Filter Beauty & Distorsi Citra Tubuh: Mengapa Kita Sulit Menerima Kekurangan?
Cara manusia melihat dan menampilkan diri mereka telah berubah secara signifikan sejak kemajuan teknologi digital. Dengan munculnya fitur filter kecantikan di media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan aplikasi editing wajah, standar kecantikan baru telah muncul: kulit mulus tanpa pori, hidung yang lebih mancung, mata yang lebih besar, dan bentuk wajah yang tirus. Dengan fenomena ini, tren keindahan ideal yang menyimpang dari bentuk fisik manusia yang sebenarnya, membuat ilusi visual tentang bagaimana wajah dan tubuh seharusnya terlihat. Di balik popularitasnya, penggunaan filter kecantikan memiliki efek psikologis yang signifikan. Individu, terutama remaja dan dewasa muda, cenderung membandingkan diri mereka dengan standar yang tidak realistis karena pemaparan citra tubuh yang telah dimanipulasi. Distorsi persepsi diri, atau distorsi gambar tubuh, terjadi ketika jarak antara gambar asli dan yang terfilter semakin besar. Individu merasa tidak menarik dengan penampilan alaminya, tidak pantas tampil apa adanya, atau bahkan merasa malu terhadap kekurangan fisik yang sebenarnya normal. Mengapa hal psikologis itu terjadi?
Mengapa Manusia Sulit Menerima Kekurangan?
Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki harapan secara fundamental untuk diakui oleh orang lain sebagai kebutuhan dasar mental. Kita termotivasi untuk menutupi kekurangan, untuk menambah peluang diterima oleh kelompok manusia lain. Jika diterima oleh kelompok manusia, manusia merasa secure menurut dalam kerangka evolusi manusia. Manusia merasa secure karena mendapatkan sebuah perlindungan, pujian, dukungan, dan berkesempatan untuk bertahan hidup atau survive. Jadi ketika manusia mendapatkan hinaan, penolakan, kritik dan kegagalan menjadi terasa tertekan secara kognitif yang merupakan ancaman terhadap keberadaan sosial. Lalu teori psikologi lainnya adalah Self worth (harga diri) manusia sebagian menekankan dari sisi penampilan dan pencapaian eksternal, jika ada kekurangan dari dua hal tersebut, menjadikan suatu ancaman terhadap diri. Semakin seseorang menilai dirinya mengikuti standar sosial, maka semakin besar dorongan untuk mengurangi ketidaksempurnaannya.
Dampak negatifnya adalah penerimaan diri bukan dari faktor intrinsik atau kesadaran diri tetapi dari keselarasan dengan standar sosial. Di dunia media sosial, seseorang sering melihat orang lain dengan kesempurnaan fisik, prestasi yang luar biasa, dan gaya hidup mewah. Karena sering melihat hal-hal tersebut, akhirnya menimbulkan social comparasion yaitu pemikiran seseorang memaknai dirinya dengan membandingkan apa yang dimiliki atau kondisi kehidupan orang lain. Dengan hal ini, seseorang mengukur kepribadiannya apakah secara sosial lebih unggul, setara, atau tertinggal dari orang lain. Selain itu, social comparison menjadi salah satu faktor tolak ukur tingkat kebahagiaan manusia yang dinilai seberapa manusia tersebut dapat memaknai hidupnya bukan dari sisi ekonomi, kesempurnaan fisik dan harta.
Penulis: Rizky Pramoedya – 2602167492
Editor: Andrea Prita Purnama Ratri
Referensi
Nurul Fitriyah. (2025). 7 Dampak Filter Kecantikan di Media Sosial terhadap Persepsi Diri Menurut Psikologi tentang Citra dan Realita. JawaPos.com. https://www.jawapos.com/kepribadian/015771420/7-dampak-filter-kecantikan-di-media-sosial-terhadap-persepsi-diri-menurut-psikologi-tentang-citra-dan-realita
https://ruanginspirasi.id/7-alasan-mengapa-sulit-menerima-kekurangan-diri-sendiri/
Fiveable. (n.d.). Social Comparison Theory. Diakses dari https://fiveable.me/key-terms/ap-psych-revised/social-comparison-theory Fiveable
https://p16-capcut-va.ibyteimg.com/tos-maliva-i-6rr7idwo9f-us/1730430459724.794~tplv-6rr7idwo9f-image.image
Comments :