Ketika Mahasiswa Tidak Diberi Ruang untuk Memilih: Pentingnya Autonomy dalam Belajar
Pernah merasa bahwa proses kuliah hanya tentang mengikuti instruksi, mengerjakan tugas, dan memenuhi tuntutan dosen? Misalnya, semua mahasiswa harus menggunakan cara yang sama, memilih topik yang sudah ditentukan, atau mengikuti aturan tanpa banyak ruang untuk menentukan pilihan sendiri. Kondisi seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya dapat memengaruhi bagaimana mahasiswa memandang proses belajarnya.
Dalam psikologi pendidikan, hal ini berkaitan dengan autonomy dalam belajar. Autonomy bukan berarti mahasiswa bebas melakukan apa pun tanpa aturan. Autonomy lebih berkaitan dengan kesempatan untuk memiliki pilihan, menyampaikan pendapat, dan merasa bahwa dirinya memiliki kendali atas proses belajar yang dijalani.
Mengapa Autonomy Penting?
Menurut Self-Determination Theory, autonomy merupakan salah satu dari tiga kebutuhan psikologis dasar manusia, bersama dengan competence dan relatedness. Ketika kebutuhan tersebut terpenuhi, seseorang lebih mungkin memiliki motivasi yang berasal dari dirinya sendiri dan terlibat secara lebih positif dalam aktivitas yang dilakukan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, mahasiswa yang merasa mendapatkan dukungan terhadap autonomy cenderung menunjukkan motivasi yang lebih otonom. Sebuah meta-analisis mengenai mahasiswa pendidikan tinggi juga menemukan bahwa perceived autonomy support berhubungan dengan motivasi dan pencapaian akademik.
Artinya, memberikan mahasiswa ruang untuk menentukan pilihan dalam belajar bukan hanya membuat mereka merasa lebih bebas, tetapi juga dapat membantu mereka menjadi lebih terlibat dalam proses pembelajaran.
Ketika Belajar Terlalu Dikontrol
Kurangnya penguatan autonomy dapat terjadi ketika proses pembelajaran terlalu berpusat pada kontrol. Mahasiswa mungkin lebih sering diarahkan mengenai apa yang harus dilakukan, tetapi kurang diberikan kesempatan untuk menentukan bagaimana mereka ingin belajar.
Contohnya, mahasiswa hanya diberikan satu pilihan topik tugas, satu metode pengerjaan, atau satu cara untuk menunjukkan pemahamannya. Akibatnya, mahasiswa dapat menjadi lebih berorientasi pada memenuhi tuntutan eksternal dibandingkan memahami materi karena memang memiliki ketertarikan terhadapnya.
Penelitian pada mahasiswa universitas menunjukkan bahwa dukungan autonomy berkaitan dengan autonomous motivation, sedangkan pengalaman autonomy yang terhambat berkaitan dengan controlled motivation. Motivasi yang lebih otonom juga berkaitan dengan engagement, effort, dan learning.
Memberikan Pilihan Bukan Berarti Mengurangi Peran Dosen
Penguatan autonomy tidak berarti dosen harus membiarkan mahasiswa belajar tanpa arahan. Justru, dosen tetap memiliki peran penting dalam memberikan struktur dan tujuan pembelajaran, tetapi dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengambil keputusan tertentu.
Misalnya, dosen dapat memberikan beberapa pilihan topik untuk tugas, membebaskan mahasiswa memilih bentuk presentasi, memberikan kesempatan menyampaikan pendapat, atau menjelaskan alasan di balik suatu aturan akademik.
Dengan begitu, mahasiswa tetap memiliki batasan dan tujuan yang jelas, tetapi juga merasa bahwa dirinya memiliki peran dalam menentukan proses belajarnya.
Dari “Harus Belajar” Menjadi “Saya Memilih untuk Belajar”
Pembelajaran yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang dapat disampaikan kepada mahasiswa. Proses belajar juga perlu memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi individu yang aktif dalam menentukan dan mengelola proses belajarnya.
Ketika mahasiswa diberikan ruang untuk memilih, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan dalam batas yang jelas, mereka tidak hanya menjadi penerima instruksi. Mereka juga belajar untuk bertanggung jawab terhadap pilihan dan proses belajarnya sendiri.
Pada akhirnya, autonomy dalam belajar bukan tentang memberikan kebebasan tanpa batas, tetapi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memiliki suara dan kendali dalam proses belajarnya. Karena ketika mahasiswa merasa bahwa proses belajar juga menjadi miliknya, belajar tidak lagi sekadar sesuatu yang harus dilakukan, tetapi sesuatu yang dapat mereka maknai dan jalani secara lebih sadar.
Referensi :
- Johansen, M. O., Eliassen, S., & Jeno, L. M. (2023). The bright and dark side of autonomy: How autonomy support and thwarting relate to student motivation and academic functioning. Frontiers in Education, 8, 1153647.
- Feri, R., Soemantri, D., & Jusuf, A. (2017). The relationship between autonomous motivation and autonomy support in medical students’ academic achievement. Journal of Education and Learning (EduLearn), 11(1), 1–8.
Penulis : Privianda Azahra
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri

Comments :