Pernahkan anda mendengar ujaran sederhana misalnya “Eh, kamu udah mandi belum? Kok itu mukanya masih kelihatan buluk ya”, “Wajah kamu itu cantik, sayangnya badannya agak berisi”, “Senyumanmu sebenarnya manis, mungkin ya kalau giginya rapi bakal makin bagus ya”, “Rambutmu itu bagus, sayangnya keriting rambutnya”. Ucapan seperti ini rasanya tidak asing lagi ya ditelinga kita. Sepintas lalu seperti biasa saja. Tapi bentuk-bentuk ujaran ini sebenarnya mengandung unsur hinaan, ejekan, atau komentar negatif terhadap bentuk, ukuran, berat, atau penampilan fisik seseorang. Dalam ilmu psikologi diistilahkan dengan body shamming.  

Bagi kebanyakan orang yang memiliki tipe kepribadian ekstrovert, mungkin menganggap ujaran sepertini itu hanyalah sebuah candaan, dan biasanya akan terlihat lebih cuek, atau bahkan meresponnya dengan positif, akan tetapi kalimat-kalimat tersebut akan terdengar berbeda ketika bersama orang yang memiliki kepribadian introvert. Akan tetapi, kebanyakan orang yang memiliki kepribadian introvert justru menganggap komentar tersebut serius, merasa malu, menghindari orang atau menghindar dari situasi tersebut yang membuat mereka tidak nyaman. Jadi, orang yang memiliki kepribadian ekstrovert bukan bearti tidak terluka, dan introvert bukan bearti selalu diam. Keduanya bisa merasa sakit akibat dari body shamming, hanya saja mereka menghadapi perasaannya yang berbeda.  

 Body Shamming, apa itu?   

Secara sederhana, body shamming adalah tindakan memberikan komentar, kritik, ejekan, atau memberikan penilaian negative terhadap tubuh dan penampilan seseorang. Hal ini dapat berkaitan dengan bentuk tubuh, ukuran atau berat badan, warna kulit, wajah, rambut,  maupun bagian fisik lainnya.  Body shamming juga tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Kadang bentuknya berupa ejekan langsung, seperti “ Kok kamu gemuk banget ya sekarang?”. Kadang juga muncul dalam bentuk perbandingan “Lihat deh dia, badannya bagus. Kenapa kamu nggak bisa kayak dia?” Bahkan, bisa juga muncul dalam bentuk komentar yang kelihatannya seperti pujian, tetapi sebenarnya tetap membuat seseorang merasa kurang seperti “ Kamu sebenarnya cantik, kalua kulitmu lebih putih pasti makin cantik”. Di media sosial, bentuknya bisa semakin beragam. Misalnya komentar terhadap foto seseorang, meme yang menjadikan bentuk tubuh sebagai bahan lelucon, atau komentar mengenai penampilan seseorang yang kemudian dilihat oleh banyak orang.  

Beberapa bentuk body shaming yang sering kita jumpai meliputi tindakan membandingkan penampilan seseorang dengan orang lain, memberikan label atau julukan tertentu berdasarkan kondisi fisik, mengomentari bagian tubuh yang dianggap kurang sempurna, hingga menjadikan berat badan serta bentuk tubuh sebagai bahan lelucon di tengah pergaulan. 

 Di Balik Luka : Body Shamming dilihat dari Sudut Pandang Psikologis  

Fenomena body shaming dapat dijelaskan melalui tiga teori psikologi utama yang saling melengkapi. Berdasarkan Objectification Theory oleh Barbara Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts (1997), budaya yang berlaku kerap memperlakukan tubuh—khususnya perempuan—sebagai objek yang dinilai semata-mata berdasarkan penampilan luar, sehingga memicu korban untuk melakukan objektifikasi diri dan merasa malu secara mendalam.  

