Burnout di masa internship semakin banyak dialami orang yang sedang magang, terutama ketika mereka baru memasuki dunia kerja dan harus beradaptasi dengan tuntutan profesional yang lebih kompleks. Burnout bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional dan mental akibat tekanan kerja berkepanjangan. Bagi banyak intern, masa magang menjadi fase penuh ekspektasi, di mana mereka merasa perlu tampil maksimal untuk membuktikan diri atau membuka peluang karier di masa depan. Tekanan ini menjadi salah satu pemicu utama munculnya burnout lebih cepat pada generasi muda.

Beberapa orang tumbuh di lingkungan digital yang menekankan pencapaian dan perbandingan sosial. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap stres, terutama ketika merasa tidak cukup kompeten atau takut mengecewakan mentor. Banyak intern menerima tugas berlebihan, menahan diri untuk tidak menolak permintaan, dan bekerja di luar jam kerja karena ingin menunjukkan kemampuan. Minimnya pengalaman dan kurangnya kejelasan ekspektasi sering membuat intern merasa bingung, cemas, dan takut melakukan kesalahan, sehingga beban psikologis semakin meningkat.

Selain faktor pribadi, kondisi organisasi turut berperan dalam munculnya burnout. Lingkungan kerja yang tidak suportif, arahan yang tidak jelas, komunikasi yang kurang efektif, sehingga gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol dapat memperparah kelelahan mental intern. Ketidaksesuaian budaya kerja dengan nilai-nilai individu seperti kebutuhan akan fleksibilitas, dukungan, dan feedback juga dapat menciptakan ketegangan. Jika perusahaan tidak memberikan bimbingan atau ruang belajar yang aman, intern mudah merasa kewalahan dan tidak dihargai.

Untuk mencegah burnout, intern perlu mengenali batasan pribadi serta memahami tanda-tanda awal kelelahan seperti kehilangan motivasi, sulit fokus, dan merasa tidak berdaya. Intern dapat mengelola stres dengan menerapkan manajemen waktu, berkomunikasi asertif mengenai beban kerja, serta menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Di sisi lain, organisasi juga memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman magang yang sehat, yaitu melalui pendampingan yang jelas, dukungan psikologis, serta budaya kerja yang inklusif. Dengan kolaborasi antara intern dan perusahaan, pengalaman magang dapat menjadi proses pembelajaran yang positif tanpa mengorbankan kesehatan mental.

Penulis: Widya tri oktavi Handayani – 2602136215

Editor: Andrea Prita Purnama Ratri

Referensi:

Güler, M. (2020). The effect of psychoeducation program on burnout levels of university students. Journal of Education and Research.

Madigan, D. J., Curran, T., Stansfeld, S., & Jervis, N. (2023). Interventions to reduce student burnout: A systematic review and meta-analysis. European Journal of Psychology of Education.

Olson, N., Borchart, K., & Wiese, H. (2025). Stress, student burnout and study engagement: A cross-sectional comparison of university students. BMC Psychology.

Schaufeli, W. B., Leiter, M. P., & Maslach, C. (2009). Burnout: 35 years of research and practice. Career Development International.

Smith, J., & Turner, K. (2023). Internship stress and early career burnout among Gen Z workers. Journal of Organizational Psychology.

https://unsplash.com/photos/a-woman-sitting-in-front-of-a-laptop-computer-dJpBpPUevSA