Suasana ruang rapat mendadak hening ketika sebuah tugas tambahan dengan tenggat waktu ketat kembali ditawarkan. Meski daftar pekerjaan di meja sudah menumpuk dan energi fisik berada di ambang batas, jemari refleks terangkat dan bibir dengan cepat mengucap kata “Bisa, nanti saya bantu.” Di balik reputasi sebagai sosok yang selalu dapat diandalkan, penurut, dan ramah, terdapat keletihan emosional yang terpendam. Fenomena psikologis ini dikenal secara luas sebagai perilaku people pleasing—kecenderungan kronis untuk memprioritaskan kebutuhan, kenyamanan, dan penilaian orang lain di atas kesejahteraan diri sendiri, sering kali akibat rasa takut yang mendalam akan penolakan atau konflik.

Secara ilmu perilaku dan psikologi kepribadian, dorongan untuk terus-menerus menyenangkan orang lain tidak muncul dari kebaikan hati yang murni semata, melainkan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang terbentuk dari pola kognitif serta pengalaman masa lalu. Dalam kerangka teori kepribadian, people pleaser umumnya memiliki tingkat agreeableness yang sangat tinggi dipadu dengan neuroticism yang signifikan. Kombinasi ini membuat seseorang sangat sensitif terhadap dinamika emosional di sekitarnya. Ketika melihat orang lain menunjukkan rasa kecewa, ketidaksenangan, atau ketegangan, sistem saraf seorang people pleaser memperlakukannya sebagai sebuah ancaman langsung terhadap rasa aman mereka. Berkata “ya” pada setiap permintaan menjadi satu-satunya cara instan untuk meredakan kecemasan internal tersebut dan memastikan bahwa mereka tetap aman terhubung secara sosial.

Kondisi ini diperparah oleh skema kognitif yang salah (cognitive distortion), di mana seseorang mengaitkan nilai dirinya (self-worth) secara utuh pada tingkat penerimaan orang lain. Pikiran bawah sadar seorang people pleaser sering kali beroperasi di bawah asumsi bahwa mereka hanya akan dicintai, dihargai, atau dianggap berguna apabila mereka mampu memenuhi seluruh ekspektasi lingkungan sosialnya. Akibatnya, membatasi diri (setting boundaries) atau menolak permintaan dianggap sebagai bentuk kejahatan moral, kelakuan egois, atau tindakan yang pasti akan mengundang penolakan permanen dari figur penting dalam hidup mereka.

Akumulasi dari ketidakmampuan berkata “tidak” ini pada akhirnya membawa seseorang menuju dampak psikologis yang merusak secara bertahap melalui dua dinamika utama:

  • Penumpukan Resentment dan Kelelahan Emosional (Burnout): Ketika dorongan menolong tidak bersumber dari kapasitas yang cukup, melainkan dari rasa takut dan kewajiban emosional, pertolongan tersebut akan melahirkan ketidakikhlasan laten (resentment). Seseorang mulai merasa dimanfaatkan oleh lingkungan, padahal situasi tersebut berakar pada ketidakmampuan mereka sendiri dalam menegaskan batasan pribadi. Seiring waktu, pengorbanan energi emosional yang tak terbatas ini mengarah pada kondisi burnout, depresi ringan, dan hilangnya identitas diri.

  • Kehilangan Otonomi dan Identitas Diri (Self-Erasure): Mengutamakan keinginan orang lain secara terus-menerus secara perlahan mengikis hubungan seseorang dengan nilai, kebutuhan, dan preferensi pribadinya sendiri. Ketika ditanya apa yang sebenarnya mereka inginkan, seorang people pleaser kerap merasa kebingungan karena seluruh kapasitas kognitif mereka selama bertahun-tahun telah terlatih hanya untuk membaca dan memenuhi keinginan orang luar.

Memutus rantai perilaku people pleasing bukan berarti berubah menjadi pribadi yang dingin atau tidak peduli, melainkan membangun kembali ketegasan diri (assertiveness) dan batasan emosional yang sehat. Latihan sederhana dapat dimulai dengan menerapkan jeda kognitif sebelum merespons permintaan (misalnya, “Saya cek jadwal saya dulu ya, nanti saya kabari lagi”), membiasakan diri menerima kenyataan bahwa ketidaksetujuan orang lain adalah hal yang wajar, serta menyadari bahwa menjaga kesejahteraan mental diri sendiri adalah syarat utama agar dapat membantu orang lain secara tulus dan berkelanjutan.

REFERENSI:

  • Bares, K. J., & Lounsbury, J. W. (2016). Agreeableness and its relationship to boundary setting and interpersonal stress among young adults. Journal of Individual Differences, 37(2), 112–120. https://doi.org/10.1027/1614-0001/a000195

  • Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
  • Eisenberger, N. I., Lieberman, M. D., & Williams, K. D. (2003). Does rejection hurt? An fMRI study of social exclusion. Science, 302(5643), 290–292. https://doi.org/10.1126/science.1089134

PENULIS : PRIVIANDA AZAHRA PUANRANI

EDITOR : ANDREA PRITA PURNAMA RATRI