Kemenangan kami di Leipzig tidak akan terwujud tanpa kehendak dan bimbingan dari Tuhan yang Maha Esa. Oleh sebab itu, puji dan syukur kami panjatkan yang sebesar-besarnya. Karena tanpa rahmat dan karunianya, mungkin kami tidak akan sampai di tahap ini, bahkan hingga meraih juara kedua dalam perlombaan Leipzig 2026. Perlombaan ini bukan hanya soal seberapa keras usaha kami, namun juga mengajarkan kami mengenai pengharapan, kekeluargaan, serta solidaritas tanpa batas.


Selain kepada Tuhan, kami juga banyak-banyak berterima kasih kepada orang tua kami yang selalu mendoakan yang terbaik di setiap langkah yang kami tempuh. Kami percaya campur tangan orang tua kami juga berperan besar dalam kemenangan ini. Selain itu, kami juga banyak berterima kasih kepada kakak pembimbing yang tak kenal lelah selalu membantu kami, memfasilitasi, serta mendukung kami ketika latihan, sebelum lomba, saat lomba, bahkan setelah perlombaan, yaitu Kak Aul dan Miss Lala. Juga kepada para kakak kakak baik kesayangan kami—Kak Kejo, Kak Panji, Ci Yvonne, dan Ci Val— yang selalu mendukung kami dengan memberikan
encourage, pujian, serta semangat tanpa batas bahkan saat di titik terendah kami. Tanpa bantuan mereka, mungkin kami tidak bisa sampai di titik pencapaian ini, so we really grateful to have you guys! Juga, untuk Tim X—Disa, Vio, Shelo—yang menemani kami ketika belajar bersama, latihan bersama, bahkan juga berbagi suka-duka bersama, we’re like family! Terima kasih atas dukungan dan berkat mereka semua, we would like to consider this achievement as yours too!

Perlombaan Leipzig 2026 adalah perlombaan yang menegangkan untuk kami bertiga. Untuk Angelica dan Tanya, ini adalah perlombaan kedua di leipzig dimana juga pernah gagal di perlombaan pertama tahun lalu, dan untuk Cecilia, ini adalah lomba pertama semenjak memasuki tim Cerdas Cermat. Rasanya cukup campur aduk dan sedikit pesimis di awal, terutama karena kami latihan sambil di tengah-tengah Ujian Tengah Semester. Kami harus membagi waktu kami untuk belajar cerdas cermat dan ujian sekaligus, dan jujur saja itu sangat sulit dan menantang bagi kami. Namun, kami pun berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan tersebut dengan belajar dari latihan soal, juga dari study case yang diberikan. Tapi ternyata, semua perjuangan itu membuahkan hasil yang memuaskan! Biarkan kami ceritakan bagaimana pengalaman dan keseruan kami dalam perlombaan.

Di babak penyisihan awal, banyak sekali extraneous variable yang mengganggu, seperti ruangan yang panas, peraturan yang tidak dibacakan, mic yang mendelep, dan lainnya. Hal ini sangat mengganggu kami saat perlombaan hingga tak yakin akan mendapatkan hasil yang sesuai. Kami pun sudah hampir berpasrah ketika dibacakan hasil babak penyisihan karena kami tidak tahu pasti mengenai peraturan yang tidak dibacakan tersebut. Rasanya deg-degan dan takut ketika hasilnya keluar dan ternyata kami berada di urutan teratas dengan score tertinggi! Campur aduk. Senang. Takut. Excited.

Di babak semi final awal, babak True or False. Babak inilah yang paling menegangkan, kami harus kompak, tapi juga harus paham betul materi yang akan dibacakan. Rasanya campur aduk, apalagi karena kami tidak tahu jawaban masing-masing anggota. Hingga score sementara dibacakan, rasanya sedikit lemas karena kami hanya meraih 20 poin. Namun, kami juga berusaha untuk mengejar ketertinggalan itu. Di babak kedua, yaitu Wheel of Fortune, kami lagi-lagi sedikit lemas karena tidak bisa menjawab satupun pertanyaan demi mengamankan nilai yang sudah kami peroleh. Hingga hari pertama selesai, rasanya hampa dan sedikit pesimis untuk lanjut ke babak berikutnya. Namun, lagi-lagi dukungan dari kakak-kakak ikut menyemangati semangat kami untuk hari berikutnya.