Sementara itu, melalui Social Comparison Theory yang dicetuskan oleh Leon Festinger (1954), manusia memiliki dorongan bawaan untuk membandingkan diri dengan orang lain, di mana kondisi ini semakin diperparah oleh media sosial yang terus-menerus menampilkan standar fisik semu hingga memicu ketidakpuasan tubuh (body dissatisfaction). Selain itu, Social Sigma Theory dari Erving Goffman menjelaskan bahwa pemberian cap negatif terhadap berat badan atau bentuk fisik tertentu dapat membentuk identitas yang dianggap menyimpang oleh masyarakat luas, yang pada akhirnya berpotensi menimbulkan pengucilan sosial, diskriminasi, serta kerentanan psikologis bagi individu yang menjadi sasaran. 

 Apa Dampak Dari Body Shamming? 

Solusi untuk mengatasi dampak body shaming bagi individu dapat dilakukan melalui beberapa langkah penting. Pertama, individu perlu membangun pola pikir yang sehat dengan menyadari bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh bentuk tubuh, mengubah narasi batin yang negatif, serta mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain atau standar yang tidak realistis. Kedua, penting untuk mencari dukungan sosial dengan menceritakan pengalaman tersebut kepada teman, keluarga, atau orang terpercaya agar beban psikologis dapat berkurang.  

Ketiga, individu harus berani memilih lingkungan yang positif dengan menjauhkan diri dari orang-orang yang sering melontarkan komentar fisik merendahkan serta mengikuti komunitas atau akun media sosial yang mendukung penerimaan diri. Terakhir, jika dampak psikologis mulai memicu gangguan makan, depresi, atau rasa tidak puas yang berlebihan, langkah terbaik adalah segera mencari bantuan profesional seperti berkonsultasi dengan psikolog, di mana pendekatan seperti Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapy atau CBT) terbukti efektif dalam membantu mengubah pola pikir negatif dan membangun citra diri yang lebih sehat. 

 Bagaimana menangani Body Shamming? 

Bagi lingkungan dan masyarakat, penanggulangan body shaming memerlukan peran aktif kolektif untuk menciptakan ruang yang aman dan suportif. Pertama, masyarakat perlu meningkatkan edukasi dan kesadaran publik dengan mengkampanyekan literasi kesehatan mental serta menentang normalisasi candaan berbasis fisik (fat-shaming atau lelucon penampilan) yang kerap dianggap sepele. Kedua, membangun budaya komunikasi yang menghargai (positive communication) di dalam keluarga, sekolah, maupun tempat kerja dengan cara memuji aspek prestasi, kecerdasan, atau karakter seseorang alih-alih fokus memuji atau mengomentari bentuk fisik.  

Ketiga, menciptakan regulasi dan batasan yang tegas, seperti menerapkan kebijakan anti-perundungan (anti-bullying) di institusi pendidikan serta menegakkan etika bermedia sosial yang sehat untuk menekan penyebaran komentar negatif atau perundungan siber (cyberbullying). Terakhir, masyarakat perlu mendukung terciptanya ruang yang inklusif dan merayakan keberagaman bentuk tubuh tanpa harus terikat pada standar kecantikan sempit yang kerap dibentuk oleh media komersial. 

 REFERENSI  

 Hastari, D., dkk. (2023). Dari Luka ke Penerimaan Diri: Studi Kualitatif tentang Pengaruh Body Shaming terhadap Pembentukan Harga Diri Mahasiswa. Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling.  

Fredrickson, B. L., & Roberts, T. A. (1997). Objectification Theory: Toward Understanding Women’s Lived Experiences and Mental Health Risks. Psychology of Women Quarterly.  

Higgins, E. T. (1987). Self-Discrepancy Theory: Relating Self and Affect. Psychological Review.  

Cash, T. F. (2005). Citra Tubuh: Panduan untuk Perbaikan Citra Diri.  

Sari, M., dkk. (2024). Hubungan Body Shaming dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Sari Mulia.  

Islamiyati, I. (2021). Konseling Individual dengan Pendekatan Logoterapi untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri pada Mahasiswa yang Mengalami Body Shaming. Jurnal Bimbingan & Konseling Islam.  

 

penulis : Widati Padmarini Sastiawan dan Baydhowi 

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra P