Collective Action in Social Media: GLS-Social Psychology
Pada tanggal Jumat, 20 februari 2026, telah berlangsung webinar dengan tema “Collective Action in Social Media” melalui platform Zoom meeting. Webinar dibawakan oleh Syurawasti Muhiddin, S.Psi., M.A. yang merupakan dari Universitas Hasanuddin sebagai pembicara webinar. Syura juga sekaligus merupakan dosen tamu untuk mata kuliah Social Psychology pada semester ini. Sesi webinar ini mengangkat pembahasan bagaimana identitas emosi dan algoritma membentuk gerakan sosial masa kini. Aksi kolektif didefinisikan sebagai upaya terkoordinasi dari sekelompok individu untuk mencapai tujuan bersama dan mengubah kondisi sosial melalui pergerakan isu.
Secara teoritis, aksi kolektif dipicu Social Identity Theory, dimana ada pergeseran antara identitas “Kita” dan “Aku”, terutama ketika identitas kelompok merasa terancam. Proses ini didorong oleh emosi berbasis kelompok seperti kemarahan (anger), moral outrage, collective hope yang memicu mobilisasi, dan penyebaran gerakan sosial. Hal yang memperkuat pergerakan di media sosial seperti penggunaan Hashtag dan narasi visual yang berfungsi sebagai framing untuk menyebarkan isu secara cepat dan luas.
Akan tetapi, pada media sosial juga membawa beberapa fenomena psikologis yang kompleks, misalkan Moral Disengagement dari teori Albert Bandura. Anonimitas di media sosial sering kali mempermudahkan orang bersembunyi di balik layar dan memicu dehumanisasi dan menormalisasi ujaran yang menyakiti dan menurunkan pihak lain. Selain itu, Echo chambers yang memperkuat polarisasi, dimana individu hanya terpapar pada informasi yang mendukung opini kelompoknya saja, sehingga memperuncing perbedaan antarkelompok.
Webinar ini membawakan penyadaran realita bahwa aksi kolektif di media sosial bukan sekedar fenomena teknologi, melainkan proses psikologis yang mendalam. Seringkali kita terjebak pada anggapan bahwa dengan memberi jempol dan repost berarti telah “berjuang” dalam aksi kolektif, padahal seringkali perbuatan tersebut hanya menjadi “Ilusi kontribusi” atau slacktivism dimana sebuah tindakan yang memuaskan secara psikologis namun minim terjadinya dampak nyata. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk dapat diajak turun tangan dalam mencapai perubahan aksi nyata.
Bagi mahasiswa dan Gen Z yang hidup di tengah arus informasi digital, memahami dinamika ini menjadi penting. Aksi kolektif di media sosial bukan sekadar tren, melainkan proses psikologis yang melibatkan emosi, moralitas, dan persepsi. Social media memang memberi ruang bagi generasi muda untuk bersuara, tetapi harus bertanggung jawab untuk menggunakan ruang tersebut secara bijak dan mampu mengubah momentum digital menjadi aksi nyata yang etis dan berdampak.
Penulis:
- Ezra Putra Nathan – 2702353820
- Kezia Ho – 2702227151
Editor: Andrea Prita Purnama Ratri



Comments :