul sekali ketika saya membukanya, saya mendapatkan masalah yang sangat saya kuasai, yaitu penerapan Psikometri pada tahap-tahap rekrutmen dalam perusahaan karena saya telah hampir 1 tahun magang di EXPERD Consultant sebagai Research & Development Intern yang familiar dengan masalah-masalah penerapan Psikometri. Saya mempresentasikannya di depan juri dengan sangat percaya diri dan tentunya, saya lolos bersamaan dengan kedua rekan saya. 

Tibalah Babak 4, babak yang cukup mengguncangkan eksistensi diri saya [maaf, hiperbola, huhuhuhu]. Sebagian soalnya berupa teori dan interpretasi data yang mana saya cukup kuasai, tapi sebagiannya lagi berupa hitung-hitungan manual dan rumusnya belum pernah saya pelajari sebelumnya. Alhasil, saya harus mengarang indah dan membuat rumus sendiri untuk memperkirakan jawaban hitung-hitungannya. Saya merasa kalah, tapi tetap saya memiliki mindset untuk enjoy, tidak peduli siapa kalah/menang. Fast forward, saya lolos [WOYLAHH AKU KAGET GILE!] dan perasaan saya bercampur aduk karena salah satu rekan saya tidak lolos [😭🤮😊]. Saya harus tetap enjoy!

Babak 5: Psikologi Sosial merupakan babak terakhir di hari kedua. Saya tetap menjalaninya dengan penuh enjoy dan cukup percaya diri karena cabang Psikologi ini merupakan materi yang sangat saya kuasai. Tentu, saya lolos bersama dengan satu rekan saya yang tersisa. 

Saya pulang mempersiapkan diri untuk hari ketiga, babak semifinal dan final. Saya sering belajar bersama dengan kedua rekan saya ketika pulang untuk mempersiapkan kompetisi hari-hari berikutnya, tapi sayang sekali satunya tidak lolos dan hal tersebut membuat malam itu sangat menjadi aneh dan berat. Belum lagi, ada perselisihan lainnya [yang telah aku jelasin di awal hehehe] yang membuat saya hampir menyerah menjelang babak yang sangat penting. Bayangkan saja, setelah berbagai eliminasi, dari 18 peserta menjadi 5 peserta (termasuk saya). Bagaimana tidak terasa tekanan-nya yang kuat itu? Tentu terasa sekali. Bayangkan saja, kalian harus belajar 7 cabang Psikologi dengan lebih dari 7 buku Psikologi yang tebal. 

“I’ll overcome.” 

— RAYE, “I Will Overcome”

Saya akan menikmati pertandingan ini dan memenangkannya, bertahan sampai akhir! Tibalah hari ketiga, dimulailah Babak 6 (semifinal): Psikologi Klinis/Psikopatologi yang saya rasa akan menjadi tempat perhentian terakhir saya. Masing-masing peserta dipanggil satu per satu maju ke depan secara bergiliran dan dibacakan 20 soal oleh juri yang kemudian harus dijawab langsung oleh peserta, semacam ujian lisan. Soal-soalnya cukup sulit karena soalnya berupa open-ended dan saya tidak tahu jawaban mana yang dianggap benar oleh juri karena dalam dunia peristilahan, ada banyak sekali jawaban yang mungkin benar tergantung dari konteks pertanyaannya. 

Saya hanya menjawab beberapa pertanyaan saja (kurang dari 10), tapi saya yakin jawaban saya pasti benar karena kalau salah, dapat pengurangan poin sehingga saya lebih memilih bermain aman. Saya merasa kalah [OH TENTU!] karena yang lain mereka bisa jawab banyak dan saya merasa rekan saya yang akan menang. Disebutkanlah top 3 yang akan memasuki babak final, mulai dari yang tertinggi sampai ke posisi ketiga. Posisi pertama dan kedua bukanlah saya atau rekan saya, ini membuat kami semakin khawatir. 

