Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita banyak berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai dinamika yang ada. Di Indonesia, banyak orang yang sering bersikap “ga enakan” dengan ajakan orang lain, sulit menolak permintaan bantuan dari orang lain, merasa bersalah jika tidak membantu orang lain, dan khawatir membuat orang lain kecewa. Sikap ini juga digunakan seseorang sebagai bentuk penyesuaian diri, mengalah dengan pendapat atau keputusan orang lain walaupun kadang memberatkan diri pribadi. Fenomena sudah dianggap sebagai bentuk kesopanan di muka sosial. Lalu adanya, people pleasing juga menjadi salah satu faktor mengapa kita cenderung ingin membahagiakan orang lain.

 

Analisa Psikologi dalam People Pleasing

 

People pleasing adalah sebuah sistem perilaku yang interpersonal yang mengacu pada kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan, persetujuan dari orang lain. Namun tidak memprioritaskan kebutuhan diri sendiri demi menyenangkan orang lain. Biasanya hal tersebut, muncul dari pengalaman masa kecil seseorang yang menekankan ketaatan atau kepatuhan dan juga hidup di dalam lingkungan yang secara emosional tidak stabil, sehingga individu mengalami proses belajar bahwa membahagiakan orang lain adalah hal yang paling aman untuk menjaga hubungan dengan orang lain yang pada intinya adalah bentuk penghindaran diri dari konflik. Seseorang yang people pleaser optimis bahwa penghargaan, penerimaan, dan rasa aman ada ketika telah membahagiakan orang lain. Hal tersebut jika berlebihan dapat menimbulkan anxious attachment yaitu ketakutan untuk ditinggalkan, artinya seseorang merasa cemas jika menolak, ia akan mendapatkan sebuah punishment atau hukuman seperti dijauhkan atau membuat hubungan antar manusianya menjadi renggang.

 

Adanya Peran Reciprocity dalam Berinteraksi

 

Dalam psikologi sosial, menjelaskan bahwa manusia butuh survive dalam menjalani kehidupannya salah satunya adalah Reciprocity atau hubungan timbal balik, ini menjadi sebuah prinsip sosial manusia ketika seseorang menerima hal positif, bantuan, dan mendapatkan tindakan orang lain kepada diri yang positif. Maka akan terdorong rasa atau kewajiban untuk memberi balasan yang positif kembali. Hal ini penting dalam pandangan psikologi sosial, karena adalah bentuk manusia untuk membangun relasi yang baik, memberi harapan untuk dihargai orang lain, dan bentuk mengatur perilaku demi menjaga stabilitas sebuah hubungan antar manusia agar bersifat adil dan dapat menyenangkan orang lain serta diri sendiri. Reciprocity menjadi norma sosial yang bersifat universal. Hubungan sikap “Ga enakan” terhadap reciprocity adalah sebuah dampak emosional contohnya adalah mengucapkan “Maaf, saya jadi merepotkan kamu.” kalimat yang menunjukkan perasaan bersalah tersebut muncul karena adanya tuntutan sebuah balasan, sehingga orang yang dibantu merasa tertekan secara sensitivitas sosial.

 

Pengaruh Budaya Kolektivisme

 

Masyarakat Asia seperti Indonesia, budaya kolektivisme berkembang pesat di lingkungan masyarakat sebagai landasan komunikasi atau interaksi antar manusia. Dengan memfokuskan kepada nilai kerukunan, kebersamaan, dan kepentingan bersama lebih utama daripada kepentingan pribadi yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap psikologis tentang perasaan ingin membahagiakan orang lain dan sikap “Ga enakan”. Bahkan budaya ini tumbuh menjadi sebuah norma sosial yang berada dalam kelompok manusia, lalu adanya tekanan konformitas kepada individu untuk memberi penyesuaian diri terhadap harapan kelompok di lingkungan, kerap kali seseorang memilih diam atau patuh terhadap apapun keputusan dari orang lain tanpa adanya kritik atau memberi pendapat yang berbeda. Berbicara secara keterikatan emosional, Sikap “Ga enakan” juga sebagai kita menciptakan sebuah empati, rasa memiliki, dan berterima kasih kepada orang lain. Sikap ini dapat menjadi sebuah perekat hubungan sosial, tetapi sebagai juga harus membatasi agar kebutuhan diri sendiri dapat terpenuhi untuk mencapai jati diri yang sesungguhnya. 

 

Penulis: Rizky Pramoedya – 2602167492

Editor: Andrea Prita Purnama Ratri

 

Referensi 

 

Alfahmi, R. R., Fateha, S. R., Syarifatulmillah, W. P., Lestari, F., & Hamidah, S. (2024). Kajian Mendalam Mengenai People Pleaser dan Dampak Psikologis pada Pelakunya. Finweek / Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani

 

Susi Laksmita Pratiwi. (2025, Mei 03). Reciprocity Principle, Alasan Mengapa Kita Merasa Harus Membalas Kebaikan. HARIAN DISWAY. https://harian.disway.id/read/870769/reciprocity-principle-alasan-mengapa-kita-merasa-harus-membalas-kebaikan

Budaya Individualisme dan Kolektivisme dalam Masyarakat. (2024, 21 November). Dewan Masyarakat. Diakses pada 24 November 2025, dari https://dewanmasyarakat.jendeladbp.my/2024/11/21/25941/

 

https://unsplash.com/photos/low-angle-photography-of-two-men-playing-beside-two-women-UmV2wr-Vbq8