Pada Jumat, 3 Oktober 2026, Binus Psychology turut menyelenggarakan Alun-Alun Psikologi 2026 dengan mengusung tema “I and AI: Hope in Every Pathways”. Tema acara ini didasarkan pada perkembangan kecerdasan buatan (AI), sebuah teknologi yang telah mengubah terutama dalam bidang pendidikan, pekerjaan, serta pengembangan diri. Dengan pemikiran tersebut, kegiatan ini akan mengajak mahasiswa untuk memahami lingkaran kehidupan melalui beberapa teknologi agar dapat mempersiapkan diri untuk masa depan yang terus berubah.

Acara ini berlangsung secara hibrida di lima region kampus Binus dengan tema utama yang berbeda, Salah satunya di Kampus Kijang BINUS @Kemanggisan, Ruang Kijang Function Chamber (KFC),  dengan menghadirkan sesi seminar dengan topik “The Future of HR: AI as Your Co-Pilot in Innovation” bersama Kak Chatrine Immanuel Sintani, S.Psi., seorang profesional yang berpengalaman sebagai Officer Recruiting di PT Pindo Deli & Paper (APP). 

Dalam kegiatan ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi yang akan menggantikan pekerjaan manusia, melainkan juga bagaimana manusia dan AI dapat bekerja sama untuk menciptakan cara kerja baru yang lebih efisien, inovatif, sekaligus tetap berpusat pada manusia.

Pada sesi ini, acara dimulai dengan sambutan oleh Dr. Esther Widhi Andangsri, M.Si., Psikolog, sebagai Head of Psychology Department, kemudian dilanjutkan dengan acara utama, yaitu seminar yang dibawakan oleh Kak Chatrine yang akan membahas bagaimana AI mengubah cara kerja Human Resources (HR),  agar menjadi lebih efektif dalam rekrutmen, pelatihan, dan manajemen karyawan. Proses AI memproses pengetahuan yang berlebihan, menyusun ringkasan, menemukan pola, dan mempercepat proses administratif (yang sebelumnya memakan banyak waktu). Namun demikian, AI tetap membutuhkan manusia sebagai pengambil keputusan.

Konsep utama yang dibahas adalah AI sebagai co-pilot, beberapa teknologi bekerja dalam mode yang tidak dapat digantikan oleh manusia, bukan sebagai pengganti manusia. Sementara itu, dalam praktik SDM, AI mampu membayangkan ulang proses rekrutmen seperti pencarian sumber, penyaringan, dan evaluasi. Namun, kemampuan manusia dalam hal penalaran (sense-making) saat menilai konteks, strategi mitigasi risiko, sikap penuh perhatian atau empati, serta akuntabilitas etis tidak dapat digantikan oleh sebuah mesin.

Selain membahas keunggulan AI, seminar ini juga menyoroti beberapa isu yang harus diperhatikan ketika menerapkan teknologi dalam praktik HR. Salah satu isu yang dibahas adalah potensi adanya bias algoritma, atau suatu keadaan ketika sistem AI mengambil keputusan berdasarkan tren data yang mungkin tidak sepenuhnya netral. AI dapat membantu mempercepat proses penyaringan dalam rekrutmen, tetapi manusia tetap perlu mengevaluasi hasil yang dihasilkan oleh sistem, dan manusia di balik keputusan tersebut perlu mengingat aspek keadilan serta pengalaman kandidat. Oleh karena itu, manusia tetap unggul sebagai evaluator, interpreter, dan agen moral di era AI.

Tujuan tambahannya adalah agar para peserta mengetahui ranah sebagai mahasiswa psikologi, meskipun laju perkembangan teknologi semakin cepat, ilmu pengetahuan psikologi dapat terus diterapkan bukan hanya dengan membaca poin data kandidat, tetapi juga dengan memahami poin data tersebut. Di sinilah AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan pemahaman terhadap perilaku manusia, motivasi, dinamika individu dan kelompok, serta pembangunan hubungan interpersonal.

Melalui Alun-Alun Psikologi 2026, peserta memperoleh pemahaman bahwa perkembangan AI bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk menciptakan kolaborasi baru antara manusia dan teknologi. Mahasiswa psikologi diharapkan mampu mempersiapkan diri dengan mengembangkan kompetensi yang relevan agar dapat berkontribusi dalam dunia kerja yang semakin berdampingan dengan AI. 

Pada akhirnya, masa depan HR bukanlah pertanyaan tentang manusia atau AI, melainkan tentang manusia dengan AI. Teknologi memiliki potensi untuk memungkinkan orang bekerja lebih cepat dan lebih efisien, tetapi unsur manusiawi berupa empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan akan terus mendorong inovasi yang nyata. Dan melalui acara ini, Alun-Alun Psikologi 2026 berperan sebagai ruang belajar dan refleksi bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami perkembangan teknologi, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan jenis profesi di masa depan.