Pernah punya waktu berhari-hari untuk menyelesaikan tugas, tetapi baru benar-benar mengerjakannya ketika deadline tinggal beberapa jam? Situasi seperti ini cukup umum terjadi. Kebiasaan menunda pekerjaan dikenal sebagai prokrastinasi, yaitu kecenderungan untuk menunda suatu aktivitas meskipun seseorang mengetahui bahwa penundaan tersebut dapat menimbulkan konsekuensi.

Salah satu alasan kita menunda adalah karena deadline yang masih jauh belum terasa mendesak. Ketika konsekuensi dari sebuah tugas belum terlihat, otak cenderung memilih aktivitas yang memberikan kepuasan lebih cepat, seperti bermain media sosial, menonton, atau melakukan kegiatan lain yang terasa lebih menyenangkan. Tugas yang dianggap sulit, membosankan, atau membuat khawatir terhadap hasil juga dapat membuat seseorang semakin terdorong untuk menundanya.

Menariknya, ketika waktu semakin sedikit, rasa urgensi mulai meningkat. Deadline yang sudah dekat membuat kita menyadari bahwa tugas harus segera diselesaikan. Perhatian pun menjadi lebih terarah dan kita cenderung mengurangi distraksi agar pekerjaan dapat selesai tepat waktu. Inilah yang sering membuat seseorang merasa bahwa dirinya justru lebih produktif ketika berada di bawah tekanan.

Namun, bekerja dalam kondisi terdesak bukan berarti selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Tekanan yang terlalu tinggi dapat meningkatkan stres, membuat seseorang terburu-buru, dan mengurangi kesempatan untuk melakukan pengecekan atau memperbaiki pekerjaan. Karena itu, mengandalkan deadline sebagai satu-satunya pemicu produktivitas bukanlah kebiasaan yang ideal.

Salah satu cara untuk mengurangi kebiasaan tersebut adalah dengan menciptakan deadline kecil sebelum deadline sebenarnya. Tugas dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan dikerjakan secara bertahap. Dengan begitu, kita tidak perlu menunggu sampai rasa panik muncul untuk mulai bekerja.

Pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan karena kita tidak mampu bekerja sejak awal. Kita hanya sering menunggu sampai sebuah tugas terasa cukup mendesak untuk mendapatkan perhatian penuh. Mulai lebih awal, meskipun sedikit, dapat membantu pekerjaan terasa lebih ringan dan membuat kita memiliki lebih banyak kendali atas waktu.

REFERENSI :

  • Steel, P., Svartdal, F., Thundiyil, T., & Brothen, T. (2018). Examining procrastination across multiple goal stages: A longitudinal study of Temporal Motivation Theory. Frontiers in Psychology, 9, 327. DOI:https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.00327
  • Ferrari, J. R. (2001). Procrastination as self-regulation failure of performance: Effects of cognitive load, self-awareness, and time limits on “working best under pressure.” European Journal of Personality, 15(5), 391–406.
    DOI: https://doi.org/10.1002/per.413

Penulis : Fadliana Camilla dan Baydhowi

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra