Toxic Masculinity: Kajian Asal Mula dan Dampaknya Secara Psikologis
Apa itu Toxic masculinity?
Toxic masculinity (Maskulinitas toksik) dapat dikatakan sebagai sifat yang muncul ketika ciri-ciri yang kita samakan dengan maskulinitas dibawa menjadi ekstrim (Horton et al., 2025) yang melukai diri sendiri dan orang lain. Toxic masculinity ditandai dengan keinginan untuk kekuatan atau dominasi di atas Perempuan, yang bahkan dapat memanifestasi diri dalam bentuk kekerasan terhadap perempuan (Keener et al., 2025). Istilah Toxic masculinity sendiri telah digunakan dari tahun 1900-an, tetapi sering digunakan dalam era modern terutama dengan meningkatnya popularitas gerakan feminisme di kalangan muda. Para penggerak feminisme menganggap Toxic masculinity sebagai akar dari diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan (Harrington, 2021).
Asal mula gelombang Toxic masculinity?
Toxic masculinity terlahir dari kepercayaan patriarkal bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perannya tertentu dalam masyarakat dan wajib memenuhi kriteria masing-masing. Kepercayaan ini menaruh tekanan emosional pada laki-laki (Prayitno et al., 2024). Norma gender dalam hubungan antara laki-laki dan Perempuan memperkuat tekanan ini, berujung pada perilaku yang berdampak buruk (Gray, 2021). Perilaku ini yang dapat dikatakan sebagai bentuk Toxic masculinity di antara lainnya seperti menginginkan pasangan untuk selalu melayaninya dan selalu membuat semua keputusan dalam hubungan. Pandangan peran gender yang kaku dan tradisional ini yang berujung pada bentuk maskulinitas yang agresif, dan dengan semakin banyak hubungan laki-laki dan perempuan memperkuat dinamika hubungan ini, Toxic masculinity akan terus berkembang (Hall, 2019).
Dalam masa lebih mendekat ini, komunitas-komunitas di media sosial telah menjadi platform dalam menyebarkan Toxic masculinity. Tokoh-tokoh di media sosial yang disebut “manfluencers” turut menyebarkan pesan bahwa femininitas merupakan suatu ancaman terhadap pria, terutama laki-laki remaja dan dewasa awal, membuat mereka memiliki pandangan buruk dan merendahi perempuan. Lelaki-lelaki ini ditemukan lebih mungkin untuk merendahi Perempuan bila memiliki pengalaman buruk dengan Perempuan di masa lalunya (Renström & Bäck, 2024). Hal ini dalam dunia psikologis dapat dikaitkan dengan teori Individual Psychology oleh Adler. Adler percaya bahwa individu yang sehat secara psikologis lebih termotivasi untuk berbuat baik ke sesama manusia (social interest). Sedangkan, individu yang tidak sehat secara psikologis lebih termotivasi untuk mencari keuntungan pribadi di atas orang lain (striving for superiority), sebagai bentuk kompensasi terhadap rasa inferoritas (Feist et al., 2018). Sikap lelaki-lelaki ini yang ingin merendahkan dan mendominasi perempuan dapat berupa bentuk striving for superiority yang sesuai dengan pandangan Adler, di mana keinginan dominasi dipicu oleh rasa inferoritas dari masa lalunya.
Dampak dari Toxic masculinity
Meskipun pemikiran Toxic masculinity berasal dari keinginan laki-laki menjadi lebih kuat, ternyata sikap tersebut justru bersifat detrimental terhadap kesehatan mental laki-laki. Toxic masculinity diketahui dapat berujung pada keterbatasan emosional dalam laki-laki, dan secara tidak langsung menghambat laki-laki dalam mencari bantuan psikologis (Horton et al., 2025; Maher, 2022). Ditemukan juga bahwa Toxic masculinity memiliki hubungan yang positif dengan gejala-gejala depresi, dimediasi oleh penggunaan media sosial (Parent et al., 2019). Laki-laki yang memiliki kepercayaan yang sesuai dengan Toxic masculinity (Kekerasan dan keinginan untuk memperoleh kekuatan di atas Perempuan) memiliki resiko depresi yang lebih tinggi (Iwamoto et al., 2018). Dampak yang lebih nyata dan menyeramkan dari Toxic masculinity adalah mendorong sikap dan perilaku kekerasan seksual terhadap perempuan, dipicu oleh kepercayaan bahwa perempuan lebih bersifat lemah dari laki-laki dan laki-laki harus memiliki kuasa di atasnya (Keener et al., 2025; Shiakou et al., 2025).
