Pernahkah kamu membiarkan kesempatan berlalu hanya karena merasa ingin menunggu sampai dirimu siap? Lalu, apakah kamu pada akhirnya sampai pada momen di mana dirimu merasa sudah benar-benar siap? Seringkali, kita melewatkan kesempatan hanya karena kita merasa kurang percaya diri, meragukan kemampuan yang dimiliki, menilai bahwa diri sendiri belum cukup layak dibandingkan orang lain, pesimis akan gagal, atau bahkan merasa kesempatan tersebut datang di saat yang tidak tepat. Namun, sudahkah kamu bertanya pada dirimu sendiri: Apakah semua kekhawatiranku tadi nyata terjadi ataukah hanya sebatas dalam pikiranku saja?

Pada kenyataannya, terkadang orang lain juga akan menghargai proses kita, karena tidak selalu semua tentang hasil. Hal yang sebenarnya jauh lebih berarti adalah berani mencoba. Andaikata gagal, setidaknya ada sesuatu yang dapat kamu peroleh sebagai bahan pembelajaran agar bisa semakin baik kedepannya. Inilah proses yang sesungguhnya. Dengan berani mencoba, tandanya kamu sudah berhasil menguasai dirimu dengan menaklukkan rasa takut serta segala kekhawatiran yang ada.

Kamu hanya akan merugikan dirimu sendiri jika kamu terus membuang waktu, melewatkan setiap kesempatan yang pernah ada di depan mata, hanya karena kamu terlalu cemas untuk keluar dari zona nyaman. Jadi, jangan takut mengambil tindakan tegas yang akan membuatmu tumbuh dan berkembang di kemudian hari. Bingung itu wajar. Mulailah dengan belajar mencoba banyak hal baru selama itu positif. Faktanya, rasa bingung dan segala kecemasanmu mungkin saja dapat berubah menjadi kompas bagi hidupmu di masa depan.

Kata-kata di atas merupakan kompilasi pesan yang disampaikan oleh Kevin Jonathan (Binusian 2026 – Region Kemanggisan), Jose Adrian (Binusian 2027 – Region Bekasi), dan Atalya Debora (Alumni Psikologi BINUS yang saat ini menjadi School Counselor di Skolla EdTech) dalam acara Alun-Alun Psikologi BINUS, Kolokium Psikologi 2025: Psychology in the Changing World pada Sabtu, 27 September 2025. Acara ini berlangsung di Kijang Function Chamber (KFC), Kampus Kijang, BINUS University.

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai Cognitive Behavioral Therapy, perlu diketahui bahwa pikiran (cognition), perasaan (emotion), dan perilaku (behavior) saling berkaitan dan keberadaannya mempengaruhi satu sama lain. Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dikenal efektif dalam membantu pasien penderita masalah kesehatan mental, termasuk gangguan kecemasan (Kaczkurkin, 2022). CBT membantu individu mengatasi masalah kecemasan dengan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengubah pola pikir yang tidak rasional, serta melatih respon perilaku yang lebih adaptif. Oleh karena itu, peran CBT dinilai berarti dalam proses mengatasi anxiety (kecemasan).

Pada dasarnya, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) berperan membantu penderita anxiety mengidentifikasi pikiran negatif, menguji kebenaran dari pikiran tersebut, dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih positif. Penderita anxiety biasanya memiliki pikiran negatif yang muncul secara otomatis, seperti “Aku pasti gagal” dan sebagainya. Dengan bantuan CBT, segala pikiran negatif nan irasional tersebut perlu dipertanyakan kembali guna direstrukturisasi menjadi lebih realistis. Contohnya, “Apakah ada cara lain untuk melihat situasi ini?” atau, “Apa hal terburuk yang mungkin terjadi dan apakah aku bisa mengatasinya?” Di samping itu, CBT juga membekali penggunanya dengan strategi koping berupa kemampuan pemecahan masalah, melatih rasa welas asih terhadap diri sendiri terutama ketika melakukan kesalahan ataupun berada di bawah tekanan, serta afirmasi diri.

Pada akhirnya, kecemasan bukanlah sesuatu yang harus dijalani sendirian atau dibiarkan menguasai hidup. CBT bukan sekadar teknik, melainkan sebuah perjalanan untuk membekali diri dengan keterampilan menghadapi rasa cemas di masa kini maupun di masa depan. Jadi, jika kecemasan terasa semakin mengganggu, mungkin saatnya memberikan kesempatan bagi CBT untuk menjadi “penolong” yang nyata dalam mengembalikan kendali atas hidupmu. Apakah kamu tertarik atau mungkin sudah menerapkan CBT?

 


Sumber foto dan gambar: Dokumentasi pribadi

Ditulis

Riany Kartono (2602113703)

Editor: Melly Preston

Psikologi-BINUS Kemanggisan

 

Referensi:

Beck, J. S. (2011). Cognitive-behavioral therapy. Clinical textbook of addictive disorders, 491, 474-501.

Cleveland Clinic. (2024). Anxiety Disorders. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9536-anxiety-disorders

Kaczkurkin, A. N., & Foa, E. B. (2015). Cognitive-behavioral therapy for anxiety disorders: An update on the empirical evidence. Dialogues in Clinical Neuroscience, 17(3), 337–346. https://doi.org/10.31887/DCNS.2015.17.3/akaczkurkin