Terjebak dalam Kata: Memahami Fenomena Neurolinguistik Afasia
Bahasa adalah anugerah manusia yang luar biasa, sebuah jembatan yang menghubungkan budaya dan keyakinan. Jauh sebelum manusia menguasai kemampuan membaca dan menulis, bahasa hidup melalui kata-kata yang terucap, berkelana melalui gelombang udara. Namun, disaat neurolinguistik terus mengungkap lebih dalam terhadap cara kita berkomunikasi, diketahui jembatan ini bisa saja retak.
https://unsplash.com/photos/shallow-focus-photo-of-scrabble-pieces-S6hz7Y1FCTs
Salah satu contoh utamanya adalah Afasia, sebuah gangguan neurolinguistik yang biasanya diakibatkan oleh kerusakan pada pusat bahasa di otak, misalkan stroke, tumor, atau cedera kepala. Sangat penting untuk dipahami bahwa afasia adalah gangguan komunikasi, bukan gangguan kognitif. Kondisi ini tidak ada penurunan terhadap kecerdasan mereka, tetapi menghambat kemampuan seseorang untuk memahami atau memproduksi kata. Hal ini seringkali membuat mereka merasa “terperangkap” di balik jeruji bahasa dan berjuang keras untuk berhubung dengan lingkungan sekitarnya.
Pemahaman klasik mengenai hubungan otak dan bahasa mengidentifikasi tiga jenis afasia yang paling umum, yang masing-masing terkait dengan wilayah spesifik di belahan otak kiri (Left Hemisphere):
- Afasia Broca (Ekspresif) Dinamakan sesuai dengan wilayah di lobus frontal yang bertanggung jawab atas produksi bicara. Sering disebut sebagai afasia “non-fluent” atau “ekspresif”, individu dengan kondisi ini merasa “mesin bicara” mereka mogok. Mereka biasanya memahami apa yang dikatakan kepada mereka seringkali bersifat “telegrafik”, dimana kata mereka sedikit, terpatah-patah dan membutuhkan usaha fisik serta mental yang besar meski hanya untuk mengeluarkan beberapa kata. Hal ini menciptakan celah yang mempersulit antara pikiran mereka dengan penyampaian.
- Afasia Wernicke (Reseptif) Berbanding terbalik dengan Broca, afasia ini berasal dari kerusakan pada lobus temporal posterior. Disebut juga sebagai “fluent” atau “reseptif” karena penderitanya walau dapat berbicara dengan lancar, menjaga irama dan tata bahasa yang terdengar alami. Namun, isi pembicaraan mereka sering kali terasa tidak masuk akal, dibumbui dengan kata-kata buatan atau frasa yang tidak relevan, fenomena ini terkadang disebut sebagai word salad (gado-gado kata). Karena area Wernicke pusat bagi pemahaman bahasa, mereka mungkin tidak menyadari bahwa ucapannya tidak dimengerti orang lain, dan mereka pun kesulitan membedah makna dari apa yang diucapkan kepada mereka.
- Afasia Global Hal ini terjadi ketika adanya kerusakan cukup luas hingga mencakup area Broca dan Wernicke. Dalam kasus ini, individu menghadapi hambatan mendalam di seluruh spektrum komunikasi. Mereka mungkin tidak mampu menghasilkan lebih dari beberapa suara yang repetitif dan hampir kehilangan kemampuan untuk memahami bahasa lisan maupun tulisan. Dengan mempelajari afasia mengingatkan kita bahwa kemampuan untuk membagi isi pikiran kita adalah sebuah pencapaian biologis yang sangat delikat. Baik seseorang berjuang dengan hambatan motorik pada Broca, dinding pemahaman pada Wernicke, atau dampak lainnya. Menyadari bahwa intelektualitas seseorang tetap utuh dibalik hambatan bahasa tersebut, kita dapat menciptakan lingkungan inklusif bagi mereka yang tengah berjuang menemukan kembali suaranya.
Referensi:
Dronkers, N. F., Ivanova, M. V., & Baldo, J. V. (2017). What Do Language Disorders Reveal about Brain–Language Relationships? From Classic Models to Network Approaches. Journal of the International Neuropsychological Society, 23(9–10), 741–754. https://doi.org/10.1017/s1355617717001126
Le, H., Lui, F., & Lui, M. Y. (2024). Aphasia. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559315/
Penulis: Kezia Ho – 2702227151
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri
Comments :