Ketika posisi ketiga dibacakan, saya sangat kaget karena ternyata sayalah yang lolos dengan menggugurkan satu rekan saya ini. Perasaan saya bercampur aduk antara 🤩 dan 😭. Tapi, rekan saya sangat senang dan terharu ketika saya yang lolos. Sebagai konteks, dalam kompetisi yang sangat amat besar, saya bersama dengan kedua rekan saya sebagai satu kelompok sering berada di posisi 4 dan saya mengatakannya sebagai kutukan 4. Hal inilah yang membuat kami senang karena seakan-akan kutukan 4 ini telah dihancurkan dan akhirnya saya, mewakili kelompok sebelumnya, lolos masuk babak final. 

Belum selesai! Babak 7 (final): Psikologi Kepribadian sebagai babak rebutan untuk menjawab soal yang dibacakan langsung juri dimulai. Saya sama sekali tidak melihat poin ketiga peserta terakhir yang ditampilkan melalui layar proyektor sampai menjelang soal akhir karena saya tidak mau tertekan oleh dinamika perubahan poin antar pemain, apalagi melihat saya diposisi ketiga ketika saya salah menjawab. Ketika soal mau berakhir, ada satu soal yang ingin saya jawab, tapi ragu karena ada dua istilah yang muncul di kepala saya. Saya memilih tidak jawab karena ketika saya melihat poin antar pemain, saya ternyata di posisi pertama. Dengan demikian, seluruh babak berakhir dan dengan ini, saya memenangkan juara 1. 

How I Won Mindmasters Contest 2026?

Saya telah mempersiapkan diri mencicil belajar dengan latihan soal dari jauh-jauh hari, yaitu empat bulan sebelum hari lomba. Saya juga tidak perlu belajar banyak karena dari semester 1, saya benar-benar mendengarkan ajaran dosen sehingga ketika berlomba, ada banyak hal yang teringat dari materi yang diajarkan kelas. Kemudian, saya juga belajar menggunakan bantuan rangkuman yang ada di setiap akhir dari bab buku dan glosarium berhubung soal-soal cerdas cermat langsung menyangkut istilah Psikologi. 

Saya juga mulai mempelajari hal-hal yang kurang bisa saya pahami karena jika saya belajar ulang hal yang pernah saya pelajari, saya akan cepat bosan. Kemudian, selama saya belajar, saya sering mengaitkan hal yang sulit saya pahami dengan hal yang relate, familiar, dan terdengar lucu bagi saya. Tentu, saya menyerahkan segala usaha saya kepada Tuhan dan percaya bahwa Dia akan memberikan sukacita dan damai sejahtera. 

Berbicara tentang sukacita, sekitar seminggu sebelum hari lomba, saya selalu mendengarkan lagu-lagu yang menimbulkan perasaan senang dan penuh keyakinan untuk mampu menghadapi segala tantangan, misalnya lagu-lagu rohani dan beberapa lagu dari RAYE. Saya mempersiapkan perasaan dalam kondisi yang penuh dengan senang karena ketika lomba dimulai, tekanan, kecemasan, dan perasaan gugup biasanya mulai menguasai seseorang. Jika, seseorang di awal-awal sudah memiliki perasaan yang negatif, maka ketika lomba dimulai, maka pengaruhnya akan semakin kuat sehingga adalah langkah baik jika seseorang menjaga perasaannya dengan baik. 

Saya juga bersyukur bahwa saya diberikan komunitas yang saling mendukung satu sama, terkhususnya Kak Aul sebagai pelatih saya dan teman seperjuangan saya, yaitu Yvonne dan Valerie di mana kita bisa saling belajar bersama dan saling mendukung secara emosional. Sama satu hal terakhir, jangan pernah menyerah apapun kondisinya karena jika saya menyerah di malam itu, maka semuanya bisa berakhir. PRAISEEE DA LORRDDD!