Bagaimana Childfree dalam Perspektif Sosial dan Psikologis?

Unsplash image

Apa itu Childfree dan Mengapa menjadi pilihan?

Istilah childfree semakin sering terdengar dalam diskusi publik, baik di ruang nyata maupun di media sosial. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna dari pilihan hidup ini? Childfree bukan hanya sekadar kondisi tidak memiliki anak, melainkan keputusan sadar dari individu atau pasangan untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup mereka. Pilihan ini biasanya didasarkan pada pertimbangan nilai, kebebasan pribadi, keuangan, hingga pemaknaan hidup yang tidak selalu mengikuti kerangka tradisional masyarakat. Pilihan hidup ini menjadi semakin umum di tengah pergeseran nilai-nilai sosial, khususnya di era modern. Arnett (2000) dalam teorinya tentang emerging adulthood menjelaskan bahwa masa dewasa awal kini lebih banyak diisi oleh eksplorasi identitas, pekerjaan, dan hubungan, daripada mengikuti norma konvensional seperti menikah dan memiliki anak segera. Selain itu, teori Self-Determination yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan (1985) menyebutkan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan (relatedness). Individu yang memilih hidup childfree kerap merasa bahwa keputusan tersebut sesuai dengan nilai personal mereka dan memberikan rasa kendali yang lebih besar terhadap kehidupan mereka.

Tantangan Sosial dan Stigma terhadap Individu Childfree

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari ekspektasi dan penilaian sosial. Karena itu, pilihan untuk tidak memiliki anak sering kali disalahpahami atau bahkan distigmatisasi. Individu childfree sering kali dilabeli sebagai egois, belum dewasa, atau tidak memenuhi kodrat. Padahal, studi yang dilakukan Park (2002) menunjukkan bahwa tekanan sosial untuk memiliki anak sangat erat kaitannya dengan ekspektasi budaya yang menempatkan reproduksi sebagai bagian dari peran gender tradisional, terutama bagi perempuan.

Di Indonesia, pandangan mayoritas masyarakat masih sangat memegang nilai-nilai tradisional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), sebanyak 83,7% penduduk Indonesia masih menganggap bahwa memiliki anak adalah tujuan utama dalam kehidupan pernikahan. Hal ini mencerminkan betapa kuatnya norma sosial yang menilai keberhasilan keluarga dari adanya keturunan. Penelitian oleh Donath (2015) juga menunjukkan bahwa perempuan yang memilih untuk hidup tanpa anak cenderung mendapatkan lebih banyak pertanyaan invasif dan tekanan psikologis dibandingkan laki-laki yang membuat keputusan yang sama.

Dari perspektif psikologi sosial, hal ini dapat dijelaskan melalui teori pengaruh normatif sosial (Deutsch & Gerard, 1955), yaitu kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri demi diterima oleh lingkungan sosial. Maka tidak mengherankan jika individu childfree dianggap berbeda atau bahkan dikucilkan, karena keputusan mereka menentang arus norma mayoritas.

 

Childfree dan Hubungannya dengan Kesejahteraan Psikologis

Pertanyaan yang sering muncul adalah: Apakah mereka yang childfree bisa merasakan kebahagiaan dan kepuasan hidup yang setara dengan mereka yang memiliki anak? Jawabannya adalah bisa. Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa individu childfree melaporkan tingkat kesejahteraan subjektif yang sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua. Dalam survei Pew Research Center (2021), mayoritas orang dewasa di Amerika Serikat yang tidak memiliki anak dan tidak berencana memiliki anak menyatakan bahwa mereka puas dengan kehidupan mereka. Alasannya mencakup lebih banyak waktu untuk diri sendiri, stabilitas finansial, dan fleksibilitas dalam hidup.

Studi lain oleh Nomaguchi dan Milkie (2020) menunjukkan bahwa menjadi orang tua sering kali diiringi dengan stres peran dan kelelahan emosional, terutama jika tidak memiliki sistem dukungan sosial yang memadai. Dalam konteks ini, individu childfree memiliki ruang lebih luas untuk membangun hubungan emosional yang stabil dan menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.

Namun demikian, penting juga untuk dicatat bahwa hidup childfree tidak otomatis menjamin kebahagiaan. Seperti orang tua, kebahagiaan individu childfree sangat bergantung pada sejauh mana mereka merasa dihargai dan didukung secara sosial. Teori belongingness yang dikemukakan oleh Baumeister dan Leary (1995) menyatakan bahwa kebutuhan untuk merasa diterima dan terhubung secara sosial adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menciptakan ruang yang aman dan inklusif bagi semua bentuk pilihan hidup, termasuk pilihan untuk tidak memiliki anak.

Penutup
Pilihan hidup childfree adalah keputusan pribadi yang kompleks dan sangat bergantung pada nilai individu serta dinamika sosial di sekitarnya. Dengan memahami teori-teori psikologis dan data empiris yang mendukung, kita dapat melihat bahwa individu childfree tetap dapat menjalani kehidupan yang bahagia, bermakna, dan produktif tanpa harus mengikuti kerangka hidup tradisional. Yang terpenting adalah menciptakan masyarakat yang saling menghargai dan tidak menghakimi, agar setiap individu bebas menjalani kehidupan yang sesuai dengan pilihannya masing-masing.


Penulis : Meida Lanie
Editor : Melly Preston

 

Referensi:

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2013). Social psychology (8th ed.). Pearson Education

Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.

Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The need to belong: Desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological Bulletin, 117(3), 497–529.

BPS. (2023). Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS): Statistik Penduduk Indonesia 2023. Badan Pusat Statistik.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. Springer.

Deutsch, M., & Gerard, H. B. (1955). A study of normative and informational social influences upon individual judgment. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 51(3), 629–636.

Donath, O. (2015). Regretting motherhood: A sociopolitical analysis. Signs: Journal of Women in Culture and Society, 40(2), 343–367.

Kulikova, K. (2021, August 11). woman in white sun hat. Unsplash. https://unsplash.com/photos/woman-in-white-sun-hat-0xC3bB80_7M

Nomaguchi, K., & Milkie, M. A. (2020). Parenthood and well-being: A decade in review. Journal of Marriage and Family, 82(1), 198–223.

Park, K. (2002). Stigma management among the voluntarily childless. Sociological Perspectives, 45(1), 21–45.

Pew Research Center. (2021). More Americans say they are not planning to have children. Retrieved from https://www.pewresearch.org