Di era media sosial, banyak orang merasa perlu untuk selalu terhubung, mengikuti tren, dan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial. Dorongan ini sering kali dipicu oleh Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman atau infoormasi yang dimiliki orang lain. Jika terjadi terus-menerus, FOMO dapat memicu kecemasan, kelelahan mental, serta penggunaan media sosial yang kuraang sehat. Di tengah kondisi tersebut, muncul konsep Joy of Missing Out (JOMO) yang menawarkan sudut pandang berbeda dalam menyikapi keterlibatan sosial di dunia digital.

Joy of Missing Out menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa tenang dan cukup saat memilih untuk tidak selalu ikut dalam aktivitas sosial atau arus informasi di media sosial. JOMO bukan berarti menghindari hubungan social, melainkan kemampuan untuk mengenali batas diti dan kebutuhan emosional secara sadar. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan JOMO cenderung memiliki tingkat mindfulness yang lebih baik dan persepsi diri yang lebih positif, sehingga lebih mampu mejaga kesejahteran mental di tengah tekanan sosial digiital.

Dari sudut pandang psikoedukasi, memahaami konsep JOMO menjadi penting karenaa membantu individdu menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti. Paparan media sosial yang berlebihan sering kali mendorong perbandingan sosial yang tidak reaalistis, yang kemudian memengaruhi harga diri dan suasana hati. Dengan memahami JOMO, individu dapat belaajar membedakan antara keterlibatan sosial yang sehat daan keterlibatan yang justru menguras energi psikologis. Penelitian Canonigo et al. (2025) menunjukkan bahwaa JOMO berkaitan dengan rendaahnya kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain serta meningkatnya kenyamanaan dalam menikmati waktu sendiri.

Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa JOMO berhubungan dengan penurunan kecanduan media sosial dan tingkat distress psikologi yang lebih rendah. Individu yang mampu menikmati ketidakterlibatan sosial secara sadar cenderung tidak merasa bersalah saat beristirahat dari media sosia, sehingga lebih mampu mengelola stres dan menjaga keseimbangan anatara kehidupan daring dan luring. Dalam konteks remaja dan dewasa muda, JOMO juga dikaitkan dengan kemampuan coping stres yanng lebih adaptif dibandingkan dengan individu yang didominasi oleh FOMO.

Melalui pendekatan psikoedukasi, JOMO dapat dipahami sebagai keterampilan psikologis yang bisaa dipelajari, bukan sekedaar sifat bawaan. Mengenali tanda-tanda FOMO, memahami kebutuhan diri, serta belajar memberi ruang untuk beristirahat dari tuntutan sosial digital merupakan langkah awal yang sederhana namun bermakna. Dengan demikian, JOMO daapat membantu individu membangun hubungan yang lebih sehat dengan media sosial dan, pada akhirnya, dengan dirinya sendiri.

Referensi

Barry, C. T., Smith, E. E., Murphy, M. B., Halter, B. M., & Briggs, J. (2023). JOMO: Joy of missing out and its association with social media use, self-perception, and mental health. Telematics and Informatics Reports, 9, 100108.

Canonigo, J. D., dela Cruz, J. P., & Bautista, R. (2025). Joy of Missing Out (JOMO): Developing a multi-factorial scale for the FOMO antithesis in emerging adults. American Journal of Human Psychology.

Kantar, A., Yalçın, İ., Kocabıyık, O. O., & Barry, C. T. (2025). Joy of Missing Out (JOMO) and its role in reducing social media addiction: The mediating role of loneliness and psychological distress. Psychological Reports.

Ramadhani, R. R., Faqihuddin, A. A., & Faqihuddin, A. (2025). Coping stress ditinjau dari FoMO dan JoMO pada remaja. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah.

 

Penulis: Balqis Amira Firdausjie

Editor: Andrea Prita Purnama R.