Peran Human Performance Technology dalam Meningkatkan Kinerja di Dunia Profesional
Ketika kinerja tim tidak sesuai harapan, banyak organisasi buru-buru menyimpulkan bahwa karyawannya kurang kompeten atau tidak punya motivasi. Namun, apakah benar bahwa penyebabnya selalu terletak pada individu? Kenyataannya, performa seseorang di tempat kerja sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti fasilitas, prosedur/kebijakan, lingkungan, hingga struktur serta budaya organisasi. Jadi, daripada hanya menyalahkan karyawan, ada baiknya organisasi bercermin pula terhadap sistemnya. Pendekatan inilah yang menjadi inti dari Human Performance Technology (HPT), yaitu berusaha memahami akar masalah kinerja secara menyeluruh agar solusi yang diambil benar-benar efektif.
Human Performance Technology (HPT) dapat didefinisikan sebagai penerapan teknologi kinerja secara sistematis untuk meningkatkan kinerja manusia dan mencapai hasil dalam organisasi. Dengan kata lain, HPT adalah pendekatan sistematis untuk meningkatkan kinerja individu dan organisasi dengan cara menganalisis penyebab masalah kinerja, lalu merancang solusi berupa rancangan intervensi berbasis bukti. HPT memastikan bahwa setiap intervensi yang dilakukan, baik pelatihan, perubahan sistem, atau desain kerja, benar-benar berdampak nyata terhadap peningkatan kinerja dan tujuan organisasi. HPT bertujuan membantu individu dan organisasi mencapai kinerja yang optimal.
Permasalahan kinerja dalam suatu organisasi seringkali belum berhasil menemukan keberadaan akar masalah yang ada secara jelas. Akibatnya, solusi yang diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut pun tidak tepat. Hal ini tentunya akan menghambat produktivitas sumber daya manusia sebagai tenaga kerja di organisasi yang bersangkutan. Maka dari itu, tahapan yang harus dilakukan menurut HPT adalah performance analysis, cause analysis, intervention design, dan implementation menggunakan acuan 3 level yakni organization level, goals level, dan person level.
Performance analysis maksudnya mengidentifikasi kesenjangan antara performa saat ini dengan performa impian yang ingin ditunjukkan. Cause analysis, di mana organsisai perlu mengidentifikasi akar/sumber masalah. Intervention design dirancang guna menentukan solusi terhadap kesenjangan performa dalam organisasi. Implementation, saatnya menerapkan solusi berupa rancangan intervensi yang dibuat sebelumnya. Evaluation dapat menjadi tahapan paling akhir untuk menilai efektivitas hasil dari penerapan solusi yang diterapkan. Sementara itu, ketiga acuan level (organization, goals, and person) memiliki fokusnya masing-masing. Organization level berfokus pada sistem dan lingkungan kerja mencakup informasi, sumber daya, manajemen, insentif, benefit, reward, dan sebagainya. Goals level berfokus pada proses kerja dan ekspektasi yang mencakup ilmu pengetahuan, kemampuan, dan motivasi. Terakhir, person level berfokus pada individu pelaksana meliputi data, peralatan, peran dan tanggung jawab. Semua ini menjadi satu-kesatuan proses yang utuh, berjalan berdampingan, dan saling melengkapi.
Demi tercapainya produktivitas serta performa/kinerja yang optimal, setiap unsur dalam organisasi harus bersinergi. Sinergi ini akan optimal jika didukung oleh tersedianya fasilitas yang memadai, sehingga setiap tim dapat bekerja tanpa hambatan teknis. Selain itu, sistem kerja yang terarah dan jelas memastikan semua alur proses berjalan efisien dan transparan. Kombinasi faktor ini, ditambah dengan lingkungan kerja yang baik dan budaya organisasi yang positif, akan mendorong kolaborasi yang kuat dan komitmen karyawan, yang pada akhirnya menghasilkan output yang maksimal.
Materi yang menarik ini saya pelajari di Psikologi BINUS. Saya melakukan kegiatan sit in dan observasi kelas Human Performance Technology Kelas LA64 pada Rabu, 1 Oktober 2025 pukul 13.20-15.00 WIB dengan Dosen Kak Wella Jayanti, S.Psi., M.A. Kegiatan di kelas dimulai dengan memahami apa itu HPT, kemudian dilanjutkan dengan membahas jawaban dari hasil diskusi kelompok berdasarkan soal studi kasus yang diberikan sebelumnya oleh dosen. Sesi perkuliahan ini berakhir dengan diskusi kelompok yaitu pemberian feedback laporan kelompok lainnya.
Ditulis oleh Riany Kartono (2602113703),
Editor: Melly Preston
Psikologi-BINUS Kemanggisan
Referensi:
Adityantoro, M., Juleha, S., Ponto, O. Z., Gunawan, A. (2025). Cara mengevaluasi kinerja karyawan menggunakan human performance technology. Jurnal Strategi Bisnis dan Keuangan, 6(1). https://ijurnal.com/1/index.php/jsbk
Kusuma, G. W. P. (2023). Human performance technology: Pengertian, manfaat, dan prosesnya. LinovHR. https://www.linovhr.com/human-performance-technology/
Pratiwi. (2017). Human performance technology. Perbanas Institute. https://dosen.perbanas.id/human-performance-technology/
Sugiman, I., Luthfie, M., Taufikkurohman, R. (2020). Analisis kebutuhan inovasi teknologi terhadap peningkatan kinerja pegawai kementerian desa, pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi republik indonesia. Jurnal Ilmu Manajemen, 9(2), 122-134. doi: https://doi.org/10.32502/jimn.v9i2.2507


Comments :