Kenapa Kita Suka Bernostalgia? Memahami Peran Nostalgia dalam Kehidupan Sehari-hari
Pernah nggak kamu mendengar lagu lama lalu tiba-tiba teringat masa sekolah, teman lama, atau suasana rumah ketika masih kecil? Perasaan seperti ini disebut nostalgia. Nostalgia bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi merupakan pengalaman emosional ketika seseorang mengingat kembali pengalaman yang memiliki makna pribadi.
Nostalgia biasanya muncul karena adanya pemicu tertentu, seperti lagu, foto, aroma, tempat, atau percakapan. Ketika pemicu tersebut mengingatkan kita pada pengalaman masa lalu, kenangan yang muncul sering kali memiliki unsur emosional dan berkaitan dengan orang-orang yang penting dalam kehidupan kita (Wildschut et al., 2006).
Menariknya, nostalgia tidak selalu terasa sepenuhnya menyenangkan. Kenangan masa lalu sering membawa perasaan campur aduk karena di satu sisi kita merasa bahagia ketika mengingat pengalaman tersebut, tetapi di sisi lain kita sadar bahwa masa tersebut sudah berlalu. Karena itu, nostalgia sering digambarkan sebagai pengalaman yang memiliki unsur positif sekaligus sedikit rasa kehilangan.
Salah satu fungsi nostalgia adalah membantu seseorang mempertahankan rasa keterhubungan dengan dirinya sendiri. Ketika kehidupan mengalami banyak perubahan, mengingat pengalaman masa lalu dapat membantu seseorang melihat hubungan antara dirinya di masa lalu dan dirinya saat ini. Penelitian menunjukkan bahwa nostalgia dapat berhubungan dengan meningkatnya perasaan self-continuity, yaitu perasaan bahwa diri kita tetap memiliki kesinambungan meskipun mengalami perubahan (Sedikides et al., 2015).
Nostalgia juga dapat berkaitan dengan hubungan sosial dan pencarian makna. Mengingat pengalaman bersama orang lain dapat membuat seseorang merasa lebih terhubung secara sosial, sementara mengingat pengalaman yang bermakna dapat membantu seseorang melihat arti dari perjalanan hidupnya (Sedikides & Wildschut, 2018).
Namun, nostalgia tidak selalu memberikan efek yang sama bagi semua orang. Cara seseorang memaknai masa lalu dan kondisi ketika nostalgia muncul dapat memengaruhi pengalaman tersebut. Dengan kata lain, nostalgia bukan hanya tentang ingin kembali ke masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masa lalu masih memiliki hubungan dengan kehidupan kita saat ini.
Referensi:
Abeyta, A. A., Routledge, C., & Kaslon, S. (2021). Nostalgia, reflection, brooding: Psychological benefits and autobiographical memory functions. Journal of Applied Research in Memory and Cognition, 10(3), 476–487.
Sedikides, C., & Wildschut, T. (2018). Finding meaning in nostalgia. Review of General Psychology, 22(1), 48–61.
Sedikides, C., Wildschut, T., Routledge, C., & Arndt, J. (2015). Nostalgia counteracts self-discontinuity and restores self-continuity. European Journal of Social Psychology, 45(1), 52–61.
Wildschut, T., Sedikides, C., Arndt, J., & Routledge, C. (2006). Nostalgia: Content, triggers, functions. Journal of Personality and Social Psychology, 91(5), 975–993.
Penulis : Khairini Nathania & Baydhowi
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra Puanrani

Comments :