Menguap Seharian, Begadang Semalaman: Memahami Revenge Bedtime Procrastination
https://unsplash.com/illustrations/person-in-bed-scrolling-on-phone-late-at-night-TZZlwnX8KOY
Pernah nggak kamu merasa sangat lelah sepanjang hari, tetapi begitu menyentuh kasur, energimu tiba-tiba “terisi ulang” hanya untuk menatap layar ponsel? Niat awal yang mw mengecek message di ranjang, tahu-tahunya menge-scroll berjam-jam. Kita seolah merasa tidak apa apa buat beberapa saat lagi, meski besok pagi tahu akan menyesal.
Alasannya di balik kebiasaan ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu rasa hilang kendali atas waktu. Ketika siang hari kita didikte dengan jadwal orang lain, baik itu dari kampus, kerja, berbagai tuntutan lainnya di lingkungan. Malam hari menjadi satu-satunya ruang dimana kita merasa memiliki waktu penuh untuk menginvestasi dalam diri sendiri. Fenomena ini disebut dengan Revenge Bedtime Procrastination (RBP), dimana seseorang sengaja begadang untuk mengambil waktu pribadi, meskipun mereka tahu hal tersebut akan berdampak negatif pada tidur mereka (Suni, 2025). Penting untuk dipahami bawah perilaku ini muncul bukan tidak lelah, melainkan sedang mengambil waktu kembali untuk mendapatkan me-time yang tidak sempat didapatkan di harinya.
Realitas ini diperkuat oleh data yang cukup mengkhawatirkan mengenai kondisi kesehatan mental sekarang. Berdasarkan Chegg Global Student Survey (2025), kurang tidur merupakan salah satu faktor utama pemicu gangguan kesehatan mental mahasiswa secara global. Penundaan tidur membuat kita memulai hari tanpa energi dan mood yang tidak stabil. Selain itu, riset dari Yonatan (2025) menunjukkan adanya korelasi kuat antara tingkat stres penundaan tidur. Siklus yang berulang ini berdampak pada penurunan performa mahasiswa hingga 60%, yang pada akhirnya berujung pada kondisi burnout.
Mengapa kita perlu menyadari hal ini? Mencuri waktu di malam hari memang memberikan balik, namun dampaknya dapat bersifat jangka panjang. Kebiasaan RBP secara perlahan menurunkan daya konsentrasi, merusak kualitas kerja atau prestasi akademik, serta menyebabkan sleep deprivation yang mempengaruhi kesehatan sistem imun tubuh. Secara psikologis, penundaan tidur yang kronis juga meningkatkan risiko munculnya kecemasan serta rasa tidak puas terhadap diri sendiri karena kita merasa terus-menerus gagal dalam mengelola waktu dan tanggung jawab harian.
Untuk memutus kebiasaan ini, ada beberapa langkah praktis yang bisa mulai diterapkan. Dengan menyisipkan jeda-jeda kecil di tengah kesibukan untuk beristirahat sejenak, kita sebenarnya sedang mencegah penumpukan keinginan akan hiburan yang biasanya meledak secara impulsif di malam hari. Menciptakan batasan yang sehat dengan perangkat digital sebelum tidur juga menjadi kunci penting untuk memberikan ruang bagi otak agar benar-benar beristirahat tanpa gangguan dopamin buatan. Pada akhirnya, perubahan pola pikir menjadi sangat krusial, menyadari bahwa tidur yang berkualitas bukanlah sebuah kehilangan waktu produktif, melainkan bentuk investasi dan penghargaan tertinggi terhadap diri sendiri agar kita mampu kembali memegang kendali penuh atas hidup di hari esok.
Referensi:
Chegg Global Student Survey 2025. (n.d.). Chegg.org. https://www.chegg.org/global-student-survey-2025
Suni, E. (2025). Revenge bedtime procrastination. Sleep Foundation. https://www.sleepfoundation.org/sleep-hygiene/revenge-bedtime-procrastination
Yonatan, A. Z. (2025). Ini dia faktor penyebab gangguan kesehatan mental mahasiswa RI. GoodStats Data. https://data.goodstats.id/statistic/ini-dia-faktor-penyebab-gangguan-kesehatan-mental-mahasiswa-ri-aTdcE
Penulis: Kezia Ho – 2702227151
Editor : Andrea Prita Purnamasari
Comments :