Ketika Feedback Dosen Terasa Kurang: Mengapa Feedback Konstruktif Penting dalam Proses Belajar?
Pernah nggak sih, sudah mengerjakan tugas dengan maksimal, tetapi feedback dari dosen yang diterima hanya berupa nilai tanpa penjelasan yang jelas? Atau mungkin komentar yang diberikan terlalu singkat sehingga kita bingung bagian mana yang sebenarnya perlu diperbaiki? Situasi seperti ini cukup umum terjadi dalam proses perkuliahan. Padahal, feedback dari dosen bukan hanya berfungsi untuk menunjukkan hasil belajar, tetapi juga membantu mahasiswa memahami perkembangan dan kekurangan mereka.
Feedback Bukan Sekadar Nilai
Nilai memang memberikan gambaran mengenai pencapaian mahasiswa, tetapi nilai saja belum tentu menjelaskan apa yang sudah dilakukan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki. Feedback yang konstruktif seharusnya memberikan informasi yang spesifik mengenai pekerjaan mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat mengetahui langkah selanjutnya untuk meningkatkan performanya.
Misalnya, daripada hanya memberikan komentar “kurang tepat”, dosen dapat menjelaskan bagian mana yang kurang tepat dan bagaimana cara memperbaikinya. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mengetahui bahwa jawabannya salah, tetapi juga memahami alasan di balik kesalahan tersebut.
Ketika Feedback yang Minim Membuat Mahasiswa Bingung
Minimnya feedback konstruktif dapat membuat mahasiswa kesulitan mengevaluasi proses belajarnya sendiri. Mahasiswa mungkin mendapatkan nilai yang rendah, tetapi tidak mengetahui secara pasti penyebabnya. Akibatnya, kesalahan yang sama berpotensi kembali terjadi pada tugas berikutnya.
Selain itu, feedback yang terlalu umum juga dapat membuat mahasiswa merasa bahwa usaha yang mereka lakukan kurang mendapatkan arahan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat proses belajar terasa lebih berorientasi pada nilai dibandingkan perkembangan kemampuan.
Feedback yang Baik Seharusnya Seperti Apa?
Feedback yang efektif tidak harus selalu panjang. Yang lebih penting adalah spesifik, jelas, relevan, dan dapat ditindaklanjuti. Beberapa hal yang dapat diperhatikan dalam memberikan feedback antara lain:
- Menjelaskan bagian yang sudah dilakukan dengan baik.
- Menunjukkan bagian yang masih perlu diperbaiki.
- Memberikan alasan atau penjelasan atas kekurangan tersebut.
- Memberikan saran konkret mengenai cara memperbaikinya.
- Mengarahkan mahasiswa pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Dengan feedback seperti ini, mahasiswa tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dari proses yang telah dilakukan.
Dari Feedback Menjadi Kesempatan untuk Berkembang
Pada akhirnya, feedback seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk kritik semata. Feedback merupakan bagian dari proses pembelajaran yang membantu mahasiswa memahami posisi mereka saat ini dan menentukan apa yang perlu dilakukan selanjutnya.
Dosen dan mahasiswa memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan proses feedback yang efektif. Dosen dapat memberikan arahan yang lebih spesifik, sementara mahasiswa dapat secara aktif meminta klarifikasi ketika feedback yang diberikan belum cukup jelas.
Karena belajar bukan hanya tentang mendapatkan nilai, tetapi juga tentang mengetahui bagaimana kita bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Referensi :
- Carless, D., & Boud, D. (2018). The development of student feedback literacy: Enabling uptake of feedback. Assessment & Evaluation in Higher Education, 43(8), 1315–1325. https://doi.org/10.1080/02602938.2018.1463354
- Charalampous, A., & Darra, M. (2024). The impact of teacher feedback on non-cognitive aspects of student’s performance in higher education: A review of research. International Research in Education, 12(2), 13–38. https://doi.org/10.5296/ire.v12i2.22001
Penulis : Privianda Azahra
Editor : Andrea Prita Purnama Ratri

Comments :