Hari kedua berlangsung dengan melanjutkan babak semi final akhir, yakni Neuro Ascension Arena. Games ini adalah games baru untuk kami bertiga, karena konon katanya games ini tidak ada di tahun lalu. Apalagi kami ditunjuk sebagai salah satu tim yang maju pertama untuk bermain, rasanya deg-degan, takut salah, takut kalah. Namun, doa selalu menjadi penyelamat kami. Babak yang dibagi menjadi tiga pos ini menjadi saksi dari tegang dan naik turunnya mood kami bertiga, terutama karena kami tidak banyak menjawab soal benar di pos 1. Kami pun sedikit bimbang untuk lanjut atau tidak ke babak 2. Namun, keputusan kami untuk lanjut ternyata adalah keputusan yang tepat, kami berhasil menjawab beberapa soal benar di pos 2 yang menarik score kami ke atas. Akhir dari babak semifinal awal pun menempatkan kami diurutan ketiga dan lanjut ke ke babak semifinal akhir.

Babak semifinal akhir berlangsung di hari yang sama. Rasanya deg-degan dan excited! Game Pick the Envelope adalah games yang menantang sekaligus seru, di babak wajib kami berhasil menjawab banyak pertanyaan benar, sementara di babak lemparan kami juga berhasil menjawab banyak pertanyaan. Kami sedikit cemas ketika di babak rebutan kami salah menjawab sehingga mendapat pengurangan poin. Menjadikan kami merasa tidak karuan menunggu pengumuman siapa saja yang lolos ke babak Final esok hari. Segala doa kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, perbedaan agama di antara kami menjadikan kami semua solid dan berdoa bersama-sama demi menenangkan hati kami yang gundah dan meminta penyertaan Tuhan. Hingga pada akhirnya, kami berhasil masuk ke babak final dengan score tertinggi! Pelukan dan air mata menjadi saksi betapa senangnya kami menerima kabar tersebut.

Final pun datang, hari ketiga kami berlomba di Leipzig 2026. Rasanya tidak menyangka, like we can’t believe that we are going this far. Rasa syukur dan berdebar sangat memenuhi hati kami. Didampingi oleh Kak Aul, Kak Kejo, dan Ci Val, rasanya seperti antara penuh pressure, tapi juga penuh semangat karena kami sudah berada di tahap ini. Ketika perlombaan berlangsung, Cecilia lah yang mengambil amplop berisikan study case. Rasanya penuh deg-degan ketika membaca soal itu, antara bersyukur dan juga excited karena ternyata soal yang diberikan tidak sesulit yang kami bayangkan. Diskusi yang kami lakukan berlangsung panas, sedikit banyak pertimbangan dalam memilih teori dan lainnya, hingga akhirnya kami memutuskan memakai satu teori dan membuat intervensi hingga akhir. Presentasi pun dilakukan, kelompok kami dipilih pertama. Pertanyaan yang juri lemparkan membuat kami berulang kali berpikir agar tidak blunder dan menjawabnya dengan penuh keyakinan. Meskipun juri mengarahkan kami pada hal yang tidak kami fokuskan, syukurnya kami bisa menghalau itu dengan baik.

Pengumuman juara pun diumumkan hari itu juga. Kami menunggu sekitar 3 jam, penuh rasa takut, penuh rasa berdebar, penuh harapan dan juga cemas. Meskipun sudah pasti kami akan berada di tiga besar, rasanya tetap takut dan berdebar. Sampai akhirnya juara Cerdas Cermat diumumkan dan nama kelompok kami disebut untuk naik ke panggung sebagai juara 2, rasa bangga dan haru tidak bisa kami bendung. Menginjakkan kaki di atas panggung dapat membuat kami melihat ke arah kakak-kakak yang sudah sangat senang dan meneriaki kami di bawah sana sambil memegang bunga. Rasanya terharu, senang, bangga, hati kami merekah bahagia. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan sekali lagi, bahkan berulang kali, terima kasih atas berkat dan lindungan-Nya. 

Begitulah akhir dari pengalaman kami dalam mengikuti kompetisi Leipzig 2026. Penuh rasa syukur, kekeluargaan, dan haru tangis yang tidak bisa kami lontarkan hanya dengan kata-kata belaka. Namun, experience dan pengalaman ini akan kami ingat sebagai salah satu memori berharga yang menghangatkan hati kami semua. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian yang sudah membaca cerita kami sampai sini! See you next time!

 

XOXO, Tim Y