Environmental Psychology: Cuaca Panas Bikin Mood Berantakan?
Source: Kompas (2023)
Beberapa waktu terakhir, cuaca panas dan suhu yang terasa semakin tinggi sering dialami di berbagai wilayah Indonesia. Saat cuaca terasa terlalu panas, pernahkah kamu merasa lebih mudah lelah, kurang fokus, malas beraktivitas, atau bahkan lebih mudah bad mood? Fenomena ini dapat dijelaskan melalui environmental psychology, yaitu bidang psikologi yang mempelajari hubungan antara individu dan lingkungan fisiknya. Dalam perspektif ini, kondisi lingkungan seperti cuaca, cahaya, suhu, kelembapan, dan kualitas udara dapat memengaruhi kondisi psikologis maupun fisiologis seseorang (Steg et al., 2012).
Dalam kehidupan sehari-hari, cuaca sering dikaitkan dengan suasana hati. Cuaca yang nyaman, seperti udara sejuk, cahaya yang cukup, dan angin yang tidak terlalu kencang, sering diasosiasikan dengan perasaan yang lebih positif. Sebaliknya, cuaca yang terlalu panas, lembap, atau tidak nyaman dapat membuat tubuh lebih cepat lelah dan menurunkan kenyamanan dalam beraktivitas. Kondisi ini kemudian dapat berdampak pada mood, konsentrasi, dan well-being seseorang.
Selain suhu, beberapa aspek lingkungan lain seperti intensitas cahaya, kelembapan, kualitas udara, jumlah awan, dan frekuensi hujan juga dapat berperan dalam memengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Misalnya, suhu yang terlalu tinggi dapat membuat tubuh merasa tidak nyaman, meningkatkan rasa lelah, dan membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi. Kelembapan yang tinggi juga dapat membuat udara terasa lebih berat, sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih melelahkan. Kondisi lingkungan yang kurang nyaman ini dapat memengaruhi persepsi individu terhadap lingkungan sekitarnya dan berdampak pada tingkat kebahagiaan maupun kepuasan hidup (Zhang & Li, 2025).
Dengan demikian, cuaca tidak hanya memengaruhi aktivitas fisik sehari-hari, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Saat cuaca terasa panas atau kurang nyaman, kita dapat menjaga kesejahteraan psikologis dengan mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat sejenak, mengatur aktivitas di waktu yang lebih nyaman, mencari ruang dengan sirkulasi udara yang baik, serta tetap menjaga interaksi sosial dengan orang terdekat. Hal sederhana seperti berkomunikasi, beristirahat, dan menjaga kenyamanan tubuh dapat membantu mood tetap stabil meskipun kondisi cuaca sedang kurang mendukung.
References
Farisa, F. C. (2023, April 25). Cuaca Panas di Indonesia, Kemenkes Imbau Warga Banyak Minum Air Putih dan Pakai Tabir Surya. KOMPAS.com. https://nasional.kompas.com/read/2023/04/25/12002341/cuaca-panas-di-indonesia-kemenkes-imbau-warga-banyak-minum-air-putih-dan
Steg, L., Van Den Berg, A. E., & De Groot, J. I. M. (2012). Environmental Psychology: An Introduction. John Wiley & Sons.
Zhang, W., & Li, W. (2025). How weather conditions affect well-being: an explanation from the perspective of environmental psychology. Frontiers in Public Health, 13, 1553315. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1553315
Created by: Athaullah Nuran Hilmi .S (2702364313)
Edited by : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra Puanrani

Comments :