Almost Give Up, But Never Gave In: Cerita Perjuangan Tim dari Titik Terendah ke Juara PsychoVillage 17
Sebelum mulai bercerita tentang pencapaian pertama yang kami raih di tahun ini, izinkan kami terlebih dahulu memanjatkan syukur yang SUPERMEGA BESAR PAKE BANGET kepada Tuhan atas penyertaan dan timing-Nya yang luar biasa indahnya untuk kami. We couldn’t be more grateful dan kami percaya bahwa pencapaian ini tidak akan bisa kami raih tanpa campur tangan Tuhan. Maka dari itu, penghargaan ini kami persembahkan kepada Tuhan dan menjadi bukti bahwa mukjizat Tuhan adalah benar adanya.
Selain kepada Tuhan yang Maha Baik, kami juga ingin mempersembahkan kemenangan ini kepada pihak-pihak yang senantiasa menopang kami dari belakang. Pertama-tama, untuk pembimbing kami yang sangat MUANTAP, Bro Maul dan Miss Lala. Bro Maul dengan kesabaran extra shot-nya udah membimbing dan meladeni kami 24/7/365. Begitu juga Miss Lala dengan prediksi study case-nya yang di luar prediksi BMKG dan tetap mendukung kami di balik layar streaming. Yang kedua, untuk para kakak kesayangan—Kejo, Bro Panji, Sis Yvonne, dan Sis Val—neomu neomu kamsahamnida udah being the best seniors out there!! Terima kasih atas endless support, prayers, positive affirmation, hugs and advice-nya We’ll remember every single one of it in our heart, always. Yang ketiga, untuk uri beloved Tim A—Disa, Vio, Shelo—though we’ve only known each other for a short time, it already feels meaningful :’). Thankyou for being there and celebrate our win, we’ll make sure kita akan melakukan hal yang sama ketika kalian menang! Semua feedback, doa, support, dan segala hal positif dari mereka give us the motivation to keep going menerjang gonjang-ganjingnya tiap babak perlombaan 🥹. Without this fictive kin, kita ngga akan bisa dapat penghargaan ini. So, we would like to consider this achievement as yours too.
Psychovillage (PV) 17 was truly a roller coaster for us. We’re going through a lot honestly, mulai dari nangis-nangis, cemas takut tereliminasi, ngga nafsu makan seharian, belajar seperti orang kesetanan, kesal dan segala macamnya. Kami hanya punya waktu sekitar sebulan untuk berlatih. Tak hanya itu, terdapat perbedaan jenis game pada PV 17 saat ini. Bagi Angelica dan Anya yang pernah lomba di PV 16, hal ini menjadi tantangan besar untuk beradaptasi. Lomba kali ini mendorong kami untuk lebih berpikir keras mengenai strategi dan berdoa untuk keberuntungan. Kami akan menceritakan sedikit tentang pengalaman kami saat berlomba.
Di babak penyisihan, tim kami sudah ketinggalan skor daripada tim-tim lain. Dari babak itu saja, kami sudah lost hope. Kami pasrahkan benar-benar sama Tuhan untuk babak selanjutnya. Di babak selanjutnya pun, kami tidak mendapatkan banyak penambahan karena kami takut mengambil resiko dengan memilih soal dengan bobot hard. Saat babak 1 berakhir, kami yakin skor-nya ada dibawah 5 besar, which means kalau kami tidak bisa mengejar, kami akan langsung pulang di hari itu. Jangan tanya seberapa pesimisnya kami saat itu, kalau tidak ditenangkan oleh Bro Maul, Kejo, Bro Panji, Sis Val dan Tim A, entahlah akan se-down apalagi kami. Tapi, untungnya kami perlahan bisa sedikit-sedikit mengejar ketertinggalan di babak selanjutnya, meskipun tidak banyak. Saat babak 2 bagian 1, kami masih melihat tidak begitu ada kemajuan. Alhasil, kami hopeless dan menangis lagi. Doa kami saat itu bukan tentang supaya menang lagi, melainkan doa supaya kita ikhlas apabila harus tereliminasi.
Saat babak terakhir dalam penyisihan, kami mengerahkan sisa-sisa tenaga kami aja dan pasrah kepada Tuhan. Di babak ini, sistemnya seperti lelang, terasa cepat sekali perputarannya dan semangat setiap tim sangat membuat suasana makin panas dan menegangkan. Kami tracking setiap poin tim lain yang keluar untuk membeli soal dan memikirkan strategi kira-kira harus bagaimana supaya kami dapat keuntungan maksimal dan pengeluaran yang minim. Luckily, kami dapat 3 soal yang berhasil dijawab dengan total penambahan 110 poin. Dua soal yang pertama berbobot 60 poin yang kami peroleh dengan harga yang lumayan, saat membeli kedua soal itu sisa yang kami punya hanya 100 poin dan kami sepenuhnya sadar bahwa sisa ini tidak akan cukup untuk membeli soal dengan bobot hard, sementara kebanyakan tim masih punya tabungan yang banyak. Tapi, memang keajaiban Tuhan luar biasa, saat ada soal hard yang ditunjukkan, kami rasa tahu jawabannya dan langsung mengangkat tangan untuk harga awal 25 poin.
