Pada tanggal Rabu, 13 Mei 2026 mulai dari 9:30, saya observasi kelas LA88 mata kuliah Biological Psychology di gedung Anggrek, Ruang 423, yang dipandu oleh Pak Aryo. Sebagai cabang ilmu yang menjembatani misteri biologis tubuh dengan kompleksitas manifestasi psikologis. Perkuliahan kali ini secara spesifik membedah tema besar yaitu Motivation and Emotion. Topik Motivation and Emotion ada dibagi dalam 3 materi; Yaitu Emotion in Biopsychology, Bio Sex and Gender, dan Adaptive Response of Emotion. 

Dalam pandangan psikologi, emosi bukan sekadar “perasaan”, melainkan sebuah interaksi kompleks di dalam otak . Dalam biopsikologi, emosi sebuah proses interaktif yang melibatkan sistem saraf manusia. Highlight pembahasan dimana Pak Aryo menekankan pentingnya memahami emosi melalui dua dimensi utama, yaitu arousal dan valence. Arousal merujuk pada tingkat intensitas fisik dari suatu emosi, misal bagaimana . Sementara itu, valence menentukan arah dari emosi tersebut, apakah bersifat positif atau negatif. Melalui kombinasi kedua dimensi ini, mahasiswa diajak memahami misal emosi seperti ketakutan yang mendalam dan kegembiraan yang meluap-luap sebenarnya memiliki tingkat arousal fisiologis tinggi, akan tetapi dibedakan oleh nilai valence yang diproses di otak.

Pembahasan kemudian mendalami peran struktur otak dalam memproses emosi. Pak Aryo menjelaskan keterlibatan amigdala dan hipokampus yang krusial dalam membentuk memori. Secara faktual, amigdala berperan sebagai pusat deteksi ancaman dan pemrosesan emosi intens, sementara hipokampus mengintegrasikan emosi  Memori tersebut terkait erat dengan pengalaman subjektif seseorang, jadi memori yang ada makna bagi individu menjadi lebih cenderung kuat direcall.  

 Selanjutnya, pembahasan emosi beralih pada  konsep Biologi Seks dan Gender, dimana bahasa pembelahan sel dan pembentukan struktur jenis kelamin anak lahir sebagai laki-laki atau perempuan. Secara biologis, sel sperma dari pihak pria membawa kromosom seks X atau Y, yang nantinya akan menentukan komposisi genetik embrio (XX perempuan atau XY laki-laki). Proses ini diikuti oleh serangkain sinyal hormonal yang memicu diferensiasi organ reproduksi internal dan eksternal, yang awalnya berkembang dari struktur yang sama pada janin tahap awal. Hormon seks seperti androgen serta testosteron pada pria dan estrogen serta progesteron pada wanita memiliki peran penting tidak hanya dalam perkembangan fisik, tetapi juga dalam modulasi psikologis. Hormon-hormon ini berinteraksi dengan sistem neurotransmitter di otak yang mempengaruhi suasana hati, dorongan seksual, dan perilaku sosial. 

Materi diakhiri dengan pembahasan mengenai Mekanisme adaptive response yaitu stress dan rasa sakit. Pak Aryo menjelaskan konsep stress bisa bersifat positif (eustress) dan negatif (distress). Eustress terjadi ketika lingkungan dianggap sebagai tantangan yang dapat diatasi, sehingga memicu kewaspadaan dan kinerja yang optimal. Sedangkan, distress terjadi ketika lingkungan dianggap sebagai beban yang melampaui kapasitas adaptasi individu. Intinya adalah penting bagi kita untuk mencari keseimbangan pada tingkat stress, pada level stress yang tepat dapat kita manfaatkan sebagai motivator.