Cuman Mau Scroll Sebentar Berujung Jadi 2 Jam
“Cuman mau scroll sebentar.” Kalimat ini mungkin sering kita ucapkan ketika membuka media sosial. Awalnya hanya ingin melihat satu atau dua video, membalas pesan, atau mencari informasi tertentu. Namun, tanpa disadari, waktu terus berjalan. Ketika melihat jam, ternyata sudah dua jam berlalu.
Fenomena terus-menerus melakukan scrolling, terutama ketika seseorang sulit berhenti mengonsumsi informasi negatif, biasanya dikenal sebagai doomscrolling. Doomscrolling dapat dipahami sebagai perilaku mengosumsi konten atau berita negatif secara berulang dan berkempanjangan di media digital, meskipun aktivitas tersbebut dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman atau tertekan (Satici et al., 2023). Salah satu ciri dari perilaku ini adalah seseorang dapat kehilangan kesadaran terhadap waktu yang dihabiskan saat terus membaca atau melihat konten di media sosial.
Doomscrolling dapat terjadi karena media sosial menyediakan informasi secara terus-menerus. Setelah membaca atau melihat satu konten, pengguna dapat dengan mudah menemukan konten lainnya tanpa harus berhenti. Penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan beberapa aspek penggunaan media sosial, seperti fear of missing out (FOMO), penggunaan media sosial yang bermasalah, dan tekanan psikologis (Satici et al., 2023). Oleh karena itu, seseorang dapat terus melakukan scrolling karena merasa ingin mengetahui informasi selanjutnya atau takut tertinggal dari informasi yang sedang ramai dibicarakan.
Kebiasaan scrolling yang berlangsung dalam waktu lama, termasuk ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi konten negatif, dapat membuat seseorang menghabiskan waktu lebih banyak dari yang direncanakan. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, beristirahat, atau melakukan aktivitas lain dapat tergantikan oleh penggunaan media sosial. Dalam konteks yang lebih luas, penggunaan media sosial yang bermasalah juga ditemukan memiliki hubungan dengan berbagai kondisi psikologis, seperti gejala depresi, kecemasan, dan stres pada remaja dan dewasa muda (Shannon et al., 2022).
Namun, media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperoleh informasi, berkomunikasi, dan mendapatkan hiburan. Oleh karena itu, yang penting adalah bagaimana seseorang mampu mengatur penggunaannya agar tidak berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan menetapkan batas waktu penggunaan media sosial dan lebih menyadari waktu yang dihabiskan saat menggunakan ponsel. Jadi, lain kali ketika berkata, “Cuman mau scroll sebentar,” mungkin kita perlu benar-benar memperhatikan waktu. Karena tanpa disadari, satu video dapat berlanjut ke video berikutnya, beberapa menit dapat berubah menjadi satu jam, dan scrolling yang awalnya hanya untuk mencari hiburan bisa saja berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Referensi
Shannon, H., Bush, K., Villeneuve, P. J., Hellemans, K. G. C., & Guimond, S. (2022). Problematic social media use in adolescents and young adults: Systematic review and meta-analysis. JMIR Mental Health, 9(4), e33450. https://doi.org/10.2196/33450
Satici, S. A., Gocet Tekin, E., Deniz, M. E., & Satici, B. (2023). Doomscrolling Scale: Its association with personality traits, psychological distress, social media use, and wellbeing. Applied Research in Quality of Life, 18(2), 833–847. https://doi.org/10.1007/s11482-022-10110-7
Penulis Fadliana Camilla dan Baydhowi
Editor : Privianda Azahra

Comments :