Perfeksionisme di Kampus: Motivasi atau Sumber Stres?
Ketika di bangku kuliah, tuntutan untuk berprestasi menggelayuti pundak seorang mahasiswa. Sumber tuntutan itu datangnnya bisa dari dalam diri sendiri ataupun lingkungan sosial. Nilai tinggi, aktif organisasi, hingga pencapaian pribadi sering membuat mahasiswa merasa harus tampil sempurna. Dari situ, perfeksionisme muncul sebagai dorongan untuk selalu memberikan hasil terbaik. Namun, di balik motivasi tersebut, perfeksionisme juga bisa menjadi sumber tekanan yang besar.
Perfeksionisme adalah kecenderungan seseorang menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri. Dalam kehidupan kampus, hal ini terlihat dari keinginan untuk selalu mendapat nilai terbaik, takut melakukan kesalahan, atau merasa hasil kerja tidak pernah cukup bagus. Dalam kadar yang sehat, perfeksionisme sebenarnya dapat membantu mahasiswa menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan termotivasi untuk berkembang.
Namun, perfeksionisme mulai menjadi masalah ketika seseorang merasa harus selalu sempurna. Banyak mahasiswa akhirnya mengalami overthinking, takut gagal, dan sulit merasa puas dengan dirinya sendiri. Bahkan, ada yang menunda mengerjakan tugas karena ingin semuanya terlihat sempurna. Akibatnya, mereka justru merasa stres, lelah, dan kehilangan motivasi.
Tekanan juga semakin besar karena kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama melalui media sosial. Melihat pencapaian teman sering membuat mahasiswa merasa tertinggal dan memaksakan diri untuk memenuhi standar yang tidak realistis. Padahal, setiap orang memiliki proses dan kemampuan yang berbeda.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan berarti harus selalu sempurna. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Memiliki target tinggi memang baik, tetapi kesehatan mental tetap harus dijaga. Pada akhirnya, yang paling penting bukan menjadi yang paling sempurna, melainkan mampu terus berkembang dan menghargai diri sendiri selama menjalani proses tersebut.
Referensi
- Sutedja, F. C., & Yoenanto, N. H. (2022). Pengaruh Perfeksionisme dan Regulasi Diri terhadap Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa. Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental, 2(1), 137–145. https://doi.org/10.20473/brpkm.v2i1.31939
- Mistica, R., Zubair, A. G. H., & Nurhikmah. (2022). Kecenderungan Perfeksionisme sebagai Prediktor Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa di Kota Makassar. Jurnal Psikologi Karakter, 3(1). https://doi.org/10.56326/jpk.v3i1.1996
- Fadhlurrahman, F. R., Faridi, T. R., & Anggreiny, N. (2024). Peran Perfeksionisme terhadap Academic Burnout pada Mahasiswa Kedokteran: Pengujian Perfeksionisme Model 2 x 2. INSAN Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, 9(1), 82–107. https://doi.org/10.20473/jpkm.v9i12024.82-107
- Al Farisi, S. Y., Arpandy, G. A., & Fitriah, A. (2024). Hubungan Antara Fear of Failure dengan Perfeksionisme pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi. https://doi.org/10.47134/pjp.v1i4.2818
- Yahya, M. (2017). Modul Pengembangan Psychological Well-Being pada Mahasiswa Perfeksionis. CALYPTRA: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya.
Penulis : Khairini Nathania dan Baydhowi
Editor : Privianda Azahra Puanrani

Comments :