Kagetnya, tidak ada tim lain yang tertarik membeli soal tersebut, seakan-akan soal tersebut tersedia untuk kami. Sebelum menjawab, ada perasaan takut yang besar sekali karena apabila kami salah, maka kami akan kehilangan seluruh poin yang telah kami kumpulkan dan langsung tereliminasi. Dan gong-nya, jawaban yang kami berikan tepat dan tim kami mendapatkan penambahan 50 poin. Setelah babak selesai, tiba-tiba kami di peringkat satu yang lolos di babak penyisihan. Kami bersyukur sekali.
Di hari selanjutnya pada babak semifinal, again, kami di ujung jurang. Permainannya kembali mengandalkan kecepatan tangan dan keberuntungan. Kali ini, tidak ada peningkatan dalam kepercayaan diri kami. Tetap saja pesimis mentok, karena based on our observation, tim lain gesit pol. Kami meyakinkan satu sama lain untuk berdoa saja, minta ke Tuhan extra shot keberuntungan seperti kemarin. Kalau tidak salah ingat, kami dapat empat kali kesempatan menjawab, dan dari keempat soal tersebut, kami dapat pengurangan dan pelanggaran. Walah, makin stres dan cemas lah kami. Kami sampai bertanya-tanya, kenapa begini terus ya alurnya? Seperti tidak diberikan sama sekali kesempatan untuk tenang, mana kami salah di soal urutan belasan yang dimana sebentar lagi babak akan selesai. Apabila kami tidak kembali dapat kesempatan menjawab, kami pasti gugur. Lalu, soal terakhir dibacakan dan kami tidak dapat.
Kalah. Kalah. Kalah.
Hanya itu yang terbesit di otak kami. Terutama bagi Angelica dan Tanya, ini tentu adalah sesuatu yang sangat mengecewakan. Dengan berakhirnya perjalanan kami di babak semifinal, menandakan bahwa kami masih gagal membawa kemenangan bahkan setelah berlatih selama setahun penuh. Kami rasa effort yang kami keluarkan selama latihan terbuang sia-sia, kami rasa sudah merugikan banyak pihak.
Saat kami sedang bengong dan meratapi nasib, tiba-tiba moderator berbicara. Apa yang dibicarakan terdengar seperti secerca kecil harapan yang harus kami usahakan sepenuh tenaga. Moderator bilang, “Karena sebelumnya ada soal yang hangus (karena sebelumnya, tim melanggar peraturan dimana kami mengangkat tangan lebih cepat dari perhitungan moderator), maka akan ada soal yang digantikan!” Kami berdoa, supaya soal tersebut jatuh ke tangan kita.
Kemudian, soal dibacakan. Angelica langsung bersikeras untuk menjawab, tetapi tim skeptis. Kami sangat memahami kekhawatiran satu sama lain, karena apabila kami salah lagi, sudahlah bye bye. Akhirnya saat soal diperebutkan, kami memutuskan untuk tetap mengangkat tangan dan mengambil resiko. Kami merasa sepertinya kami telat mengangkat tangan, dan tim lain yang akan dapat. Namun, disinilah keajaiban Tuhan lagi-lagi terjadi. Moderator kemudian menyebutkan, “Tim B akan mendapatkan kesempatan untuk menjawab soal.” Dag dig dug ser, asli. Saat microphone diserahkan kepada juru bicara–Angelica, ia hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri untuk dapat reassurance dari timnya sendiri. Mereka nampak ragu, ia pun jadi ikut ragu. Sembari menyebutkan nama Tuhan didalam hati, kami menjawab soal tersebut. Di luar dugaan, ternyata jawaban kami tepat. Kami bergetar hebat dan berulang kali mengucapkan syukur yang sangat besar kepada Tuhan. Pada saat babak selesai, kami berkumpul dengan Kejo dan Bro Maul dan menangis bersama. Kami tidak ada yang menyangka sama sekali. Sampai disini, we dare to say that God’s timing always perfect. Namun tentu saja, belum selesai fergusooo.
Kami harus melanjutkan ke babak final, yakni study case. Sebetulnya, ini bukan pertama kali, karena kami sebelumnya sudah latihan bersama Miss Lala dan surprisingly, kasus yang diberikan sangat identik dengan yang kami gunakan saat latihan. Kami lalu diarahkan pada sebuah ruangan untuk mengerjakan powerpoint dan diskusi intervensi. Tahu apa yang terjadi? Jaringannya jelek dan tidak memadai. Panitia awalnya memutuskan 1 device untuk hotspot tiga laptop di waktu yang bersamaan, ditambah mereka discord pada device itu dan disaat yang sama. Jujur, ini menyita waktu yang banyak. Kami pesimis lagi, karena yang tadinya punya 50 menit untuk bekerja jadi tersisa 40 menit karena kendala jaringan. Kami akhirnya memutuskan untuk fokus masing-masing dan tidak berdiskusi. Akibatnya? Kami merasa presentasi kami jelek sekali, meskipun fenomena, teori dan intervensi-nya sudah tertata dan bagus, tapi kami bertiga terdengar sekali tidak briefing, sehingga apa yang kami sampaikan terkesan terpisah-pisah. Setelah selesai presentasi, kami tinggal menunggu pengumuman esok harinya. Dan ternyata, kami meraih juara 1 di perlombaan PsychoVillage 17.
Apakah kamu berhasil menamatkan bacaan ini sampai disini? Mantap kali, wkwkwk.
But truly, terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu untuk membaca kisah perjuangan kami sampai akhir. Semoga apa yang kami tulis disini, bisa menggerakan sesuatu di dalam hati kamu ya! Salam dan sayang dari kami bertiga :3


Comments :