Awalnya, hubungan itu terasa seperti jawaban atas segala kerentanan kita, sebuah ruang dimana kita merasa benar-benar “dilihat”. Namun kehangatan itu ternyata hanya sebuah fasad. Saat Anda mulai menyadari ada yang salah dan mencoba melangkah pergi, ada tarikan kuat dari dalam, yang menyeret Anda kembali dirangkulan pelaku. Sosok yang Anda anggap “baik” itu seolah mustahil untuk dilepas begitu saja. Ini bukan sekadar cinta yang rumit, akan tetapi jebakan psikologis yang mengikat Anda dalam kendali pelaku. 


Sumber: https://unsplash.com/id/foto/hati-merah-dikelilingi-rantai-dengan-latar-belakang-hitam-kp2XnBfQmpE

Banyak orang dengan sepandang mata terheran: “Mengapa korban kekerasan domestik tampak enggan meninggalkan pasangannya, bahkan saat secara terangnya mereka terus disakiti?” Hal ini tidak sesederhana logika, melainkan ada fenomena yang disebut trauma bonding. Menurut psikolog Patrick J. Carnes, trauma bond adalah penyalahgunaan rasa takut (Fear) untuk menjerat seseorang. Ujungnya tidak berakhir dengan rasa sayang yang tulus, tetapi “Weaponized Attachment”.  Pelaku menyalahgunakan kerentanan korban dengan menciptakan ketergantungan emosional yang dalam. 

Trauma bond mekanisme yang bertumbuh melalui siklus destruktif “cycle of abuse”, yang memanipulasi emosi Anda. Dimana fase awal pelaku selalu menghujani korban dengan afeksi berlebih (Love Bombing). Tiba-tiba, afeksi yang tadinya dikira tulus menjadi transaksional. Mulai dari dikritik, direndahkan, dan disalahkan atas setiap konflik yang timbul. Setelah konflik atau kekerasan terjadi, pelaku akan menjadi sosok “baik” dengan permohonan maaf yang intens atau pemberian hadiah. Dilakukannya aksi itu upaya untuk menarik Anda kembali. Namun, tidak pernah ada tindakan nyata untuk berubah hanya untuk berjanji berulang kali yang tidak pernah ditepati. 

Menyadari bahwa Anda atau kenalan yang sedang berada dalam jeratan trauma bond ini adalah langkah pertama menuju pemulihan relasi. Mengidentifikasi trauma bonding seringkali sulit bagi korban karena otak mereka mencoba melindungi dengan cara menyangkal kenyataan misalkan menemukan diri terus menerus memodifikasi perilaku untuk meredakan sifat kekerasan pelaku. Tanpa disadari, korban terjebak dalam pola akomodasi perilaku hanya demi meredakan sifat agresif pelaku. Oleh karena itu, untuk memutus rantai ini perlu mendapatkan dukungan dalam membangun kembali kesadaran diri dan mencari bantuan profesional. 

Referensi: 

Carnes, P. J. (1997). The betrayal bond: Breaking free of exploitive relationships. Health Communications. 

Kippert, A. (2025). What is trauma bonding? DomesticShelters.org

Lewsey, L. (2025). Domestic abusers build ‘trauma bonds’ with victims prior to violence. University of Cambridge.

 

Penulis : 

Kezia Ho – 2702227151

Editor: Andrea Prita Purnama R.