Kesimpulan
Toxic masculinity merupakan isu yang sudah lama beredar dalam masyarakat, yang memiliki konsekuensi yang kuat bagi laki-laki maupun perempuan. Isu ini merupakan masalah yang akan terus beredar selama kita sebagai masyarakat tidak sadar terhadap akarnya, dan hanya akan diperkuat oleh orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Oleh karena itu, artikel ini ditulis untuk lebih menerangkan cahaya pada isu ini dan meningkatkan kesadaran umum, untuk dapat dilawan dalam masyarakat.
Referensi:
Feist, Jess., Feist, G. J. ., & Roberts, T.-Ann. (2018). Theories of personality. McGraw-Hill Education.
Gray, H. (2021). The Age of Toxicity: The Influence of Gender Roles and Toxic Masculinity in Harmful Heterosexual Relationship Behaviours. Canadian Journal of Family and Youth / Le Journal Canadien de Famille et de La Jeunesse, 13(3), 41–52. https://doi.org/10.29173/CJFY29621
Hall, C. M. (2019). Merging Efforts: The Intersections of Domestic Violence Intervention, Men, and Masculinities. Men and Masculinities, 22(1), 104–112. https://doi.org/10.1177/1097184X18805565;ISSUE:ISSUE:DOI
Harrington, C. (2021). What is “Toxic Masculinity” and Why Does it Matter? Men and Masculinities, 24(2), 345–352. https://doi.org/10.1177/1097184X20943254;REQUESTEDJOURNAL:JOURNAL:JMMA;WEBSITE:WEBSITE:SAGE;WGROUP:STRING:PUBLICATION
Horton, E. K. J., Schermerhorn, N. E. C., & Hanel, P. H. P. (2025). The impact of toxic masculinity on restrictive emotionality and mental health seeking support. Personality and Individual Differences, 248. https://doi.org/10.1016/j.paid.2025.113459
Iwamoto, D. K., Brady, J., Kaya, A., & Park, A. (2018). Masculinity and Depression: A Longitudinal Investigation of Multidimensional Masculine Norms Among College Men. American Journal of Men’s Health, 12(6), 1873–1881. https://doi.org/10.1177/1557988318785549
Keener, E., Reichert, A., Khalaifa, M., Henry, S., & Wilsoncroft, K. (2025). Power Over Women: Unmasking Toxic Masculinity’s Role in Understanding Sexual Violence in College Athletes. Gender Issues, 42(1). https://doi.org/10.1007/s12147-025-09353-z
Maher, R. (2022). The Correlation Between Toxic Masculinity And Young Men Seeking Mental Health Aid.
Pellegrini, S. (2019, March). Naked Man Statue. Unsplash. https://unsplash.com/photos/naked-man-statue-L3QG_OBluT0
Parent, M. C., Gobble, T. D., & Rochlen, A. (2019). Social media behavior, toxic masculinity, and depression. Psychology of Men and Masculinity, 20(3), 277–287. https://doi.org/10.1037/men0000156
Prayitno, P. H., Norman, M. H., Annisya, A., Sulistyorini, A., & Fibrianto, A. S. (2024). Factor Influencing of Toxic Masculinity on Young and Adult Productivity: A Systematic Review. In Contributions to Management Science: Vol. Part F2529 (pp. 691–700). Springer Science and Business Media Deutschland GmbH. https://doi.org/10.1007/978-3-031-48770-5_55
Renström, E. A., & Bäck, H. (2024). Manfluencers and Young Men’s Misogynistic Attitudes: The Role of Perceived Threats to Men’s Status. Sex Roles, 90(12), 1787–1806. https://doi.org/10.1007/s11199-024-01538-2
Shiakou, M., Alexopoulos, A., Vasou, C., Nicolaou, P., Epaminonda, M., & Neofitides, S. (2025). Adolescent Football Players’ Attitudes in Cyprus Toward Gender Stereotypes, Masculinity, and Gender-Based Violence. Violence Against Women, 32(1), 133–157. https://doi.org/10.1177/10778012241309361
https://unsplash.com/photos/naked-man-statue-L3QG_OBluT0

Comments :