Dalam hubungan sering kali kita menemukan seseorang yang berada dalam hubungan tidak sehat namun tetap dijalankan. Dalam banyak kasus, orang yang kembali ke hubungan yang menyakitkan bukan karena mereka “lemah”, namun karena ada keterikatan emosional yang kuat. Salah satunya adalah fenomena yang dikenal sebagai “Trauma Bonding”, yaitu kondisi ketika rasa sakit dan kasih sayang bercampur jadi satu. Ketika seseorang yang menyakiti kita tiba-tiba berubah menjadi baik, perhatian, atau meminta maaf, momen itu terasa sangat melegakan dan justru memperkuat ikatan emosional yang sudah ada.

Selain itu, ada juga istilah Intermittent Reinforcement, yaitu pola hubungan yang tidak konsisten, kadang baik, kadang menyakitkan yang justru membuat seseorang terus berharap, menurut American Psychological Association (2021), ketidakpastian dapat memperkuat keterikatan emosional. Pola seperti ini membuat otak terus “menunggu” momen baik berikutnya, sehingga hubungan justru terasa lebih sulit untuk dilepaskan. Menariknya, hubungan yang tidak pasti sering kali lebih membuat candu dibanding hubungan yang stabil, karena adanya unsur harapan yang terus muncul. Selain itu, faktor “familiaritas” juga berperan. Tanpa sadar, kita cenderung kembali pada sesuatu yang terasa familiar, meskipun itu menyakitkan. Jika sejak awal kita terbiasa dengan pola hubungan yang tidak sehat, otak bisa menganggap itu sebagai sesuatu yang normal, sehingga hubungan yang sehat justru terasa asing.

Perasaan terhadap diri sendiri atau Self-esteem juga ikut mempengaruhi. Menurut Mark Leary (2017), self-esteem yang rendah membuat individu lebih toleran terhadap perlakuan negatif dalam hubungan. Beberapa orang mungkin merasa bahwa mereka harus bertahan, memperbaiki, atau membuktikan sesuatu dalam hubungan tersebut. Pikiran seperti “mungkin aku yang kurang” atau “kalau aku berubah, dia juga akan berubah” membuat seseorang sulit untuk benar-benar pergi. Ditambah lagi, banyak orang sebenarnya tidak kembali pada sosok pasangan yang ada saat ini, melainkan pada versi pasangan yang mereka harapkan versi yang dulu pernah baik, perhatian, dan membuat mereka merasa dicintai. Harapan inilah yang sering membuat seseorang tetap bertahan, meskipun realitanya tidak selalu sejalan.

Pada akhirnya, kembali ke hubungan yang menyakitkan adalah hasil dari kombinasi emosi, kebiasaan, dan pengalaman masa lalu. Oleh karena itu, proses untuk benar-benar melepaskan tidak cukup hanya dengan menjauh secara fisik, tetapi juga perlu memahami alasan di balik keinginan untuk kembali. Dengan memahami hal ini, seseorang bisa mulai melihat hubungan secara lebih jelas dan perlahan membangun keputusan yang lebih sehat untuk dirinya sendiri.

Referensi:

Casassa, K., Knight, L., & Mengo, C. (2022). Trauma bonding perspectives from service providers and survivors of sex trafficking: A scoping review. Trauma, Violence, & Abuse, 23(3), 969-984.

Leary, Mark R. “Motivational and Emotional Aspects of the Self.” Annual Review of Psychology, vol. 58, no. 1, Jan. 2007, pp. 317–344, https://doi.org/10.1146/annurev.psych.58.110405.085658. Accessed 1 Apr. 2026.

looti, Mohammed. “EMOTIONAL DEPENDENCE.” Encyclopedia of Psychology, 15 Oct. 2025, encyclopedia.arabpsychology.com/emotional-dependence/. Accessed 1 Apr. 2026.

Penulis : Dezka Futi Fawnia

Editor : Andrea Ratri Purnamasari