Di tengah ramainya budaya kerja keras tanpa henti dan pengidealan akan produktivitas. Muncul istilah baru di kalangan generasi muda terutama Gean Z yaitu “Soft life”. Soft life mengacu pada gaya hidup yang lebih tenang, mengutamakan kenyamanan, keseimbangan serta mengurangi tingkat stres. Pemikiran ini juga dibahas dalam Jurnal Softlife vs Hardlife Mentality. Jurnal tersebut membandingkan mentalitas antara soft life dengan hard life dengan cara individu memaknai dan mengejar kebahagiaannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah soft life merupakan bentuk perlawanan sehat terhadap tekanan sosial dan budaya kerja yang melelahkan, atau justru penghindaran dari tantangan hidup yang takut akan kegagalan?

Soft life dipahami sebagai orientasi hidup yang menekankan kenyamanan, ketenangan emosional, dan pengurangan tekanan psikologis. Berbeda dengan “hard life” atau hustle life yang identik dengan perjuangan dan kerja keras ekstrem, soft life mencoba menggeser fokus dari pencapaian eksternal menuju kesejahteraan internal.

Secara psikologis, pandangan ini dapat dikaitkan dengan hedonic well-being, yaitu pencarian kebahagiaan melalui pengalaman menyenangkan dan emosi positif. Penelitian lain menunjukkan bahwa motivasi hedonik berkaitan dengan peningkatan emosi positif dan kepuasan hidup dalam jangka pendek. Hal ini menunjukkan bahwa mencari kenyamanan dan mengurangi stres bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif.

Di tengah meningkatnya angka stres dan burnout pada generasi muda, memilih hidup yang lebih lembut dapat menjadi bentuk self-regulation yang adaptif. Soft life dapat dipandang sebagai bentuk penolakan terhadap budaya overwork.

Meskipun begitu, pemikiran yang terlalu berfokus pada kenyamanan dan kepuasan instan juga memiliki risiko. Jika soft life dipahami hanya sebagai upaya menghindari kesulitan atau tanggung jawab, maka ia berpotensi menjadi avoidance coping yaitu strategi penghindaran yang justru memperpanjang masalah.

Penelitian mengenai gaya hidup hedonis oleh Anggraini dan Santhoso menunjukkan adanya hubungan antara gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif. Sementara itu, studi Dewi dkk.  mengenai Citra diri terhadap kecenderungan hedonistic lifestyle memperlihatkan kecenderungan hedonistic lifestyle berkaitan dengan aspek citra diri dan pola perilaku.

Selain itu, penelitian lainnya menemukan bahwa kesejahteraan yang berorientasi pada kesenangan (hedonic) bukan pada makna dan pertumbuhan (eudaimonic). Kesejahteraan eudaimonic cenderung memberikan dampak psikologis yang lebih stabil dan mendalam dalam jangka panjang. Artinya, jika soft life hanya berhenti pada pencarian kenyamanan tanpa disertai makna dan tanggung jawab, maka ia berpotensi mengurangi peluang individu untuk berkembang.

Oleh karena itu, Soft life tidak dapat dipastikan menjadi benar atau salah. Soft life dapat menjadi bentuk perlawanan yang sehat apabila dijalankan dengan kesadaran diri, tetap disertai tanggung jawab, serta tidak menghindari tantangan yang justru penting bagi perkembangan pribadi. Namun, ia dapat berubah menjadi bentuk penghindaran ketika digunakan untuk lari dari realitas dan menolak proses pertumbuhan yang tidak nyaman.

Oleh karena itu, keseimbangan antara hedonic well-being (kesenangan) dan eudaimonic well-being (makna dan aktualisasi diri) menjadi hal yang penting. Soft life tidak harus berarti anti-kerja keras, tetapi bisa diartikan sebagai kerja keras yang tetap manusiawi 

 

Referensi

Anana, M. (2025). Soft Life vs Hard Life Mentality: Different Psychological Perspectives on Seeking Happiness. Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi.

Anggraini, R. T., & Santhoso, F. H. (2017). Hubungan antara gaya hidup hedonis dengan perilaku konsumtif. Gadjah Mada Journal of Psychology.

Dewi, L. F., Nur’aini, S., & Kusumaningtyas, N. (2019). Citra diri terhadap kecenderungan hedonistic lifestyle. Psycho Idea.

Gregori, F., López-Pérez, B., Manfredi, L., et al. (2025). The relations among prosocial behavior, hedonic, and eudaimonic well-being in everyday life. Journal of Personality.

Huta, V., & Ryan, R. M. (2020). The associations between happiness motives and well-being outcomes. Frontiers in Psychology.

 

 Penulis: Dezka Futi Fawnia

Editor: Andrea Prita Purnama R.