Menonton konser sering menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan, terutama bagi remaja dan dewasa muda. Banyak orang rela menabung, mengantri tiket, bahkan datang dari luar kota demi melihat idolanya secara langsung. Namun setelah konser selesai, tidak sedikit orang justru merasa sedih, kosong, kehilangan semangat, hingga sulit kembali menjalani rutinitas sehari-hari. Fenomena ini dikenal sebagai Post-Concert Depression (PCD).

Post-concert depression merupakan kondisi emosional sementara yang muncul setelah menghadiri konser atau acara musik yang sangat dinantikan. Fenomena ini bukan gangguan mental klinis, melainkan respons emosional akibat perubahan suasana hati yang sangat intens. Saat konser berlangsung, seseorang merasakan euforia tinggi karena musik, suasana meriah, interaksi dengan sesama penggemar, dan kesempatan melihat idolanya secara langsung. Namun ketika konser berakhir, muncul perasaan kehilangan karena momen tersebut selesai begitu cepat.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori dopamine reward system. Saat seseorang menikmati konser, otak melepaskan hormon dopamin yang memunculkan rasa senang dan bahagia. Setelah konser selesai, kadar dopamin menurun sehingga individu mengalami emotional crash, yaitu perubahan emosi mendadak dari sangat bahagia menjadi sedih atau hampa. Akibatnya, aktivitas sehari-hari terasa lebih membosankan dibanding pengalaman konser yang penuh emosi.

Selain itu, teori parasocial relationship juga menjelaskan mengapa banyak penggemar merasa sangat emosional setelah konser. Parasocial relationship adalah hubungan emosional satu arah antara penggemar dengan idolanya. Melalui musik, media sosial, dan konten digital, penggemar merasa dekat secara emosional dengan artis yang mereka sukai. Ketika konser berlangsung, kedekatan tersebut terasa lebih nyata. Namun setelah konser selesai, muncul rasa kehilangan karena pengalaman tersebut tidak dapat diulang setiap hari.

Fenomena ini semakin sering ditemukan di kalangan fandom, termasuk di Indonesia. Penelitian Ramadhiansyah (2025) terhadap penggemar grup LUCY setelah konser di Jakarta menunjukkan bahwa banyak penggemar mengalami perasaan sedih dan kosong setelah acara selesai. Mereka kemudian mencari dukungan emosional melalui komunitas online dengan membagikan foto, video, dan cerita konser.

Walaupun terasa menyedihkan, post-concert depression umumnya hanya berlangsung sementara. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah kembali menjalani rutinitas secara perlahan, menjaga pola tidur, serta berbagi pengalaman dengan teman atau komunitas. Fenomena ini menjadi bukti bahwa musik dan konser memiliki pengaruh emosional yang sangat kuat terhadap kehidupan seseorang.

Referensi:

Ramadhiansyah, D. (2025). “I had post-concert depression”: A study of Lucy fans after the Jakarta concert. Jurnal Komunikasi, 19(2), 335–354. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol19.iss2.art9

Parasocial Relationship
Liebers, N., & Schramm, H. (2019). Parasocial interactions and relationships with media characters – An inventory of 60 years of research. Communication Research Trends, 38(2), 4–31.

Dopamine Reward System
Schultz, W. (2016). Dopamine reward prediction-error signalling: A two-component response. Nature Reviews Neuroscience, 17(3), 183–195.

Parasocial Relationship
Giles, D. C. (2017). Parasocial interaction: A review of the literature and a model for future research. Media Psychology Review.

 

Penulis : Dezka Futi Fawnia

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri