Kenapa Kita Sering Mengingat Momen yang Memalukan? Memahami Emotional Memory
Pernah nggak kamu tiba-tiba teringat momen memalukan yang sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun lalu? Misalnya, salah menyebut nama seseorang, jatuh di depan banyak orang, atau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan. Menariknya, momen seperti ini terkadang justru lebih mudah muncul kembali dibandingkan kejadian sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan bagaimana emosi memengaruhi proses pembentukan dan pemanggilan kembali ingatan.
Ingatan yang berkaitan dengan pengalaman emosional dikenal sebagai emotional memory. Ketika suatu kejadian memiliki muatan emosi yang kuat, otak dapat memproses pengalaman tersebut dengan cara yang berbeda dibandingkan kejadian yang netral. Sistem yang melibatkan amigdala dan hippocampus berperan dalam proses tersebut, terutama dalam pengolahan emosi dan pembentukan ingatan (LaBar & Cabeza, 2006).
Momen memalukan biasanya melibatkan emosi seperti malu, cemas, atau takut terhadap penilaian orang lain. Karena memiliki muatan emosional, pengalaman tersebut dapat menjadi lebih menonjol dalam ingatan. Penelitian mengenai memori autobiografis juga menunjukkan bahwa emosi dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengingat pengalaman pribadi dan seberapa kuat pengalaman tersebut terasa ketika diingat kembali (Faul et al., 2024).
Selain itu, ingatan bukanlah rekaman yang tersimpan secara sempurna. Ketika mengingat suatu kejadian, kita sebenarnya sedang membangun kembali pengalaman tersebut. Karena itu, detail sebuah momen bisa berubah seiring waktu, meskipun perasaan terhadap kejadian tersebut tetap terasa kuat (Wardell & Palombo, 2024).
Menariknya, kita juga tidak selalu mengingat momen memalukan karena sengaja memikirkannya. Ingatan autobiografis dapat muncul secara spontan ketika seseorang mendengar lagu tertentu, melihat tempat tertentu, atau mengalami situasi yang mengingatkan pada kejadian sebelumnya. Proses seperti ini dikenal sebagai involuntary autobiographical memory (Moulds et al., 2020).
Jadi, kalau kamu tiba-tiba teringat kejadian memalukan dari masa lalu, hal tersebut bukan berarti kamu sengaja ingin mengingatnya. Pengalaman yang memiliki emosi kuat memang dapat meninggalkan jejak yang lebih menonjol dalam ingatan. Namun, bagaimana seseorang mengingat kembali pengalaman tersebut tetap dapat berubah seiring waktu.
Referensi:
Faul, L., Ford, J. H., & Kensinger, E. A. (2024). Update on “Emotion and autobiographical memory”: 14 years of advances in understanding functions, constructions, and consequences. Physics of Life Reviews, 51, 255–272.
LaBar, K. S., & Cabeza, R. (2006). Cognitive neuroscience of emotional memory. Nature Reviews Neuroscience, 7, 54–64.
Moulds, M. L., Bisby, M. A., Wild, J., & Bryant, R. A. (2020). Involuntary autobiographical memories and future projections in social anxiety. Memory, 28(4), 511–521.
Wardell, V., & Palombo, D. J. (2024). Stability and malleability of emotional autobiographical memories. Nature Reviews Psychology, 3, 393–406.
Penulis : Khairini Nathania & Baydhowi
Editor : Privianda Azahra Puanrani & Andrea Prita Purnama Ratri

Comments :