Bagi sebagian orang, menolak permintaan orang lain terasa seperti sebuah dosa besar. Ada dorongan tak kasat mata yang memaksa diri untuk selalu mengiyakan bantuan, menjaga suasana tetap aman, dan memastikan semua orang di sekitar merasa senang—meski harus mengorbankan waktu, energi, hingga kesehatan mental sendiri. Dalam psikologi, kecenderungan perilaku ini dikenal dengan istilah people pleasing.

Sering kali, perilaku ini dibungkus rapi atas nama “kebaikan” atau “sikap ramah”. Namun, dari sudut pandang psikologis, people pleasing yang berlebihan bukanlah bentuk ketulusan, melainkan mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang timbul dari kecemasan mendasar (Exline et al., 2012).

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di balik dorongan untuk selalu menyenangkan orang lain?

Akar Masalah: Fear of Rejection dan Conditional Self-Worth

Di balik kebiasaan sulit berkata “tidak”, terdapat ketakutan yang mendalam akan penolakan (fear of rejection) dan ketakutan akan konflik (conflict avoidance). Banyak people pleaser mengasosiasikan penolakan orang lain sebagai ancaman terhadap keberhargaan diri mereka. Rasa berharga (self-worth) yang dimiliki bersifat kondisional—hanya merasa bernilai jika berhasil membuat orang lain bahagia atau terkesan (Learya et al., 2006).

Awal Mula Perilaku: Pola Pengasuhan dan Trauma Masa Lalu

Kecenderungan menjadi people pleaser sering kali berakar dari pengalaman masa kecil. Anak yang tumbuh di lingkungan pengasuhan yang menuntut pujian lewat pencapaian, atau lingkungan yang tidak stabil secara emosional, belajar untuk menekan kebutuhan emosional mereka sendiri. Mereka mengadopsi peran sebagai “anak penurut” demi menjaga kedamaian rumah atau untuk mendapatkan validasi dan kasih sayang dari orang tua (Ainsworth et al., 1978).

Dampak Buruk: Burnout dan Resentment (Rasa Benci yang Terpendam)

Selalu mendahulukan kepentingan orang lain secara terus-menerus memicu dampak negatif yang nyata bagi kesehatan mental:

  • Emotional Burnout: Kehabisan energi emosional karena terus-menerus menampung dan memenuhi ekspektasi orang lain.

  • Kehilangan Identitas Diri (Loss of Autonomy): Sulit mengenali apa yang sebenarnya diinginkan, dibutuhkan, atau disukai oleh diri sendiri karena selalu berfokus pada keinginan orang lain.

  • Membangun Rasa Benci Terpendam (Resentment): Meski terlihat menolong di luar, di dalam hati sering kali muncul rasa kesal dan marah karena merasa dimanfaatkan, yang justru merusak kualitas hubungan jangka panjang.

Mengubah kebiasaan ini memerlukan latihan yang konsisten dalam menetapkan batasan diri (boundaries):

  • Terapkan Jeda Sebelum Menjawab: Saat dimintai tolong, hindari langsung mengiyakan. Gunakan kalimat seperti, “Aku cek jadwal/kesibukanku dulu ya, nanti aku kabari lagi.”

  • Pelajari Assertive Communication: Latih kemampuan menolak secara tegas namun tetap sopan tanpa harus memberikan alasan fiktif atau minta maaf berlebihan.

  • Separasi Antara Penolakan dan Nilai Diri: Menolak permintaan seseorang bukan berarti kamu orang yang jahat atau tidak peduli, melainkan bentuk tanggung jawab atas kapasitas dirimu sendiri.

Kebaikan yang sejati berawal dari kemampuan untuk bersikap baik pada diri sendiri terlebih dahulu. Menetapkan batasan bukanlah bentuk egoisme, melainkan langkah paling sehat untuk menjaga integritas mental dan membangun hubungan yang lebih jujur dengan orang lain.

Referensi :

  • Exline, J. J., Zell, A. L., Bratslavsky, E., Hamilton, M., & Swenson, A. (2012). People-pleasing through altered self-reports: On the troubling relationship between willingness to compromise and authenticity. Journal of Research in Personality, 46(2), 171–178. https://doi.org/10.1016/j.jrp.2011.12.012
  • Leary, M. R., Gallagher, B., Fors, E., Buttermore, N., Baldwin, E., Kennedy, K., & Mills, A. (2006). The communicative value of interpersonal behaviors: How people-pleasing and self-presentation influence social inclusion. Journal of Personality and Social Psychology, 90(4), 623–639. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.4.623

 

Penulis : Privianda Azahra Puanrani

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri