Kepercayaan diri merupakan keyakinan mendasar individu terhadap kemampuan, nilai, serta potensi yang dimilikinya, yang sangat krusial selama masa remaja, suatu fase transisi di mana pembentukan identitas diri (self-identity) dan pencarian pengakuan sosial berlangsung intensif sebagaimana dijelaskan oleh Erikson (1968). Di era modern, media sosial telah bertransformasi menjadi ruang utama bagi remaja untuk mengeksplorasi identitas tersebut, membuka peluang luas dalam hal komunikasi, perluasan wawasan, dan pencarian komunitas yang mendukung. Kendati demikian, interaksi digital yang intensif ini sering kali memicu kerentanan psikologis, sebab apa yang ditampilkan di ruang daring kerap kali merupakan representasi kehidupan yang telah dikurasi atau disunting secara sempurna, sehingga berpotensi mendistorsi cara remaja memandang realitas dan menilai diri mereka sendiri.
Dalam dinamika penggunaannya, media sosial secara signifikan memengaruhi kepercayaan diri remaja melalui mekanisme psikologis tertentu, salah satunya adalah kebiasaan membandingkan diri yang dijelaskan dalam teori perbandingan sosial oleh Festinger (1954). Ketika dihadapkan pada unggahan pencapaian akademik, gaya hidup mewah, maupun standar penampilan fisik orang lain, remaja rentan mengalami perasaan tertinggal atau merasa tidak cukup berharga. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan terhadap metrik popularitas seperti jumlah likes, komentar, dan pengikut turut menggeser sumber validasi diri remaja dari pencapaian internal menjadi persetujuan eksternal yang bersifat fluktuatif dan tidak stabil.
Tekanan psikologis di ruang digital juga semakin diperparah oleh fenomena Fear of Missing Out (FoMo) atau kecemasan akan tertinggal dari pengalaman sosial teman sebaya, serta tuntutan internal untuk selalu tampil sempurna dalam segala aspek. Berdasarkan studi Fardouly dkk. (2015), terdapat korelasi yang signifikan antara paparan media sosial, perbandingan penampilan, dan peningkatan kekhawatiran terhadap citra tubuh,khususnya di kalangan remaja putri. Akibat paparan konten yang berfokus pada standar kecantikan dan kehidupan ideal tersebut, remaja sering kali mengalihkan fokus mereka dari menikmati pengalaman autentik di dunia nyata menjadi kecemasan berlebih terhadap penilaian publik.
Dampak dari penggunaan media sosial yang tidak terkontrol ini bersifat multidimensional dan dapat diklasifikasikan ke dalam aspek negatif serta positif, di mana Valkenburg dkk. (2022) menegaskan bahwa hubungan antara media sosial dan kesehatan mental remaja bersifat sangat kompleks dan individual. Dari sisi negatif, remaja kerap mengalami penurunan rasa percaya diri, meningkatnya ketidakpuasan terhadap citra tubuh akibat standar semu, serta kecemasan kronis akibat ketakutan akan kritik sosial. Sebaliknya, apabila dimanfaatkan secara bijak, media sosial dapat memberikan dampak positif yang signifikan, seperti menjadi sarana pengembangan kreativitas, wadah berbagi karya, sumber informasi edukatif, serta ruang untuk menemukan komunitas yang inklusif dan suportif.
Untuk mengoptimalkan manfaat sekaligus meminimalkan dampak buruk media sosial, remaja memerlukan langkah-langkah adaptif dalam menjaga stabilitas kepercayaan diri mereka. Solusi utama yang dapat diterapkan meliputi penghentian kebiasaan menjadikan kehidupan daring orang lain sebagai standar baku,serta upaya untuk menghargai diri sendiri berdasarkan proses, usaha personal, dan pencapaian bermakna di dunia nyata alih-alih bergantung pada validasi semu berupa metrik popularitas. Selain itu, penting bagi remaja untuk mengembangkan sikap kritis terhadap konsumsi konten digital, memperkuat kualitas interaksi sosial di dunia nyata, serta memanfaatkan platform digital secara produktif untuk sarana pembelajaran dan pengembangan diri.
Sebagai langkah preventif lanjutan apabila tekanan psikologis di ruang daring mulai mengganggu keseharian,remaja dianjurkan untuk tidak ragu mencari dukungan dari orang dewasa yang tepercaya maupun tenaga profesional seperti psikolog. Dengan membangun kesadaran bahwa media sosial hanyalah salah satu instrumen penunjang kehidupan dan bukan satu-satunya penentu nilai diri, remaja diharapkan mampu mengendalikan penggunaannya secara proporsional. Integrasi antara pemahaman literasi digital yang baik dan dukungan lingkungan sosial yang positif akan memastikan bahwa teknologi berfungsi sebagai sarana untuk bertumbuh, alih-alih menjadi sumber tekanan mental yang merusak kepercayaan diri.
Referensi
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton & Company.

Fardouly, J., Diedrichs, P. C., Vartanian, L. R., & Halliwell, E. (2015). Social comparisons social media: The impact of Facebook on young women’s body image concerns and mood. Body Image, 13, 38–45. https://doi.org/10.1016/j.bodyim.2014.12.002

Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140 https://doi.org/10.1177/001872675400700202

Penulis : Widati Padmarini Sastiawan dan Baydhowi
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra Puanrani