Pernah nggak kamu masuk kamar karena mau mengambil sesuatu, tapi begitu sampai malah berhenti dan berpikir, “Eh, aku ke sini mau ngapain, ya?” Kamu mencoba mengingat, tapi malah semakin bingung. Akhirnya, kamu kembali ke tempat sebelumnya dan tiba-tiba baru ingat apa yang ingin dilakukan. 

Kejadian seperti ini sebenarnya cukup umum dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu konsep yang berkaitan dengan fenomena tersebut adalah prospective memory, yaitu kemampuan untuk mengingat sesuatu yang ingin kita lakukan di masa depan. Contohnya adalah mengingat untuk mengirim tugas malam ini, membawa charger saat pergi ke kampus, atau mengambil barang ketika masuk ke kamar. 

Selain itu, perubahan tempat juga dapat berhubungan dengan bagaimana kita mengingat suatu tujuan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan doorway effect, yaitu kondisi ketika perpindahan dari satu lingkungan ke lingkungan lain dapat memengaruhi informasi yang sedang aktif dalam pikiran.

Namun, bukan berarti setiap kali melewati pintu kita pasti akan lupa. Penelitian Dumontheil et al. (2021) menunjukkan bahwa doorway effect tidak selalu terjadi. Efeknya dapat dipengaruhi oleh kondisi tertentu, seperti seberapa banyak informasi yang sedang kita pikirkan atau seberapa terbagi perhatian kita. 

Bayangkan kamu sedang mengerjakan tugas sambil membuka beberapa tab laptop, membalas chat, mendengarkan musik, dan memikirkan deadline. Kemudian kamu berdiri untuk mengambil charger di kamar. Ketika sampai di kamar, perhatianmu sudah berpindah ke banyak hal lain. Akibatnya, tujuan awal yang ingin kamu lakukan bisa saja untuk sementara tidak muncul dalam pikiran. 

Menariknya, kembali ke tempat sebelumnya terkadang justru membuat kita ingat lagi. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan sebelumnya memberikan petunjuk yang berkaitan dengan tujuan awal. Misalnya, ketika kembali ke meja dan melihat laptop yang baterainya hampir habis, kamu langsung teringat, “Oh iya, aku tadi mau ambil charger!” 

Untuk membantu mengurangi lupa seperti ini, kita bisa menggunakan cara sederhana. Misalnya, mengucapkan tujuan sebelum berpindah tempat, membuat catatan kecil, atau langsung menyelesaikan satu tugas sebelum beralih ke hal lain. 

Jadi, kalau suatu hari kamu masuk kamar lalu lupa mau ngapain, jangan langsung berpikir bahwa memorimu bermasalah. Bisa jadi otakmu hanya sedang menangani terlalu banyak informasi sekaligus. 

Dan kalau masih lupa juga… coba balik ke tempat semula. Siapa tahu otakmu langsung berkata, “OH IYA!”

 

Referensi 

Dumontheil, I., et al. (2021). Doorways do not always cause forgetting: A multimodal investigation. BMC Psychology, 9. 

Mogle, J., Turner, J. R., Rabin, L. A., Sliwinski, M. J., Zhaoyang, R., & Hill, N. L. (2023). Measuring memory lapses and their impact on daily life: Results from two daily diary studies. Assessment, 30(2). 

Penulis : Fadliana Camilla dan Baydhowi 

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra