Cuaca dan Perubahan Musim Dapat Mempengaruhi Mood? Kok Bisa?
Source: Google (2026)
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang secara umum mengalami dua musim utama, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara beriklim subtropis yang mengalami empat musim: musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin.
Pernahkah kalian merasa lebih tidak bersemangat ketika hari terus-menerus mendung? Atau justru lebih berenergi ketika cuaca cerah? Bisa juga sebaliknya: ada yang merasa tenang ketika hujan turun, tetapi lebih mudah merasa tidak nyaman ketika cuaca panas.
Ternyata, hubungan antara cuaca dan suasana hati memang telah menjadi topik penelitian dalam psikologi. Namun, respons setiap orang terhadap cuaca tidak selalu sama.
Seasonal Affective Disorder: Ketika Perubahan Musim Berkaitan dengan Depresi
Seasonal Affective Disorder atau SAD merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan depresi yang muncul mengikuti pola musiman tertentu. Dalam DSM-5-TR, kondisi ini dipahami sebagai gangguan depresi dengan seasonal pattern, yaitu ketika episode depresi muncul dan mereda secara konsisten pada waktu tertentu dalam setahun (American Psychiatric Association, 2022).
Pola yang paling umum terjadi pada musim gugur dan musim dingin, ketika paparan cahaya matahari berkurang. Perubahan cahaya ini dapat berkaitan dengan circadian rhythm serta sistem biologis yang melibatkan melatonin dan serotonin.
Pada pola SAD di musim dingin, seseorang dapat mengalami berkurangnya energi, tidur lebih lama dari biasanya (hypersomnia), meningkatnya keinginan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat, hingga menarik diri dari aktivitas sosial.
Namun, penting untuk membedakan SAD dari perubahan mood sehari-hari. Merasa lebih malas ketika hujan atau lebih ceria ketika cuaca cerah tidak serta-merta berarti seseorang mengalami SAD. SAD merupakan kondisi klinis dengan pola dan tingkat gangguan yang lebih signifikan.
Tidak Semua Orang Bereaksi terhadap Cuaca dengan Cara yang Sama
Klimstra et al. (2011) menemukan bahwa individu dapat menunjukkan pola respons mood yang berbeda terhadap cuaca. Pola tersebut disebut sebagai weather reactivity types, yaitu:
- Summer Lovers: cenderung memiliki mood lebih positif ketika cuaca lebih hangat dan cerah.
- Summer Haters: cenderung menunjukkan mood yang lebih buruk ketika cuaca semakin hangat dan cerah.
- Rain Haters: cenderung menunjukkan mood lebih buruk ketika curah hujan meningkat.
- Unaffected: mood relatif tidak banyak berkaitan dengan perubahan cuaca.
Temuan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu jenis cuaca yang secara universal membuat semua orang merasa lebih bahagia atau lebih sedih.
Bagi sebagian orang, hujan mungkin membuat suasana terasa murung dan melelahkan. Bagi orang lain, suara hujan dan udara yang lebih sejuk justru dapat terasa menenangkan. Begitu pula dengan cuaca panas dan cerah: menyenangkan bagi sebagian orang, tetapi dapat terasa tidak nyaman bagi yang lain.
Bagaimana dengan Musim Kemarau di Indonesia?
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau 2026 pada sebagian besar wilayah yang mengalami puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 (Saputri, 2026).
Perubahan musim dapat menjadi salah satu konteks yang berkaitan dengan perubahan mood, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan bagaimana kita merasa. Kondisi fisik, kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, stres, lingkungan sosial, dan berbagai faktor psikologis lainnya juga turut berperan.
Jadi, Apakah Cuaca Benar-Benar Mempengaruhi Mood?
Bisa, tetapi tidak selalu dengan cara yang sama pada setiap orang. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan individual dalam bagaimana mood berkaitan dengan suhu, sinar matahari, dan curah hujan (Klimstra et al., 2011). Pada sebagian orang, perubahan musim juga dapat berkaitan dengan pola depresi musiman seperti SAD.
Karena itu, kita dapat mulai memperhatikan pola diri sendiri. Apakah kita lebih berenergi ketika cuaca cerah? Lebih mudah lelah saat cuaca panas? Atau justru lebih nyaman dan fokus ketika hujan?
Mengenali pola tersebut bukan berarti menyalahkan cuaca atas setiap perubahan emosi. Namun, memahami bagaimana lingkungan berkaitan dengan mood dapat membantu kita lebih mengenali kondisi diri sendiri, sekaligus memahami bahwa orang lain mungkin bereaksi terhadap cuaca dengan cara yang berbeda.
References
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed., text rev.; DSM-5-TR). American Psychiatric Association Publishing.
Klimstra, T. A., Frijns, T., Keijsers, L., Denissen, J. J. A., Raaijmakers, Q. A. W., Van Aken, M. A. G., Koot, H. M., Van Lier, P. A. C., & Meeus, W. H. J. (2011). Come rain or come shine: Individual differences in how weather affects mood. Emotion, 11(6), 1495–1499. https://doi.org/10.1037/a0024649
Saputri, R. (2026, June 19). Prediksi musim kemarau tahun 2026 di Indonesia (Pemutakhiran Juni 2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
https://www.piqsels.com/en/public-domain-photo-zywgs
Written by Athaullah Nuran Hilmi S. (2702364313)
Edited by : Andrea Prita Purnama Ratri & Privianda Azahra
Comments :