Motivasi Intrinsik VS Ekstrinsik : Mana Yang Lebih Menjaga Produktivitas Jangka Panjang ?
- Andrea Prita
- articles
- baydhowi
- binus bekasi
- Book Review
- Catatan dosen
- Lab Psikologi
- psikologi bekasi
Pernah nggak sih, kamu begitu semangat ngerjain sesuatu murni karena penasaran atau senang ngejalaninnya? Tapi di sisi lain, ada juga hal yang dikerjain cuma demi nilai bagus, ngejar gaji bulanan, atau bahkan karena takut ditegur atasan. Nah, guys, di situlah letak perbedaan antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Yuk, kita bahas lebih dalam!”
Apa itu Teori Motivasi Sih ?
Intinya gini, motivasi itu segala hal yang membuat kita semangat untuk melakukan sesuatu biar tujuannya tercapai. Kata “motivasi” sendiri asalnya dari kata motif, yaitu dorongan yang ada didalam diri kita untuk melakukan sesuatu. Jadi teori motivasi itu membahas apa saja yang bisa bikin seseorang bertindak. Motivasi itu ngaruh banget sama usaha, konsisten kita jalaninya, dan arah mana tindakan kita itu. Di psikologi, ada banyak teori yang jelasin ini. Contoh simplenya aja deh mahasiswa pengen dapat nilai bagus, lulus tepat waktu, dan yang pasti membuat bangga orangtua. Ahli juga bilang, motivasi juga bantu jawab kenapa kita musti ngelakuin sesuatu , apa yang tidak bikin kita menyerah untuk mencapai tujuan itu.
Apa yang Dimaksud dengan Teori Motivasi ? Versi Teori dan Cotoh dalam Dunia Perkuliahan
Oke, itu tadi adalah sedikit intermezzo dari teori motivasi. Nah, sekarang kita masuk ke penjelasan teori motivasi dari para ahli yang menjelaskan mengapa seseorang bisa terdorong untuk melakukan sesuatu. Kalau dikaitkan dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai mahasiswa, teori-teori ini ternyata sangat akurat dan relate banget.
Pertama, ada Teori Abraham Maslow (Maslow’s Hierarchy of Needs). Menurut Maslow, manusia memiliki tingkatan kebutuhan yang menjadi sumber motivasi, mulai dari kebutuhan paling dasar hingga kebutuhan untuk meningkatkan kualitas diri. Dalam kehidupan mahasiswa, hal ini tercermin dari kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan istirahat; kebutuhan rasa aman seperti kondisi keuangan yang stabil; kebutuhan sosialisasi seperti bergabung dalam organisasi atau mencari teman; hingga kebutuhan akan penghargaan seperti apresiasi dari dosen.
Kedua, Teori Kebutuhan dari David McClelland. McClelland berpendapat bahwa kita memiliki beberapa kebutuhan utama yang mendorong perilaku, yaitu kebutuhan akan prestasi (need for achievement), kebutuhan akan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan akan hubungan dengan orang lain (need for affiliation). Sebagai contoh, mahasiswa yang memiliki kebutuhan prestasi tinggi pasti terdorong untuk mendapatkan nilai terbaik. Sementara itu, mahasiswa dengan kebutuhan kekuasaan yang besar akan lebih tertarik menjadi ketua organisasi, dan mereka yang memiliki orientasi sosial tinggi akan sangat termotivasi ketika bisa bekerja sama dalam sebuah tim.
Ketiga, Teori Dua Faktor dari Frederick Herzberg. Herzberg membagi faktor motivasi menjadi dua, yaitu faktor pendorong (motivators) dan faktor kenyamanan atau pemeliharaan (hygiene factors). Faktor pendorong adalah hal-hal yang membuat kita semangat, seperti prestasi, apresiasi, dan tanggung jawab. Contohnya, saat kita belajar mati-matian hingga akhirnya mendapat nilai A, rasanya pasti senang banget. Di sisi lain, ada juga faktor yang menjaga kenyamanan kita, seperti suasana kelas yang kondusif, hubungan yang baik dengan teman dan dosen, serta fasilitas kampus yang lengkap. Meskipun fasilitas lengkap, kalau suasananya tidak nyaman, tentu akan terasa percuma.
Mana yang Lebih Kuat Jangka Panjang ?
Nah, meskipun kedua jenis motivasi ini sama-sama penting, keduanya memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Pertama, motivasi ekstrinsik. Karena bersumber dari faktor luar, motivasi ini biasanya mendorong kita untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, terutama pada hal-hal yang sebenarnya kurang disukai atau belum sepenuhnya menarik minat kita. Namun, kelemahannya adalah ketika hadiah atau reward itu hilang dan tugas selesai, rasa semangat kita biasanya ikut surut, bahkan rasa malas akan kembali muncul jika tidak ada lagi “umpan” yang memicu.
Di sisi lain, motivasi intrinsik justru menjadi kekuatan yang membuat kita bertahan jauh lebih lama, berpikir lebih kreatif, dan merasakan kepuasan yang lebih mendalam atas hasil yang dicapai. Meskipun tidak ada orang yang melihat atau memberikan penghargaan, justru motivasi inilah yang membuat kita tidak gampang menyerah meskipun harus mencoba berkali-kali.
REFERENSI
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. Plenum.
- Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68
- Herzberg, F., Mausner, B., & Snyderman, B. B. (1959). The motivation to work. John Wiley & Sons.
- Herzberg, F. (1968). One more time: How do you motivate employees? Harvard Business Review, 46(1), 53–62.
- Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. https://doi.org/10.1037/h0054346
- Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2017). Self-determination theory: Basic psychological needs in motivation, development, and wellness. Guilford Press.
- Vroom, V. H. (1964). Work and motivation. John Wiley & Sons.
Penulis : Widati Padmarini Sastiawan dan Baydhowi
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra Puanrani

Comments :