Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital dan media sosial. Melalui berbagai platform komunikasi, interaksi sosial dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat dibandingkan sebelumnya. Nammun menariknya, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa Generasi Z termasuk kelompok usia yang paling rentan mengalami kesepian dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena ini sering digambarkan sebagai kondisi hyperconnected but disconnected, yaitu tetap terhubung secara digital tetapi belum tentu merasa terhubung secara emosional dengan orang lain. 

Dalam psikologi, kesepian tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki teman atau lingkungan sosial. Kesepian lebih berkaitan dengan kualitas hubungan interpersonal yang dirasakan individu. Seseorang dapat aktif berkomunikasi melalui media sosial setiap hari, tetapi tetap merasakan kurangnya kedekatan emosional yang bermakna. Kondisi ini menunjukkan bahwa frekuensi interaksi tidak selalu sejalan dengan perasaan keterhubungan secara psikologis.

Laporan Cigna U.S. Loneliness Index tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar 79% Generasi Z melaporkan pernah merasakan kesepian, angka yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain seperti Millennials (71%) dan Baby Boomers (sekitar 50%). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Generasi Z tumbuh di era yang sangat terhubung secara digital, mereka tetap menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami kesepian. Sejalan dengan temuan tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Jean Twenge dan rekan-rekan pada tahun 2019 juga menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan media digital pada remaja dan dewasa muda berkaitan dengan meningkatnya perasaan kesepian serta menurunnya kesejahteraan psikologis. 

Paparan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk melakukan perbandingan sosial, terutama karena sebagian besar konten yang muncul menampilkan sisi positif kehidupan seseorang. Tanpa disadari, hal ini dapat mempengaruhi individu menilai dirinya sendiri dan relasi sosial yang dimilikinya. Penelitian yang dilakukan oleh Nowland, Necka, dan Cacioppo pada tahun 2018 juga menjelaskan bahwa penggunaan internet dapat membantu memperluas jaringan sosial, tetapi tidak selalu meningkatkan kualitas kedekatan emosional yang diimbangi dengan interaksi bermakna.  

Melalui pemahaman ini, penting bagi individu untuk menyadari bahwa kualitas hubungan sosial memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Mengenali pengalaman kesepian sebagai bagian dari dinamika kehidupan sosial di era digital dapat menjadi langkah awal untuk membangun relasi yang lebih suportif dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Referensi 

Twenge, J. M., et al. (2019). Age, period, and cohort trends in mood disorder indicators and suicide-related outcomes in a nationally representative dataset.

Cigna. (2021). Loneliness Epidemic Report.

Nowland, R., Necka, E., & Cacioppo, J. T. (2018). Loneliness and social internet use: Pathways to reconnection in a digital world.

 

Penulis : Balqis Amira Firdausjie

Editor : Andrea Prita Purnama Ratri