Pada beberapa kurun waktu ini, fenomena sulitnya mencari pekerjaan kini menjadi masalah yang serius dalam lingkungan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena bertambahnya jumlah pencari kerja, namun tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja yang ada, sehingga menciptakan persaingan antar individu yang ketat. Setiap tahunnya, banyak lulusan baru memasuki dunia kerja, tetapi peningkatan jumlah industri atau perusahaan yang bisa menyerap mereka tidak sejalan. Ketidakselarasan ini membuat keadaan di mana peluang kerja menjadi terbatas dan sulit untuk diakses bagi seluruh angkatan kerja. Dari aspek sosial, rendahnya tingkat skill atau keterampilan dan ketidakselarasan kompetensi juga menambah permasalahan ini. Lingkungan dunia kerja saat ini butuh kemampuan beradaptasi, teknologi digital, dan tingkat kreativitas yang mumpuni. Tetapi hal tersebut tidak semua orang dapat atau siap memenuhinya. Dalam konteks ekonomi, perubahan pasar, kemajuan teknologi, dan disrupsi digital turut mempengaruhi keadaan kerja. Proses otomatisasi dan kecerdasan buatan menggantikan berbagai pekerjaan manual, sementara pekerjaan baru memerlukan keterampilan yang berbeda. Dari masalah yang terjadi saat ini, kita bertanya-tanya mengapa orang tidak membuat lapangan kerja mandiri saja? seperti membuka usaha sendiri yang cukup memungkinkan juga untuk tumbuh menjadi sebuah perusahaan yang besar sehingga kita dapat membuka lapangan kerja untuk orang lain.

 

Analisis secara Perspektif Psikologis

 

Dalam beberapa teori psikologi, manusia cenderung untuk mencari lingkungan kehidupan yang stabil demi menciptakan rasa aman. Hal tersebut sesuai dengan teori Abraham Maslow tentang hierarchy of needs. Kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan dasar manusia kedua setelah kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan tidur. Rasa aman yang dimaksud dalam hal ini adalah secara kestabilan pemasukan (gaji), sistem bekerja yang jelas, serta keselarasan finansial atau ekonomi yang mudah diperkirakan sehingga seseorang merasa aman dan nyaman karena terjamin ekonominya. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat uncertainity avoidance seseorang, uncertainity avoidance adalah salah satu konsep pada psikologi budaya yang mengacu pada seberapa besar individu atau seseorang merasa khawatir, cemas atau tidak nyaman dengan suatu yang tidak pasti, ambiguitas, atau keadaan yang sulit diprediksi. Seseorang yang memiliki uncertainity avoidance yang tinggi cenderung merasa senang dengan aturan-aturan atau sistem yang jelas dan teratur, nyaman saat menjalani kegiatan yang menjadi rutinitas hidupnya, sangat berhati-hati bahkan takut mengambil sebuah resiko. Sebaliknya, yang memiliki uncertainity avoidance yang rendah cenderung berani mengambil resiko, lebih fleksibel terhadap perubahan sistem, senang dalam mencoba hal-hal yang baru. Konformitas sosial juga merupakan faktor orang memilih menjadi seorang pekerja, karena banyak keputusan jalan kehidupan seseorang dipengaruhi oleh manusia-manusia di lingkungan sekitarnya yang memberi ekspetasi atau harapan kelompok sosial kepada seseorang. Menjadi seorang pekerja atau karyawan adalah pilihan yang beresiko rendah untuk dikritik dibanding seorang pengusaha. Faktor kognitifnya adalah manusia cenderung untuk loss aversion artinya adalah manusia lebih cemas atau takut kehilangan daripada berpeluang untuk mendapatkan yang lebih, itu yang membuat orang memilih menjadi pekerja yang tidak memberi ancaman ekonomi. Selain itu, pekerjaan atau profesi yang dilakukan, juga menjadi sebuah identitas dan status sosial seseorang untuk mendapatkan validasi, pengakuan atau penerimaan dari kelompok.

 

Hasil dari Pola Pendidikan

 

Pola pendidikan adalah salah satu faktor juga orang memilih menjadi seorang pekerja, karena selama menjalani pendidikan selama 12 tahun lamanya cenderung berfokus kepada kepatuhan, bukan kreativitas. Mayoritas sistem pendidikan terlalu menekankan ketaatan, disiplin, dan menjalankan perintah tapi tidak dilatih untuk menemukan ide-ide. Jadi dalam perspektif psikologi kognitifnya adalah operant conditioning, contohnya adalah jika siswa taat akan diberi pujian, sementara yang berperilaku berbeda mendapat evaluasi bahkan hukuman, siswa sekolah dibiasakan untuk menunggu perintah daripada insiatif diri. Maka terbentuklah mindset bersifat jangka panjang, yaitu menunggu instruksi bukan menciptakan potensi. Dari sistem pendidikan yang seperti itu, maka orang menjadi merasa nyaman dengan sistem kerja atas perintah atau instruksi atasan, bukan membuat sistem yang mandiri. 

 

Lalu selanjutnya, pola atau sistem yang diterapkan selama evaluasi bekerja hanya berorientasi jawaban benar atau salah bukan eksplorasi. Secara analisis psikologis hal ini dapat membentuk kepribadian yang takut salah atau takut gagal, akhirnya memiliki kepribadian yang sangat takut beresiko, dan yang terakhir tidak berani mengambil sebuah keputusan dalam situasi yang tidak pasti. Adanya standar prestasi akademik yang menjadi akar dari identitas diri, mayoritas orang menganggap kompetensi diri melalui nilai akademisnya, bukan kompetensi untuk menciptakan inovasi atau ide yang nyata. Di sisi lain, minimnya pendidikan yang mengedukasi tentang finansial dan mengatur suatu resiko. yang dapat memunculkan efek psikologis seperti contohnya self-efficacy yang rendah yaitu merasa tidak bisa untuk memimpin atau memberi inovasi dan solusi.

 

Penulis: Rizky Pramoedya – 2602167492

Editor: Andrea Prita Purnama Ratri

Referensi 

 

Siregar, D. K. (n.d.). Memahami faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi motivasi kerja. Scribd. Diambil dari https://www.scribd.com/document/738142637/MEMAHAMI-FAKTOR-FAKTOR-PSIKOLOGIS-YANG-MEMPENGARUHI-MOTIVASI-KERJA

Rollo, J. (n.d.). Uncertainty Avoidance Definition, Index & Example Scores. Study.com. Retrieved November 25, 2025, from https://study.com/learn/lesson/uncertainty-avoidance-culture-example-index.htm

 

https://tse2.mm.bing.net/th/id/OIP.PsYGYxHg6PxssTTSkcdngQHaDt?pid=Api&P=0&h=220