Helicopter Parenting: Ketika Perhatian Orang Tua Terasa Berlebihan
Pernahkah kamu sedang mengerjakan sesuatu, lalu orang tua terus bertanya, “Tugasnya sudah selesai?”, “Semester depan mengambil mata kuliah apa?”, atau “Mengapa nilaimu hanya segini?” Awalnya, pertanyaan tersebut mungkin terasa sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Namun, bagaimana jika hampir setiap keputusan dan aktivitas anak selalu diawasi, diarahkan, bahkan diambil alih oleh orang tua? Fenomena ini dikenal sebagai helicopter parenting, yaitu pola asuh ketika orang tua terlalu terlibat dalam kehidupan anak dan selalu siap turun tangan ketika anak menghadapi masalah.
Apa Itu Helicopter Parenting?
Menurut LeMoyne dan Buchanan (2011), helicopter parenting menggambarkan keterlibatan orang tua yang sangat tinggi dalam kehidupan anak, terutama ketika memasuki masa dewasa muda (emerging adulthood). Cline dan Fay (1990) mengibaratkan pola asuh ini seperti helikopter yang terus berada di sekitar anak dan siap memberikan bantuan ketika muncul masalah. Contohnya, ketika anak mengalami konflik dalam tugas kelompok, orang tua justru langsung menghubungi teman kelompoknya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Padahal, anak membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, negosiasi, dan pemecahan masalah secara mandiri.
Apa Dampaknya bagi Anak?
Keterlibatan orang tua yang berlebihan dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis anak. Schiffrin et al. (2014) menemukan adanya hubungan antara helicopter parenting dengan rendahnya kesejahteraan psikologis mahasiswa. Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain menurunnya rasa percaya terhadap kemampuan diri, meningkatnya tekanan psikologis akibat tuntutan untuk selalu berhasil, serta berkurangnya kemandirian dalam mengambil keputusan. Hal ini menjadi penting ketika anak memasuki masa dewasa muda karena mereka mulai menghadapi berbagai tanggung jawab dalam pendidikan, hubungan sosial, dan perencanaan karier.
Bukan Berarti Orang Tua Tidak Baik
Perlu dipahami bahwa pola asuh ini tidak selalu berasal dari niat buruk. Orang tua mungkin hanya ingin melindungi anak dari kegagalan dan berbagai kesulitan. Namun, perhatian yang berlebihan justru dapat membatasi ruang bagi anak untuk berkembang. Dalam psikologi perkembangan, Baumrind (1966) menjelaskan konsep authoritative parenting, yaitu pola asuh yang menggabungkan kehangatan dan dukungan dengan aturan serta batasan yang sesuai. Melalui pola asuh ini, orang tua tetap memberikan arahan, tetapi juga menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan sendiri.
Bagaimana Menghadapi Helicopter Parenting?
Membangun hubungan yang lebih sehat membutuhkan usaha dari kedua pihak. Dari sisi anak, penting untuk menunjukkan tanggung jawab, membangun komunikasi terbuka, dan mulai membiasakan diri mengambil keputusan secara mandiri. Sementara itu, orang tua perlu memberikan kepercayaan, menghargai privasi, serta tidak selalu mengambil alih permasalahan anak. Pada akhirnya, helicopter parenting mengingatkan kita bahwa perhatian dan kasih sayang perlu diimbangi dengan kepercayaan. Anak memang membutuhkan arahan, tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan belajar dari pengalaman. Sebab, mendukung anak bukan berarti menyelesaikan seluruh permasalahannya, melainkan membantu mereka agar mampu menghadapi kehidupan secara mandiri.
REFERENSI
- Cline, F., & Fay, J. (1990). Parenting with love and logic: Teaching children responsibility. Pinon Press.
- LeMoyne, T., & Buchanan, T. (2011). Does “hovering” matter? Helicopter parenting and its effect on well-being. Sociological Spectrum, 31(4), 399–418.
- Reed, K., Duncan, J., Lucier-Greer, M., Fixelle, C., & Ferraro, A. (2016). Helicopter parenting and emerging adult self-efficacy: Implications for mental and physical health. Journal of Child and Family Studies, 25, 3136–3149. https://doi.org/10.1007/s10826-016-0466-x
- Schiffrin, H. H., Liss, M., Miles-McLean, H., Geary, K. A., Erchull, M. J., & Tashner, T. (2014). Helping or hovering? The effects of helicopter parenting on college students’ well-being. Journal of Child and Family Studies, 23(3), 548–557. https://doi.org/10.1007/s10826-013-9716-3

Comments :